Laporan e-Conomy SEA 2025: Adopsi AI di Indonesia Terdepan Laporan e-Conomy SEA 2025: Adopsi AI di Indonesia Terdepan ~ Teknogav.com

Laporan e-Conomy SEA 2025: Adopsi AI di Indonesia Terdepan



Teknogav.com – Transformasi global berbasis Akal Imitasi (AI) di Asia Tenggara bergerak cepat. Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan minat dan adopsi AI yang sangat kuat sehingga mendorong momentum komersial. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua dalam adopsi AI. Sejumlah 80% pengguna di Indonesia berinteraksi dengan alat berbasis AI setiap hari, hanya sedikit di bawah Vietnam yang mencapai 81%. 


Antusiasme terhadap AI juga terlihat dari pertumbuhan pendapatan aplikasi berbasis AI yang naik sampai 127% antara H1-2024 dan H1-2025. Peningkatan ini tertinggi di Asia Tenggara, menjadikan Indonesia sebagai kunci masas depan Asia Tenggara yang digerakkan AI. Semangat transformasi AI juga terlihat dari dunia kerja dengan 79% pengguna aktif mempelajari dan meningkatkan keterampilan terkait AI. Motivasi utama meraka adalah sebagai berikut:

  • meningkatkan efisiensi, menghemat waktu riset dan perbandingan (51%)
  • mendapatkan rekomendasi yang lebih personal (35%)
  • keamanan yang lebih baik (32%)

Sayangnya potensi Indonesia ini tidak diimbangi dengan investasi modal yang masuk ke sekotr AI Indonesia. Jumlah startup AI di Indonesia (45+) dan porsi pendanaan (4% dari total ASEAN-10). Angka tersebut masih jauh di bawah pusat regional seperti Singapura (495+) dan Malaysia (60+).

Baca juga: Empowering Indonesia Report 2025 Ungkap Pentingnya Kedaulatan AI

“Investasi pada konektivitas dalam beberapa tahun terakhir telah membangun fondasi yang kuat bagi Indonesia untuk memimpin transformasi AI. Kami melihat adopsi yang luas di kalangan bisnis, permintaan pasar yang kuat, dan respon positif pengguna yang luar biasa. Semuanya menegaskan bahwa AI bukan sekadar gelombang teknologi baru, tetapi akan mengubah cara bisnis beroperasi dan berkembang. Namun, ekosistem pengembang dan startup lokal perlu tumbuh lebih cepat agar dapat menyeimbangkan permintaan besar dari konsumen dan tenaga kerja,” ucap Veronica Utami, Country Director, Google Indonesia.

Veronica Utami, Country Director, Google Indonesia

Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan hampir mencapai USD100 miliar dalam Gross Merchandise Value (GMV) pada tahun 2025. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, terdapat pertumbuhan 14%. Pencapaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan seluruh sektor utama ekonomi digital Indonesia mencapai dua digit, dengan e-commerce sebagai kontributor GMV nasional terbesar. Nilai sektor e-commerce diperkirakan akan tumbuh lebih dari 14% menjadi USD71 miliar, meningkat pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pesatnya peningkatan tersebut dipicu pertumbuhan video commerce yang volume transaksinya meningkat 90% dari tahun sebelumnya menjadi 2,6 miliar transaksi. Jumlah penjual dan toko online pun meningkat 75% dari tahun sebelumnya menjadi 800 ribu.

“Konvergensi antara konten dan perdagangan kini tak terelakkan: Indonesia menjadi pasar video commerce terbesar dan tumbuh paling cepat di Asia Tenggara. Keberhasilan ini didorong oleh kuatnya adopsi gaya hidup digital oleh konsumen yang juga berdampak langsung pada sektor-sektor lain. Kami melihat pertumbuhan dua digit yang berkelanjutan di berbagai sektor digital utama, membuktikan bahwa momentum Indonesia merata di seluruh ekosistem,” papar Veronica Utami.

Baca juga: Integrasi Berbasis AI Jadi Strategi Edge AI Terbaru Grup Innodisk

Peran Indonesia sebagai kekuatan utama dalam transformasi global diungkapkan oleh Aadarsh Baijal, Parner, Bain, & Company. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara sangat tinggi dengan resiliensi yang kuat. Momentum tersebut tetap bertahan walaupun selama satu dasawarsa terakhir menghadapi periode kehati-hatian investor dan perubahan kondisi makro ekonomi.

Aadarsh Baijal, Parner, Bain, & Company

“Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan akan mendekati GMV senilai US$100 miliar pada tahun 2025. Pencapaian tersebut dipicu pertumbuhan kuat di sektor video commerce, layanan keuangan digital, media digital, dan adopsi AI. Tren ini mencerminkan bagaimana ‘dekade digital’ kawasan ini telah membangun landasan kuat yang mendorong tahap penciptaan nilai (value creation) berikutnya. Peluang terbesar saat ini terletak pada bagaimana bisnis memanfaatkan AI sebagai katalis dampak dan membangun kepercayaan, bersamaan dengan penyesuaian strategi terhadap dinamika kawasan. Seiring dengan konsolidasi pasar dan kembalinya kepercayaan investor, gelombang pertumbuhan berikutnya akan lebih terarah, efisien, dan digerakkan oleh inovasi,” ucap Aadarsh Baijal.

Tren Pertumbuhan Ekonomi Digital Dua Digit

Selain sektor e-commerce, pertumbuhan ekonomi digital juga terjadi di berbagai sektor lain. Media online mengalami pertumbuhan GMV tercepat di Indonesia, dengan proyeksi peningkatan 16% menjadi USD9 miliar di tahun 2025. Sektor tersebut mencakup periklanan digital, gaming, video-on-demand (VOD), dan music-on-demand. Total unduhan mobile game di Indonesia mencapai 40% di Asia Tenggara, dan 35% terhadap pendapatan aplikasi game.

Sumber: Laporan e-Conomy SEA 2025

Kontribusi transportasi on-demand dan layanan pesan-antar makanan tetap stabil pada pertumbuhan. Proyeksinya, peningkatan sektor ini 13% dari tahun ke tahun menjadi USD10 miliar di tahun 2025. Penawaran platform terus diperluas dengan berbagai cara, seperti paket berlangganan, peningkatan frekuensi perjalanan dan iklan untuk memperkuat profitabilitas. Sektor online travel diperkirakan tumbuh 11% mencapai USD9 miliar dalam GMV yang dipicu pulihnya volume perjalanan ke tingkat sebelum pandemi. Pertumbuhan ini juga didukung pemerintah, termasuk perluasan skema visa untuk menarik visatawan dari negara seperti Tiongkok dan India. Skema tersebut berperan dalam meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan di semester pertama tahun 2025.

Pertumbuhan Sektor Jasa Keuangan Digital

Sektor Jasa Keuangan Digital juga terus menunjukkan pertumbuhan mengesankan dengan dua digit tinggi atau tercepat di Asia Tenggara. Gross Transaction Value (GTV) diperkirakan akan meningkat sampai USD538 miliar di tahun 2025. Pertumbuhan pesat ditopang perluasan sistem pembayaran nasional berbasis QRIS yang berkelanjutan. Sistem pembayaran ini berhasil menyatukan pasar dan mendorong adopsi digital secara luas. Pertumbuhan pembiayaan digital juga tercepat di Asia Tenggara, mencapai 29% dan diperkirakan mencapai USD13 miliar pada tahun 2025.

Baca juga: Kini DANA Bisa untuk Bayar QRIS di Jepang  

Kendati mengalami pertumbuhan cepat, nilai buku pinjaman secara absolut masih di bawah Malaysia (USD14 miliar) dan Thailand (USD17 miliar). Kesenjangan tersebut dapat diatasi dengan mengarahkan strategi ke pembiayaan modal kerja bagi Usaha Mikro dan Kecil. Upaya ini dapat dilakukan dengan membuka akses keuangan bagi mitra pedagang dan pengemudi di titik kebutuhan. Fokus ini terlihat di Asia Tenggara dengan rencana bank virtual baru di Thailand dan Malaysia untuk memprioritaskan segmen yang sama.

Tingkat keberhasilan tersebut tergantung dari faktor kepercayaan. Sejumlah 46% konsumen Indonesia masih tidak terlalu percaya pada pemain keuangan digital dibandingkan bank tradisional. Kunci bagi sektor tersebut untuk dapat mengalami pertumbuhan berkelanjutan adalah dengan membangun hubungan yang mendalam dan berorientasi nilai.

“Urgensinya jelas. Indonesia perlu secara strategis mengubah antusiasme pengguna dan momentum pasar menjadi inovasi dalam negeri. Hal ini membutuhkan kolaborasi antara investor, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis untuk membangun infrastruktur, mengembangkan talenta, memastikan adopsi dan integrasi AI yang cerdas, serta memperkuat kepercayaan melalui tata kelola yang baik. Indonesia berada pada posisi yang sangat kuat untuk mengamankan kepemimpinannya di masa depan Asia Tenggara yang digerakkan oleh AI,” tutup Veronica Utami.

Share:

Artikel Terkini