Film Esok Tanpa Ibu Padukan Unsur Lingkungan, Kemanusiaan dan Teknologi Film Esok Tanpa Ibu Padukan Unsur Lingkungan, Kemanusiaan dan Teknologi ~ Teknogav.com

Film Esok Tanpa Ibu Padukan Unsur Lingkungan, Kemanusiaan dan Teknologi

Teknogav.com – Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) memadukan unsur lingkungan, teknologi dan kemanusiaan dalam kisah keluarga yang hangat. Kisah dalam fim ini menekankan pentingnya peran seorang ibu dalam kehidupan keluarga yang tak bisa tergantikan oleh teknologi. Film ini merupakan kolaborasi antar-negara dan akan ditayangkan di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026.

Keluarga pasangan Hendi (Ringgo Agus Rahman) dan Laras (Dian Sastrowardoyo) yang memiliki anak remaja, Rama (Ali Fikry) menjadi pusat cerita. Pasangan tersebut merupakan pendiri perusahaan yang bergerak di bidang lingkungan yaitu Esok. Mereka juga berusaha menanamkan pentingnya kelestarian lingkungan pada anak remajanya, Rama yang biasa dipanggil Cimot.

Susahnya menemukan lahan yang masih asri di Jakarta membuat mereka pindah ke suatu tempat bernama Cendana. Kendati tinggal di lingkungan yang masih alami, rumah mereka dimodernisasi berbagai perangkat yang dilengkapi teknologi canggih Akal Imitasi (AI). 

Baca juga: Film ‘Other’ Ungkap Misteri Rumah Berpengamanan Canggih dari Rekaman Video  

Kepindahan keluarga tersebut dari Jakarta ke Cendana membuat Cimot bersedih karena harus berpisah dengan teman-temannya. Ibunya pun menjadi tempatnya mencurahkan hati (curhat), sedangkan dirinya tidak terlalu dekat dengan bapaknya. 

Di tempat baru tersebut, Cimot juga memiliki dua sahabat baru, yaitu Zyla (Aisha Nurra Datau) dan Robert (Bima Sena). Zyla adalah sosok yang memiliki keahlian di bidang teknologi, termasuk dalam AI dan peretasan. Sedangkan, Robert merupakan teman satu kelas Cimot di sekolah yang justru memiliki kekhawatiran terhadap kehadiran AI di kehidupan.

Ketika terjadi musibah pada keluarga kecil tersebut, Cimot meminta bantuan Zyla untuk bisa membantu memulihkan kesadaran ibunya dari koma. Namun, justru program I-Bu yang diberikan Zyla dijadikan Cimot sebagai pengganti tempat curhat. Tanpa disadari peran AI yang dikemas sebagai Laras justru mengarahkan Cimot pada hal-hal yang sebenarnya tidak diinginkan Laras. Fokus program AI tersebut untuk membuat Cimot bahagia, bukan memberikan yang terbaik bagi Cimot.

Kemampuan seni peran Ali Fikry dalam film Esok Tanpa Ibu dapat mengimbangi peran dua akor senior yang memerankan orang tuanya. Ali dipandang mampu menampilkan berbagai lapisan emosi kedukaan yang dihadapi karakter Cimot. Menurut Ali, film ini menjadi refleksi bagi diri sendiri, bukan hanya mengenai keluarga, tetapi juga mengenai diri sendiri.

Ali Fikry, pemeran Rama/Cimot dalam film Esok Tanpa Ibu

“Apa yang aku eksplorasi di sini adalah remaja yang mencari tahu, ketika dia tiba-tiba kehilangan sosok Ibu, yang setiap harinya selalu ada buat dia. i-BU yang digunakan Cimot di film ini menjadi coping mechanism-nya, tempat yang nyaman untuk menggantikan peran Ibu. Tapi dia juga percaya, i-BU tidak bisa menggantikan Ibunya, hanya jadi sosok baru baginya,” ucap Ali Fikry.

Zyla merancang i-BU, sebagai AI yang dipersonalisasi untuk Cimot, memahami persaannya dan menemani mengobrol. Kehadiran AI tersebut berupaya menggantikan peran seorang ibu untuk mengasihi dan memberikan empati bagi anak remaja yang kehilangan ibunya.

Aisha Nurra Datau, pemeran Zyla dalam film Esok Tanpa Ibu

Menurut Aisha Nurra Datau, Zyla merupakan karakter yang tidak terlalu punya support system keluarga utuh. Namun saat teknologi sudah digunakan berlebihan, dia pun sadar dan mulai khawatir. Sementara itu, Bima Sena mengungkapkan bahwa karakter Robert konyol, tetapi tidak dibuat-buat. Ketakuran Robert pada AI juga membuatnya makin konyol.

Bima Sena, pemeran Robert dalam film Esok Tanpa Ibu

Baca juga: Trailer dan Poster Film “Esok Tanpa Ibu” Hadirkan AI Futuristik  

Kisah personal perasaan kehilangan dan duka anak remaja dan suami yang kehilangan sosok ibu dan istri ditampilkan dalam film ini. Sang ayah berusaha untuk menjalin hubungan yang dekat dengan anaknya, tetapi kecanggungan membuat mereka makin berjarak. Sebelumnya, situasi tersebut selalu berusaha direkatkan oleh kehadiran sang ibu.

“Film keluarga ini merupakan warning bahwa ini dapat terjadi di diri, bisa kehilangan koneksi bila benar-benar tidak mau memahami. Kehilangan koneksi bisa dialami layaknya bapak-bapak yang punya ego tinggi. Sebaiknya bapak-bapak juga jangan terlalu percaya menyerahkan semua pada istri, tetapi juga harus ikut terlibat dengan anak,” ucap Ringgo Agus Rahman.

dari kiri ke kanan: Ringgo Agus Rahman, pemeran Bapak; Diva, penulis skenario; Dian Sastrowardoyo, pemeran Ibu dan produser; Gina S. Noer, penulis skenario

Baca juga: Film “Panggil Aku Ayah” Gambarkan Ketulusan Tidak Perlu Ikatan Darah  

Naskah film ini ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya dan Melarissa Sjarief. Perpaduan AI dan lingkungan diungkapkan oleh Gina S. Noer, menurutnya, lingkungan sangat mempengaruhi dunia. Hal tersebut terpikirkan saat berbicara mengenai duka, ibu dan ibu bumi. Ketiga hal tersebut menurutnya memiliki keterkaitan satu sama lain.

“Makin menghargai ibu bumi maka akan menghargai perempuan, dengan menghargai perempuan-perempuan maka akan menghargai lingkungan. Banyak pencemaran dapat dicegah oleh para aktivis perempuan. Saya percaya bahwa akar kemanusiaan lahir dari ibu bumi,” ucap Gina.

Gina juga mengungkapkan bahwa hara & Nostress juga mebahas hal tersebut dalam lagu Raih Tanahmu. Menurut Gina, kemajuan yang dilewati juga harus meraih tanah kita. Pada film ini juga menampilkan bunga yang tumbuh di tanah kering. Esensi adegan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan selalu mencari jalan jika percaya pada harapan dan cinta yang besar seperti Ibu Laras. 

Selain itu, Gina juga mengungkapkan ada banyak jenis duka. Duka secara fisik dan batin dapt terjadi ketika orang yang disayang menua dan meninggal. Namun, ada juga duka di mana anak yang disayang mulai menjauh saat besar. Seiring kemandirian seorang anak, orang tua harus dapat melepasnya, menjadi orang tua juga merupakan proses pendewasaaan.

Film ini diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media. Dian Sastrowardoyo turut memproduseri film ini bersama Shanty Harmayn. Fim didukung juga oleh Singapore Film Commission (SFC) dan Infocomm Media Developent Authority (IMDA). 

“BASE Entertainment selalu berupaya menghadirkan kebaruan dalam cerita yang kami sajikan. Melalui film terbaru Esok Tanpa Ibu (Mothernet), kami ingin membicarakan duka dan relasi keluarga dengan bahasa yang relevan dengan hari ini—dalam konteks teknologi AI yang kini sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Kami berharap kisah yang sangat personal ini dapat beresonansi secara universal dengan penontonnya,” ucap Shanty Harmayn, produser film Esok Tanpa Ibu.

Shanty juga mengungkapkan bahwa film ini juga sangat kolaboratif melibatkan beberapa negara. Pengembangan skrip dilakukan oleh Wahana Creator dari Indonesia bersama dengan BASE Entertainment sejak tahun 2020. Hal ini membutuhkan ide yang menarik dan kompleks. Kolaborasi ini pun mendapat dukungan dari Singapura dan sutradara dari Malaysia.

“Mudah-mudahan film ini dapat menjadi surat cinta bagi keluarga di Indonesia,” tutur Shanty.

Kolaborasi dalam menggarap film ini pun disambut antusias oleh Ho Wi-ding yang menyutradarai film Esok Tanpa Ibu. Kendati sudah lama berpengalaman sebagai sutradara, tetapi menurutnya saat menggarap film ini seperti baru membuat film karena segalanya terasa baru. Beliau juga mengungkapkan bahwa penggarapan film ini tidak menggunakan AI, tetapi sepenuhnya diperankan manusia.

“Saya berharap film ini bisa membuat berpikir mengenai segala hal yang dilihat dalam film. Semoga penonton bisa belajardari film ini dan menerapkannya di dunia nyata,” ucap Ho Wi-ding.
Dian Sastrowardoyo mengungkapkan bahwa film Esok Tanpa Ibu merupakan proyek pertama dari Beacon Film yang didirikannya bersama sepupunya. Menurutnya, film ini menampilkan hal-hal mendasar mengenai hubungan manusia di tengah perkembangan pesat teknologi. Dian juga berharap sosok Laras dalam film ini dapat mewakili ibu-ibu di Indonesia.

“Ini adalah film keluarga yang mempertanyakan tentang autentisitas koneksi manusia di dunia yang sangat modern, di saat teknologi sudah sangat dekat seperti sekarang. Ketika teknologi hadir di ruang paling privat. Bagaimana manusia modern, yang beda generasi antara anak dan Bapak menghadapi duka, dengan atau tanpa bantuan teknologi. Semota ibu-ibu di rumah dapat menginspirasi suami masing-masing agar mau mengambil peran lebih banyak dalam bonding antar-anggota keluarga,” ucap Dian Sastrowardoyo.

Film Esok Tanpa Ibu juga didukung Samsung Galaxy dan Telkomsel melalui kolaborasi promosi dengan pendekatan Advertorial Sponsorship. Kolaborasi ini memanfaatkan kekayaan cerita (IP Utilization) dari film Esok Tanpa Ibu (Mothernet). Adanya kolaborasi tersebut memungkinkan aktivasi yang lebih kreatif, relevan, dan terintegrasi dengan karakter serta dunia cerita dalam film.

Share:

Artikel Terkini