Komputasi Kuantum di Asia Pasifik Picu Tiga Risiko Utama Ini Komputasi Kuantum di Asia Pasifik Picu Tiga Risiko Utama Ini ~ Teknogav.com

Komputasi Kuantum di Asia Pasifik Picu Tiga Risiko Utama Ini



Teknogav.com – Asia Pasifik merupakan kawasan potensial bagi komputasi kuantum untuk menjadi teknologi revolusioner. Negara-negara yang berperan sebagai pemimpin global di bidang ini mencakup Tiongkok, Jepang, India, Australia, Korea Selatan, Singapura dan Taiwan. Peran tersebut didorong oleh dukungan yang kuat dari pemerintah dan adopsi yang cepat, terutama di sektor keuangan, farmasi dan startup.


“Pasar komputasi kuantum di Asia Pasifik saat ini mengalami pertumbuhan pesat. Para ahli memperkirakan pertumbuhan yang sangat besar menjadi USD1,78 miliar pada tahun 2032 dari USD392,1 juta pada tahun 2024. Lonjakan tersebut dicapai dengan CAGR kuat sebesar 24,2%. Hal ini menarik sekaligus mengkhawatirkan. Organisasi di sini harus mengingat bahwa komputasi kuantum adalah garda depan siber berikutnya. Komputasi kuantum dapat membuka inovasi-inovasi inovatif, sekaligus mengantarkan kawasan ini ke era baru ancaman keamanan siber,” ucap Sergey Lozhkin, Kepala Tim Riset & Analisis Global untuk META dan APAC di Kaspersky.

Baca juga: Ancaman Siber Keuangan pada Smartphone Diprediksi Meningkat Tahun 2025

Komputasi kuantum dapat memecahkan banyak metode enkripsi yang ada saat ini, sehingga memicu kekhawatiran akan keamanan siber. Sebaliknya, teknologi ini mampu menciptakan standar enkripsi baru yang tahan kuantum, sehingga dapat membangun cara pengamanan informasi digital masa depan. Kemampuan dahsyat dari komputasi kuantum tersebut bak pisau bermata dua. Namun, saat ini sebagian besar kemampuan ini hanya tersedia dalam pengaturan laboratorium dan demonstrasi bukti konsep. Hal ini menimbulkan ketidakpastian dalam membuat linimasa untuk ancaman dan manfaatnya, walau terdapat desakan kebutuhan untuk persiapan.

Baca juga: Riset AWS Tunjukkan Kecakapan Digital Tingkat Tinggi Picu Pertumbuhan PDB

Metode enkripsi tradisional yang saat ini melindungi data dalam berbagai sistem digital dapat terancam oleh penggunaan komputer kuantum. Hal ini dapat mengancam langsung infrastruktur keamanan siber global. Ancaman tersebut mencakup intersepsi dan dekode kompunikasi diplomatik, militer dan keuangan yang sensitif, serta dekripsi negosiasi pribadi secara real-time. Sistem kuantum dapat menangai berbagai sistem digital lebih cepat dibandingkan dengan mesin klasik, akibatnya percakapan yang aman pun menjadi terbuka. Berikut ini adalah tiga risiko utama yang dapat dipicu oleh komputasi kuantum.

  1. Seiring kemajuan kemampuan kuantum, data terenkripsi saat ini sudah disimpan penjahat siber untuk mendekripsinya di masa mendatang. Jurus ‘simpan sekarang, dekripsi nanti’ (store now, decyrp later) dapat menyebabkan informasi sensitif bertahun-tahun menjadi terpapar setelah awal ditransmisikan. Informasi sensitif ini mencakup pertukaran diplomatik, transaksi keuangan dan komunikasi pribadi.
  2. Komputasi kuantum dapat mengancam atau menyabotase jaringan blockchain dan aset kripto.  Hal ini menyebabkan kerentanan pada Algoritma Tanda Tangan Digital Kurva Eliptik (ECDSA) Bitcoin, yang mengandalkan kriptografi kurva eliptik (ECC). Risiko yang dapat timbul mencakup pemalsuan tanda tangan digital sehingga mengancam Bitcoin, Ethereum, dan aset kripto lainnya. Selain itu, risiko juga mencakup serangan terhadap ECDSA yang mengamankan dompet kripto. Riwayat transaksi blockchain juga bisa direkayasa sehingga merusak kepercayaan dan integritas.
  3. Ransomware yang disebut ‘tahan kuantum’ dirancang untuk menahan dekripsi oleh komputer klasik atau kuantum. Muatan berbahaya dilindungi oleh kriptografi pasca-kuantum yang diadopsi oleh pengembang dan operator ransomware canggih di masa depan. Hal ini menyebabkan kesulitan untuk melakukan pemulihan tanpa membayar tebusan. 

Saat ini, komputasi kuantum tidak menawarkan cara untuk mendekripsi berkas yang dikunci oleh ransomware yang ada. Perlindungan dan pemulihan data masih mengandalkan solusi keamanan tradisional dan kolaborasi antara lembaga penegak hukum, peneliti kuantum, dan organisasi internasional.

Pertahanan yang Aman terhadap Kuantum

Saat ini komputasi kuantum belum menjadi ancaman langsung. Namun, ketika ancaman tersebut muncul, mungkin sudah terlambat untuk menanggapinya. Perlu waktu bertahun-tahun untuk melakukan transisi ke kriptografi pasca-kuantum, sehingga persiapan harus segera dimulai. Risiko yang akan datang harus diatasi dengan koordinasi antara komunitas keamanan siber, perusahaan TI dan pemerintah. Strategi yang jelas untuk bermigrasi ke algoritma pasca-kuantum harus dikembangkan para pembuat kebijakan. Standar keamanan baru perlu mulai diterapkan bisnis dan peneliti sejak sekarang.

Baca juga: NVIDIA Akan Ungkap Terobosan Terkini AI Generatif di GTC 2024

“Risiko paling kritis sebenarnya bukan terletak di masa depan, tetapi di masa sekarang: data terenkripsi dengan nilai jangka panjang sudah berisiko mengalami dekripsi di masa mendatang. Meskipun komputasi kuantum praktis yang mampu memecahkan enkripsi saat ini belum ada, ancamannya nyata karena pelaku kejahatan dapat menyimpan data terenkripsi saat ini dan mendekripsinya setelah teknologinya matang. Keputusan keamanan yang kita buat hari ini akan menentukan ketahanan infrastruktur digital kita selama beberapa dekade. Pemerintah, pemangku bisnis, dan penyedia infrastruktur harus mulai beradaptasi sekarang, atau menghadapi risiko kerentanan sistemik yang tidak dapat diperbaiki secara retroaktif,” pungkas Lozhkin.

Share:

Artikel Terkini