Film “Malam 3 Yasinan”, Horor yang Dipicu Obsesi pada Kesempurnaan Film “Malam 3 Yasinan”, Horor yang Dipicu Obsesi pada Kesempurnaan ~ Teknogav.com

Film “Malam 3 Yasinan”, Horor yang Dipicu Obsesi pada Kesempurnaan

Teknogav.com – Alkimia Production dan Helroad Film mempersembahkan film horor misteri terkini yang berjudul “Malam 3 Yasinan”. Film ini menceritakan mengenai obsesi pada kesempurnaan sampai mengorbankan segalanya karena harus menutupi rahasia kelam keluarga. Obsesi Opa Hendra (Piet Pagau) tersebut membuatnya sangat mengatur segala perilaku anak, menantu dan cucunya demi menjaga nama baik keluarga. Filosofi yang dianutnya adalah “mikul dhuwur, mendhem jero”. Film ini akan ditayangkan di bioskop Indonesia mulai 8 Januari 2026.


Kisah keluarga besar Djojodiredjo dalam film ini terjadi sekitar tahun 1987 dan 1993. Keluarga tersebut merupakan pengusaha pabrik gula yang juga memiliki perkebunan. Opa Hendra merupakan pemimpin keluarga Djojodiredjo di masa tersebut. 

Opa Hendra memiliki empat orang cucu, yaitu Sena, Sara, Samira dan Nina. Sena (Farhan Rasyid) merupakan cucu tertua dari pasangan Ari (Baim Wong) dan Layla (Wulan Guritno) yang merupakan istri kedua. Sara dan Samira merupakan anak kembar yang keduanya diperankan oleh Shaloom Razade. Sepasang anak kembar tersebut merupakan anak pasangan Ari dan Lana (Amanda Gratiana Soekasah) yang merupakan istri pertama. Sedangkan Nina (Yasmine Aqeela) adalah anak dari pasangan Lily (Janna Soekasah) dan Baskara (Hamish Daud).

jajaran pemeran dan tim produksi film 'Malam 3 Yasinan'

Baca juga: ‘Temurun’, Film Horor Penuh Plot Twist dengan Efek Audio Mencekam 

Kematian Sara yang mendadak mengguncang keluarga besar Djojodiredjo. Samira yang tinggal jauh dari keluarga besar tersebut sangat kaget dan segera menuju kediaman Djojodiredjo. Serangkaian kejadian mengerikan terjadi selama tiga hari berturut-turut saat mereka menggelar acara pembacaan doa bagi Sara. Horor dengan drama keluarga ini memadukan keseraman sosok gaib dan sifat keserakahan manusia.

Lokasi latar cerita ini kurang jelas, apakah di Jakarta, Jawa Tengah atau Jawa Timur. Di satu sisi, banyak lokasi yang menggambarkan perkebunan besar dan mobil dengan pelat nomor kendaraan AD. Namun, Baskara yang berprofesi polisi mengenakan seragam Polda Metro Jaya dan diperlihatkan pulang pergi kerja dari rumah keluarga besar tersebut.

Film “Malam 3 Yasinan” disutradari Yanie Sukarya, serta diproduseri Wulan Guritno, Amanda Gratiana Soekasah, Janna Joesoef Soekasah dan Helfi Kardit. Pemeran lain dalam film ini mencakup Izabel Jahja dan Tien Kadaryono. Pesan moral film ini menyampaikan nilai penting keluarga.

“Mikul dhuwur, mendhem jero adalah passion kami bertiga. Kami tidak mengatakan itu salah, tetapi tidak selalu benar. Obsesi terhadap kesempurnaan sampai mengorbankan segalanya bisa menimbulkan horor,” ucap Jannah Joesoef Soekasah.

Jannah Joesoef Soekasah, pemeran Lily dan produser film 'Malam 3 Yasinan'

Pembuatan film ini diakui Yannie Sukarya, sutradara film ‘Malam 3 Yasinan’ berawal dari mimpi. Setelah itu dia pun mengembangkan cerita bersama-sama sampai akhirnya menjadi karya baru. Menurutnya di tahun 1980an banyak orang kaya raya yang ingin terlihat sempurna. Saat ini hal tersebut pun lebih parah di era media sosial, di mana semuanya harus terlihat sempurna di dunia maya. Pesan moral dari film ini adalah jangan memaksakan kesempurnaan.

"Di film Malam 3 Yasinan penonton akan melihat keangkuhan, kerapuhan, dan ketakutan, yang ada di keluarga Opa Hendra. Selain horor yang menyeramkan dan menakutkan, juga akan ada banyak intrik-intrik dari keluarga ini yang, mengerikan,” ucap Yannie Sukarya, sutradara film ‘Malam 3 Yasinan’.

Penggalian karakter yang mendalam diungkapkan oleh Helfi Kardit, penulis skenario ‘Malam 3 Yasinan’.

Helfi Kardit, penulis skenario ‘Malam 3 Yasinan

“Pengembangan skrip dari awal benar-benar dilakukan untuk membuat film yang sinematik menggali karakter manusia. Pada dasarnya karakter manusia hanya dua, yaitu baik dan buruk. Namun, hal yang baik buat kita belum tentu baik untuk orang lain. Karakter pertama yang dibangun pertama kali adalah karakter opa, sedangkan karakter lain dapat dikembangkan dengan lebih mudah. Pesan film ini didapat dari karakter opa,” ucap Helfi Kardit.

Baca juga: Film Horor ‘Sukma’ Jadikan Cermin sebagai Alat Teleportasi Antar-Dunia  

Kengerian dalam film ‘Malam 3 Yasinan’ diungkapkan oleh Wulan Guritno. Menurutnya, kengerian tersebut berasal dari makhluk gaib dan juga dari rasa bersalah. Wulan juga berpegang teguh pada alam semesta dalam memproduksi film ini, termasuk dengan mengaktifkan lagi Alkimia. Terlepas dari genre horor, ada pesan yang ingin disampaikan dalam film ini.

Wulan Guritno, produser dan pemeran film ‘Malam 3 Yasinan’

"Bukan hanya ketakutan dari kehadiran makhluk gaib, tapi ketakutan di film ini juga tercipta dari rasa bersalah saat semuanya menutupi dosa. Obsesi akan keserakahan dan pencitraan yang akhirnya menyesatkan, akan membawa penonton masuk ke dalam intrik keluarga di dalam rumah besar konglomerat pemilik pabrik gula tahun ‘8o-an. Sebuah konflik rumah tangga yang akan lebih seram dari hantu. Semoga film ini bisa menjadi refleksi dari diri kita," ucap Wulan Guritno, produser dan pemeran film ‘Malam 3 Yasinan’.

Wulan juga mengungkapkan bahwa dirinya berlaku profesional dengan tidak merasa seperti ibu Shaloom. Dirinya fokus pada peran Layla, ibu dari Sena. Sementara itu Shaloom Razade mengungkapkan kesulitannya dalam mematangkan dua karakter kembar dengan sifat dan hobi berbeda yang diperankannya. Shaloom harus belajar memainkan biola untuk memerankan Sara, dan belajar mengendarai motor kopling untuk memerankan Samira.

Shaloom Razade, pemeran Sara, Samira dan hantu

"Di film ini menjadi kesempatan aku untuk menantang diri sampai sejauh mana batas- batas aku dalam mengeksplorasi karakter. Butuh persiapan yang panjang, dan dibantu dengan tiga acting coach juga untuk mempersiapkan peran Sara dan Samira. Ini adalah tantangan, dan Malam 3 Yasinan menjadi warna horor baru yang aku eksplorasi," ucap Shaloom Razade.

Hal senada diungkapkan oleh Farhan Rasyid, pemeran Sena. Menurutnya, Sena merupakan salah satu karakter yang sulit diperankan. Karakter tersebut merupakan simbol korban harapan, anak yang mengemban ekspektasi tinggi dari keluarga dengan opanya yang menginginkan dia menjadi penerus.

Farhan Rasyid, pemeran Sena dalam film 'Malam 3 Yasinan"

“Ada tanggungan moral besar setlah kematian Sara. Aku harus bisa membawakan dari mata dan gerak geriknya, itu berat, karena kalau cuma membawakan dari dialog, rasanya kurang,” ucap Farhan Rasyid.

Chemistry yang intens dari para pemeran yang terlibat konflik keluarga disajikan dalam film ‘Malam 3 Yasinan’. Film bergenre horor misteri segar ini tak sekadar mengandalkan jumpscare tetapi juga menyajikan misteri keluarga, citra dan martabat keluarga. Konflik antar-generasi dan aib masa lalu menjadi sebab akibat yang mematikan dalam film ini.

Baca juga: Film Rahasia Rasa Padukan Nasionalisme dengan Pelestarian Kuliner Indonesia 

Kondusifnya lingkungan produksi film ini dalam memasukkan unsur kreatif pun disampaikan oleh Hamish Daud, pemeran Baskara.

Hamish Daud, pemeran Baskara dalam film 'Malam 3 Yasinan'

“Film ini benar-benar dapat seninya, banyak input kreatif dengan lingkungan yang kreatif. Semua orang di lingkungan ini asik banget,” ucap Hamish Daud.

Pentingnya nilai kejujuran dalam film ini disampaikan oleh Izabel Jahja yang berperan sebagai dr. Endah.

Izabel Jahja, pemeran dr. Endah dalam film 'Malam 3 Yasinan'

“Dokter Endah merupakan dokter keluarga yang sudah lama. Dari karakter di film ini terdapat pelajaran bahwa diam itu membawa malapetaka. Jadi jangan main-main, karena orang baik belum tentu bisa jujur,” ucap Izabel Jahja.

Share:

Artikel Terkini