
Teknogav.com – Kini Akal Imitasi (AI) telah berperan sebagai pendamping digital multifaset yang dapat memberi dukungan emosional. Peran AI telah bergeser jauh dari sekadar asisten belanja atau perancanaan. Fenomena ini terutama menonjol di kalangan Generasi Z dan milenial. Pergeseran penggunaan AI yang signifikan selama musim liburan diungkapkan oleh laporan hasil penelitian terkini Kaspersky. Para ahli Kaspersky juga mengingatkan bahwa terlalu mengandalkan AI berisiko mengancam keamanan data.
Baca juga: Pesatnya Adopsi AI di Indonesia Picu Peningkatan Ancaman SiberKaspersky menggelar survei untuk mengetahui pemanfaatan AI dalam memaksimalkan waktu luang dan menyederhanakan persiapan liburan. Penelitian ini juga digelar untuk menekankan potensi ancaman siber yang tak lepas dari penggunaan AI tersebut. Survei digelar pada November 2025 dengan 3000 responden dari 15 negara, termasuk Indonesia.
Selama musim liburan 2025/2026, popularitas AI cukup tinggi. Sejumlah 74% peserta survei menunjukkan rencana mereka untuk memasukkan AI dalam kegiatan liburan. Antusiasme yang kuat terhadap penggunaan AI ditunjukkan oleh generasi muda. Sebanyak 86% responden di rentang usia 18-34 tahun menyatakan niat untuk menggunakan AI selama masa liburan.
Hasil survei menunjukkan pengguna AI berencana menggunakan AI selama liburan. Sejumlah 56% pengguna AI menggunakannya untuk mencari resep, serta 54% menggunakan untuk mencari restoran dan akomodasi. Angka tersebut menunjukkan pentingnya AI dalam menyederhanakan proses riset dan mengurangi komitmen waktu pencarian.
Pemanfaatan AI untuk membuat gagasan juga menuai tanggapan yang bagus. Sejumlah 50% pengguna mencari bantuan AI untuk diskusi mengenai hadiah, cara merayakan atau jurus mendekorasi tema Natal dan Tahun Baru. Jumlah responden yang sama berencana mempercayai AI untuk memberikan gagasan mengenai cara menghabiskan waktu luang.
Baca juga: Kaspersky Soroti Potensi Pemanfaatan AI yang Berbahaya oleh Penjahat Siber
Hasil survei menunjukkan bahwa selama liburan, AI dianggap sebagai asisten belanja. Peran AI sebagai asisten belanja mencakup membantu membuat daftar belanja, menemukan penawaran terbaik dan menganalisis ulasan. Generasi muda menunjukkan minat yang tinggi pada AI sebagai perencana anggaran (50%). Sedangkan, orang yang lebih tua (55 tahun ke atas) kurang antusias untuk membiarkan AI mengelola pengeluaran mereka (31%). Generasi yang lebih tua tersebut lebih memilih untuk menggunakannya untuk mencari resep (59%) dan menghasilkan ide hadiah (41%).
Alat AI modern memungkinkan pembeli menemukan penawaran yang sesuai dengan preferensi individu dan batasan anggaran hanya dengan beberapa klik. Namun, keandalan informasi yang dihasilkan chatbot tetap menjadi perhatian yang signifikan. Sebaiknya periksa seluruh tautan yang diberikan AI sebelum mengkliknya, karena bisa jadi tautan tersebut berisi konten berbahaya atau phishing. Risiko tersebut dapat dikurangi dengan menggunakan solusi keamanan yang memiliki alat deteksi phishing berbasis AI.
Interaksi dengan AI
AI dapat berperan sebagai pendamping virtual yang dapat memberikan dukungan emosional. Selama liburan, 29% pengguna AI global mempertimbangkan untuk berkomunikasi dengan AI ketika tidak merasa bahagia. Persentase pengguna AI di Indonesia yang mencurahkan hatinya ke AI bahkan lebih tinggi, yaitu mencapai 31%. Sejumlah 35% responden kalangan generasi Z dan milenial memiliki minat paling besar pada dukungan berbasis AI dibandingkan segmen usia lain. Generasi lebih tua menunjukkan minat yang sangat terbatas pada bidang AI. Hanya 19% responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berkomunikasi dengan AI ketika mereka kesal.
Baca juga: APAC Cybersecurity Weekend 2024 Bahas Tantangan yang Ditenagai AI
Tips Tetap Bijak Menggunakan AI
Komunikasi dengan layanan AI mungkin terasa personal dan pribadi, tetapi perlu diingat bahwa sebagian besar chatbot dimiliki perusahaan komersial. Ada kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data mereka sendiri, jadi jangan gegabah mencurahkan segala sesuatu tanpa batasan. Berikut ini tips untuk meningkatkan privasi data.
- Tinjau kebijakan privasi alat AI yang digunakan sebelum memulai segala percakapan. Beberapa penyedia AI mungkin menggunakan percakapan emosional yang dilakukan untuk menyimpulkan informasi mengenai pengguna. Informasi tersebut dapat digunakan untuk iklan bertarget atau bahkan dijual ke perusahaan pemasaran pihak ketiga. Periksa opsi untuk tidak menggunakan obrolan untuk tujuan seperti pelatihan model atau pemasaran demi mengurangi jumlah data yang dikumpulkan.
- Hindari berbagi informasi yang sangat pribadi chatbot AI seperti mengungkapkan identitas atau keuangan. Perlakukan pesan layaknya unggahan media sosial pubik, jangan pernah menganggap adanya kerahasiaan mutlak.
- Gunakan layanan AI dari perusahaan terkemuka dengan rekam jejak privasi dan keamanan yang kuat. Hindari menggunakan bot anonim atau tidak dikenal yang mungkin dirancang untuk mengumpulkan data. Bot AI berbahaya atau palsu mungkin mencoba mengekstrak informasi pribadi untuk melakukan penipuan, phishing, atau pemerasan. Lindungi data dengan menggunakan solusi keamanan yang mencegah mengklik tautan yang tidak dapat diandalkan.
“Seiring pesatnya perkembangan model LLM, potensi mereka untuk terlibat dalam dialog bermakna dengan pengguna juga meningkat. Namun, penting untuk diingat bahwa mereka belajar memberikan jawaban dari data, yang sebagian besar bersumber dari Internet, artinya mereka rentan untuk mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan. Sangat disarankan untuk merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba untuk menghindari berbagi informasi secara berlebihan,” ucap Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.






