.jpg)
Teknogav.com - Tren penggunaan Akal Imitasi (AI) yang begitu pesat dalam alur kerja sehari-hari ternyata juga membuka celah ancaman. Hasil survei Kaspersky menunjukkan bahwa 78% profesional di kawasan Asia Pasifik (APAC) sudah menggunakan AI setidaknya setiap minggu. Angka tersebut lebih tinggi dari 72% secara global. Hal tersebut menekankan pesatnya adopsi AI yang luas di APAC dalam alur kerja sehari-hari.
Peningkatan adopsi AI yang pesat di APAC didukung oleh konsumen yang sangat terhubung dan penetrasi yang masif. Selain itu, juga banyaknya populasi muda yang melek teknologi mengintegrasikan AI dalam pengalaman sehari-hari, bahkan sebelum diluncurkan perusahaan secara resmi. Hal ini didukung investasi yang kuat, strategi yang dipimpin CEO dan perkembangan pesat pasar digital. Fenomena tersebut menjadikan APAC sebagai tempat pembuktian AI paling dinamis di dunia. APAC menjadi tempat lahirnya perusahaan “AI Frontier” dan munculnya transformasi perusahaan pertama kali.
Baca juga: Jasa Pembuatan Deepfake Marak di Darknet, Ini Cara Kerjanya
Dampak percepatan adopsi AI di APAC jauh melampaui produktivitas perusahaan dan pengalaman pelanggan. Posisi APAC di bidang inovasi AI menjadikannya model sekaligus peringatan bagi para pemimpin keamanan siber. AI sebagai teknologi yang mendorong transformasi bisnis juga mendefinisikan ulang cara pembuatan, otomatisasi dan penyebaran ancaman siber.
“Asia Pasifik menetapkan laju global untuk adopsi AI, dengan konsumen dan perusahaan yang berkembang lebih cepat daripada wilayah lain mana pun. Momentum ini menciptakan peluang yang luar biasa, tetapi juga mendefinisikan ulang bagaimana ancaman siber muncul dan berkembang. Saat bisnis menavigasi pergeseran ini, mereka dapat mengandalkan keahlian Kaspersky selama lebih dari 20 tahun untuk memperkuat pertahanan mereka," ucap Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.
Para pakar Kaspersky menguraikan cara perkembangan AI membentuk kembali lanskap keamanan siber tahun 2026, baik bagi pengguna individu maupun bisnis. Kemampuan pertahanan dipengaruhi Large Language Model (LLM) yang sekaligus memperluas peluang bagi pelaku ancaman.
8 Prediksi Cara AI Menjadi Ancaman Siber
Berikut ini adalah delapan cara AI dapat menjadi ancaman siber yang diprediksi Kaspersky:
- Deepfake menjadi teknologi arus utama, dan kesadaran akan terus meningkat. Perusahaan kian sering membahas risiko konten sintetis dan melatih karyawan untuk mengurangi kemungkinan menjadi korban. Seiring bertambahnya volume deepfake, format kemunculannya pun makin beragam. Peningkatan kesadaran pun tak hanya muncul di dalam organisasi, tetapi juga di kalangan pengguna biasa. Pengguna akhir pun makin sering menemukan konten palsu dan lebih memahami sifat ancaman tersebut. Akibatnya, deepfake menjadi unsur tetap dalam agenda keamanan. Pendekatan sistematis pun dibutuhkan untuk pelatihan dan kebijakan internal.
- Audio yang lebih baik dan berkurangnya hambatan masuk akan meningkatkan kualitas deepfake. Saat ini kualitas visual deepfake sudah tinggi, tetapi kualitas audio realistis tetap menjadi area utama untuk pertumbuhan di masa depan. Seiring dengan hal ini, alat pembuatan konten pun lebih mudah digunakan. Orang yang tidak memiliki keahlian pun kini dapat membuat deepfake berkualitas menengah hanya dalam beberapa klik. Akibatnya, kualitas rata-rata pun terus meningkat, kemudahan membuat konten ini lebih mudah diakses lebih luas oleh banyak orang. Kemampuan ini tentunya akan terus dimanfaatkan penjahat siber.
- Upaya pengembangan sistem yang andal untuk memberi label pada konten yang dihasilkan AI akan terus berlanjut. Saat ini, masih belum ada kriteria terpadu untuk mengidentifikasi konten sintetis secara andal, label mudah dilewati atau dihapus, terutama saat bekerja dengan model sumber terbuka. Alasan ini akan memunculkan inisiatif teknis dan regulasi baru yang bertujuan mengatasi masalah tersebut.
- Pembuatan deepfake secara online akan terus berkembang, tetapi tetap menjadi alat untuk pengguna tingkat lajut. Teknologi mengganti wajah dan suara secara real-time kian meningkat, tetapi pengaturannya masih membutuhkan kecakapan teknis yang lebih canggih. Adopsi secara luas belum mungkin terjadi, tetapi risiko dalam skenario yang menjadi sasaran akan meningkat. Serangan tersebut akan lebih meyakikan dengan meningkatnya realisme dan kemampuan untuk memanipulasi video melalui kamera virtual.
- Model sumber terbuka akan mendekati model tertutup dalam banyak tugas terkait keamanan siber. Hal ini akan membuka lebih banyak peluang untuk disalahgunakan. Model tertutup masih menawarkan mekanisme pengendalian dan perlindungan yang lebih ketat, sehingga membatasi penyalahgunaan. Namun, sistem sumber terbuka dapat mengejar ketertinggalan dalam fungsionalitas dengan cepat. Peredarannya pun tidak memiliki batasan yang sepandang. Hal ini mengaburkan perbedaan antara model berpemilik dan model sumber terbuka, yang keduanya bisa dipakai untuk tujuan berbahaya secara efisien.
- Batasan antara konten yang dihasilkan AI secara resmi dan palsu kian samar. AI sudah bisa menghasilkan email penipuan yang dibuat dengan baik, identitas visual yang meyakinkan dan halaman phishing berkualitas tinggi. Jenama besar pun mengadopsi materi sintetis dalam periklanan, sehingga konten yang dihasilkan AI menjadi tak asing dan terlihat normal secara visual. Akibatnya, makin sulit untuk membedakan yang asli dan yang palsu, baik bagi pengguna maupun sistem deteksi otomatis.
Baca juga: Kaspersky Paparkan Tips Kenali Deepfake dan Cara Aman Mengantisipasinya
- AI akan menjadi alat lintas rantai dalam serangan siber dan digunakan di sebagian besar tahapan rantai kejahatan siber. Pelaku ancaman siber sudah menggunakan LLM untuk menulis kode, membangun infrastruktur, dan mengotomatiskan tugas operasional. Kemajuan lebih lanjut akan memperkuat tren ini: AI akan kian mendukung berbagai tahapan serangan, mulai dari persiapan dan komunikasi hingga merakit komponen berbahaya, menyelidiki kerentanan, dan menyebarkan alat. Penyerang juga akan berupaya menyembunyikan tanda-tanda keterlibatan AI, sehingga operasi tersebut lebih sulit dianalisis.
- AI akan menjadi alat yang lebih umum dalam analisis keamanan dan memengaruhi cara kerja tim SOC. Sistem berbasis agen akan mampu memindai infrastruktur secara terus-menerus, mengidentifikasi kerentanan, dan mengumpulkan informasi kontekstual untuk investigasi, mengurangi jumlah pekerjaan rutin manual. Akibatnya, para spesialis akan beralih dari pencarian data secara manual ke pengambilan keputusan berdasarkan konteks yang telah disiapkan. Secara paralel, alat keamanan akan beralih ke antarmuka bahasa alami, memungkinkan perintah otomatis alih-alih pertanyaan teknis yang kompleks.
"AI membentuk kembali keamanan siber dari kedua sisi. Penyerang menggunakannya untuk mengautomasi serangan, mengeksploitasi kerentanan, dan membuat konten palsu yang sangat meyakinkan. Pada saat yang sama, pihak pertahanan menerapkan AI untuk memindai sistem, mendeteksi ancaman, dan membuat keputusan yang lebih cepat dan cerdas. AI adalah alat yang ampuh untuk serangan dan pertahanan, dan kemampuan untuk mengelolanya dengan aman pasti akan memengaruhi masa depan keamanan siber," ucap Vladislav Tushkanov, Manajer Grup Pengembangan Riset di Kaspersky.
Tips Tetap Aman dalam Transformasi Berbasis AI
Kaspersky memberikan beberapa tips berikut ini bagi organisasi di Asia Pasifik agar senantiasai terlindungi transformasi berbasis AI:
- Selalu perbarui perangkat lunak di semua perangkat yang Anda gunakan untuk mencegah penyerang menyusup ke jaringan Anda dengan mengeksploitasi kerentanan
- Jangan mengekspos layanan desktop jarak jauh (seperti RDP) ke jaringan publik kecuali benar-benar diperlukan. Selalu gunakan kata sandi yang kuat untuk layanan tersebut
- Gunakan solusi keamanan yang canggih untuk visibilitas komprehensif di seluruh infrastruktur perusahaan. Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah Kaspersky Next yang memburu, mengutamakan, menyelidiki, serta menetralisir ancaman kompleks dan serangan menyerupai APT dengan cepat
- Gunakan informasi Intelijen Ancaman terbaru untuk tetap mengetahui TTP (Taktik, Teknik, dan Prosedur) aktual yang digunakan penjahat siber.
- Cadangkan data perusahaan secara teratur, serta isolasi cadangan tersebut dari jaringan. Pastikan cadangan tersebut dapat diakses dengan cepat ketika diperlukan dalam keadaan darurat
Demikianlah beberapa tips dari Kaspersky agar senantiasa terlindungi saat transformasi berbasis AI berlangsung.






