
Teknogav.com – Amartha yang berdiri sejak tahun 2010, kini bertransformasi menjadi Amartha Financial yang menyediakan layanan keuangan digital komprehensif bagi masyarakat daerah. Transformasi ini menjadi momentum bagi Amartha Financial untuk meluncurkan fitur uang elektronik atau dompet digital melalui aplikasi Amartha Fin. Peluncuran ini dilakukan setelah Amartha Financial (PT Amartha Financial Group beserta anak perusahaannya) mendapatkan izin uang elektronik dari Bank Indonesia.
Kini, masyarakat akar rumput pengguna AmarthaFin di lebih dari 50.000 desa dapat menggunakan layanan keuangan digital lebih mudah dan cepat. Keberhasilan Amartha mendukung lebih dari 3,3 juta UMKM di Indonesia membuktikan teknologi digital tepat guna dapat menggerakkan ekonomi pedesaan. Hal tersebut melandasi lahirnya Amartha Financial.
Potensi ekonomi daerah dan masyarakat perdesaan sangat besar, namun belum terealisasi secara optimal. Melalui Amartha Financial, kami kini menghadirkan layanan keuangan digital yang lebih lengkap, yang khusus dirancang untuk kebutuhan masyarakat perdesaan guna mendorong inklusi keuangan serta memicu pertumbuhan ekonomi daerah. Semua layanan Amartha Financial dapat diakses melalui aplikasi AmarthaFin, yang memudahkan pengguna untuk melakukan pembayaran, investasi, hingga akses permodalan.
"Ekonomi akar rumput di pelosok masih memiliki tantantan untuk berkembang, terutama ekonomi di luar Jawa. Akses permodalan juga telah dilakukan oleh berbagai pihak, dan Amartha melihat potensi ini masih besar. Jika kita memberi akses permodalan, terutama untuk UMKM yang dibangun ibu-ibu, maka dampaknya tak hanya untuk perekonomian, tetapi juga untuk kesejahteraan keluarga dan anak. Potensi ini makin besar dengan Amartha memberikan layanan yang lebih komprehensif. Tak hanya memberikan permodalan, Amartha juga memahami profil risiko dan tantangan UMKM di daerah-daerah agar bisa berdaya saing. Kita bisa menjangkau ke berbagai pelosok desa," ucap Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha yang biasa disapa Taufan.
![]() |
| Andi Taufan Garuda Putra, Founder & CEO Amartha |
Taufan memaparkan bahwa Amartha memiliki lebih dari 100.000 mitra dan tiga jutaan UMKM di berbagai desa. Karakter UMKM di berbagai daerah ini dipahami agar dapat makin tumbuh. Amartha berusaha memberikan akses permodalan yang tak hanya jangka pendek, tetapi juga berkesinambungan. Upaya ini dilakukan untuk memberikan sumbangsih ke ekonomi akar rumput. Hal ini sesuai dengan tujuan Amartha untuk menyediakan layanan keuangan yang komprehensif.
Baca juga: Terus Diversifikasi Bisnis, Amartha Mudahkan Pembayaran Zakat dengan AmarthaFin
“Potensi ekonomi daerah dan masyarakat perdesaan sangat besar, tetapi belum terealisasi secara optimal. Kini kami menghadirkan layanan keuangan digital yang lebih lengkap melalui Amartha Financial. Layanan ini dirancang khusus untuk kebutuhan masyarakat perdesaan guna mendorong inklusi keuangan serta memicu pertumbuhan ekonomi daerah. Semua layanan Amartha Financial dapat diakses melalui aplikasi AmarthaFin, yang memudahkan pengguna untuk melakukan pembayaran, investasi, hingga akses permodalan,” lanjut Taufan.
Menurut Taufan, kehadiran Amartha Financial merupakan upaya dan komitmen untuk memajukan segmen akar rumput secara inklusif dan berkelanjutan. Harapannya, teknologi Amartha Financial makin memperluas peluang mengakses ekonomi digital modern bagi jutaan masyarakat desa. Akses tersebut termasuk untuk terhubung dengan investor nasional dan global. Kehadiran Amartha Financial diharapkan dapat mewujudkan realisasi potensi, transformasi dan kontribusi lebih untuk kemajuan bersama.
Baca juga: Beasiswa Amartha Cetak Perempuan Pemimpin Muda yang Peka Isu Komunitas
Layanan yang disediakan AmarthaFin mencakup pendanaan produktif untuk UMKM, uang elektronik atau dompet digital dan multifinance untuk UMKM. Seluruh entitas tersebut berizin dan diawasi regulator masing-masing. Amartha Financial juga memfasilitasi penyaluran zakat, keagenan, PPOB dan lain-lain yang dilakukan bersama mitra strategis. Selain itu, tersedia juga fitur bagi investor untuk mendanai UMKM di daerah dengan imbal hasil sepadan. Fitur tersebut dapat menjembatani masyarakat perdesaan dengan investor nasional dan global.
“Amartha membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis yang sustainable dapat ditempuh dengan integritas, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ucap Rudiantara, Komisaris Utama Amartha Financial.
![]() |
| Rudiantara, Komisaris Utama Amartha Financial |
Menurut Rudiantara, wanita pengusaha mikro butuh pendanaan. Kebutuhan pendanaan pada tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp4.300 triliun. Pendanaan yang diperoleh tahun 2023 dari semua institusi baru mencapai Rp1.900 triliun, sehingga ada kesenjangan sebesar Rp2.400 triliun. Inovasi yang dikembangkan Amartha Financial merupakan kunci percepatan inklusi keuangan di daerah. Perpaduan tata kelola yang baik dengan inovasi merupakan kunci keberhasilan Amartha untuk terus berkembang. Amartha telah menjangkau UMKM di pelosok Jawa, Bali Nusra, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra.
Baca juga: AdaKami Hadapi Stigma Negatif P2P Lending dengan Literasi dan Sertifikasi
Pentingnya inklusi keuangan juga dipaparkan oleh Anastuty K., Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia. Menurutnya, kebijakan ekonomi inklusif terus diperkuat oleh Bank Indonesia.
"Bank Indonesia senantiasa akan mendukung upaya-upaya menuju keuangan yang inklusif secara nasional melalui langkah kebijakan dan implementasi program edukasi inklusi keuangan yang menyasar kelompok-kelompok strategis, termasuk perempuan,” ucap Anastuty K.
![]() |
| Anastuty K., Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia |
Inklusi keuangan, terutama di daerah, masih sangat rendah, 81% masyarakat Indonesia belum memiliki akses ke layanan keuangan formal secara penuh. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat inklusi keuangan masyarakat di perdesaan masih di bawah angka perkotaan. Pemahaman akan perilaku dan kebutuhan masyarakat daerah melandasi inovasi penyediaan layanan keuangan di daerah, salah satunya dari Amartha.
![]() |
| Nailul Huda, pakar ekonomi dan keuangan digital yang juga menjabat sebagai Direktur Ekonomi Digital CELIOS |
"Data World Bank menunjukkan bahwa perilaku financing tinggi, tetapi literasi rendah, yaitu 13%. Harapannya 10.000 karyawan tenaga lapangan di Amartha bisa menjadi duta literasi, yaitu perwakilan dari jasa keuangan yang mempunyai kampanye mengenai literasi keuangan mengenai manfaat permodalan. Misalnya, ketika meminjam uang, maka skala usaha dapat ditingkatkan. Demikian juga literasi mengenai literasi risiko-risikonya. Sebenarnya literasi merupakan tugas OJK. Transformasi yang dilakukan Amartha dapat mendorong inklusi keuangan di daerah, terutama di akar rumput, sehingga pertumbuhan ekonomi di daerah bisa didorong secara signifikan,” ucap Nailul Huda, pakar ekonomi dan keuangan digital yang juga menjabat sebagai Direktur Ekonomi Digital CELIOS.










