
Teknogav.com – Film Now You See Me: Now You Don’t merupakan film ketiga dari film Now You See Me. Layaknya dua film sebelumnya, film ketiga ini juga memadukan pertunjukan ilusi dengan perampokan. Serunya, film ini menggabungkan karakter-karakter The Four Hprsemen di film pertama dan film kedua, bahkan dengan tambahan generasi baru. Tiga anggota di generasi baru ini memberi kesegaran dengan memadukan teknologi canggih dalam aksi mereka. Now You See Me: Now You Don’t tampil dengan konflik baru dan serangkaian twist yang tak disangka-sangka.

Tiga ilusionis generasi baru yang bergabung sebagai Horsemen adalah Bosco (Dominic Sessa), Charlie (Justice Smith) dan June (Ariana Greenblatt). Ketiganya memiliki keahlian masing-masing dalam hal ilusi. Charlie memiliki spesialisasi dalam hal teknologi dan data, termasuk berbagai informasi terkait ilusi. Sedangkan Bosco memiiki kemampuan seni peran, termasuk impersonasi, dan June lihai dalam mencopet dan membuka kunci. Aksi ketiganya di awal bagai memberi penyegaran pada aksi para Horsemen di film pertama.
Baca juga: Film ‘Other’ Ungkap Misteri Rumah Berpengamanan Canggih dari Rekaman Video
Tim Horsemen kini lebih ramai dengan bergabungnya anggota di film pertama dan film kedua, serta tambahan generasi baru. Misi yang diusung pun cukup berisiko karena juga menguji hubungan internal tim. Konflik emosional antar-karakter dipadukan dengan motif balas dendam dan pertanyaan etis mengenai penggunaan ilusi untuk tujuan ‘kebaikan’.

Tentunya film ini akan mengobati rasa kangen pada aksi Horsemen formasi awal. Atlas (Jesse Eisenberg), Meritt (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco) dan Henley (Isla Fisher) hadir dengan gaya khas mereka masing-masing. Petunjuk demi petunjuk harus diikuti dan dijalani untuk bisa memecahkan masalah.
Baca juga: Jasa Pembuatan Deepfake Marak di Darknet, Ini Cara Kerjanya
Para Horsemen ditantang untuk dapat menjalankan aksi melakukan perampokan berlian. Tentunya semua rencana diperhitungkan dengan matang agar dapat mengambil alih berlian tanpa disadari penyimpannya. Berlian tersebut awalnya akan digunakan Veronika Vanderberg (Rosamund Pike) sebagai sarana untuk mencuci uang. Rosamund Pike memerankan tokoh antagonis tersebut dengan sangat meyakinkan dan membuat penonton cukup gemas dengan kelakuannya.

Alur film ini bergerak cepat dengan ritme yang disusun layaknya trik sulap. Pembukaan film cukup memikat, serangkaian aksi pun kian kompleks, disusul klimaks yang berlapis-lapis. Penggunaan kilas balik dan pengungkapan berjenjang mendukung atmosfer misteri, tetapi juga menuntut perhatian penuh penonton agar tidak tersesat. Twist dalam film ini diungkap rapi dan terstruktur sehingga tiap babak memberi kejutan baru. Transisi antar set juga ditampilkan mulus sehingga ketegangan tidak surut. Secara keseluruhan, alur berhasil menjaga keterlibatan dan rasa ingin tahu, walau mengorbankan sedikit kedalaman karakter demi momentum.
Sinematografi film menonjol dengan gaya visual yang teatrikal, selaras dengan tema sulap dan pertunjukan panggung. Pilihan framing, pencahayaan, dan komposisi juga memperkuat ilusi. Gerakan kamera yang dinamis dan close-up cepat yang meniru ilusi mata memberi sensasi dikelabui bersama karakter. Efek sorotan teater didukung pencahayaan dramatis yang memberikan kontras kuat antara area panggung yang terang dan latar yang gelap.
Baca juga: Kaspersky Paparkan Tips Kenali Deepfake dan Cara Aman Mengantisipasinya
Now You See Me: Now You Don’t memadukan sulap klasik dengan teknologi modern untuk membuat aksi dan trik yang meyakinkan. Film ini juga mengangkat pemanfaatan teknologi Akal Imitasi (AI) untuk membuat deepfake. Augmented staging dan projection mapping digunakan untuk efek visual panggung yang imersif. Trik juga dilakukan menggunakan alat pengendali jarak jauh, peretasan dan manipulasi data. Penggunaan teknologi-teknologi tersebut menunjukkan bahwa teknologi informasi bisa menjadi alat, sekaligus kelemahan. Film ini menampilkan teknologi-teknologi tersebut sebagai bagian dari narasi trik, sehingga mengaburkan batas antara keahlian manual dan dukungan teknologi modern.
Keberhasilan trik besar yang disusun oleh para Horsemen bergantung pada kerja sama tim dan koordinasi. Jika ada penghianatan internal atau ketidakkompakkan maka akan membuka titik rapuh yang menentukan keberhasilan rencana mereka. Kisah yang diangkat dalam film ini menunjukkan bahwa pertunjukan bukan sekadar hiburan. Namun, pertunjukan bisa menggerakkan opini publik, baik untuk menginspirasi maupun memanipulasi.

Aksi Horsemen terkadang menggunakan alasan ‘demi kebaikan’, tetapi penonton diajak berpikir untuk mempertimbangkan sejauh mana untuk membenarkan cara tersebut. Konsekuensi moral ada ketika kebaikan dicapai melalui kebohongan.
Film ini cocok ditonton penggemar film aksi petualangan berbalut misteri. Konsep, visual dan tempo pada film ini menyajikan trik-trik megah yang dikemas dengan sinematografi teatrikal. Durasi film ini 1 jam 52 menit, tetapi jangan khawatir akan merasa bosan. Segala keseruan akan membuat penonton tetap awas menanti-nantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Film ini akan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 12 November 2025.






