Film We Bury The Dead: Alur Lambat, Penuh Simbolis Makna Film We Bury The Dead: Alur Lambat, Penuh Simbolis Makna ~ Teknogav.com

Film We Bury The Dead: Alur Lambat, Penuh Simbolis Makna

Teknogav.com – Film “We Bury The Dead” arahan sutradara Zak Hildictch bukanlah sekadar kisah zombie yang menakutkan atau penuh aksi. Sejak dari judul pun, film ini mengandung pesan simbolis untuk menutup buku hal yang sudah selesai. Kisah dalam film ini bukan hanya tugas fisik menguburkan jasad, tetapi juga menjadi simbol untuk menutup babak kehilangan. Penguburan jasad juga merupakan bentuk penghormatan terakhir pada kehidupan yang pernah ada.

Lambatnya alur pada film ini justru mengajak penonton untuk merasakan kelelahan emosional setiap karakter. Film ini dibuka dengan momen bahagia Ava (Daisy Ridley) bersama pasangannya, Mitch (Matt Whelan). Namun, semuanya berubah saat terjadi bencana militer, yaitu meledaknya senjata eksperimental di lepas pantai Tasmania. Ledakan tersebut memicu gelombang elektromagnetik yang mematikan sistem saraf manusia dan hewan di pulau tersebut. Akibatnya, banyak orang tewas seketika, tetapi sebagian menunjukkan tanda-tanda ‘kebangkitan kembali’.

Baca juga: "Greenland 2: Migration", Ujian Kemanusiaan dan Tantangan Menuju Dunia Baru

Ava bergabung sebagai relawan bukan hanya untuk mengambil jasad, tetapi berusaha mencari suaminya yang di pulau tersebut saat bencana terjadi. Proses pencarian ini menjadi perjalanan emosional penuh risiko. Bersama dengan relawan lain, Ava harus menghadapi kenyataan bahwa tugas mereka bukan sekadar menguburkan jasad, tetapi juga untuk merelakan kehilangan. 


Saat bertugas, Ava bertemu dengan Clay (Brenton Thwaites) yang membantunya melintasi zona karantina. Karakter Clay pragmatis dan sinis, tetapi juga menyimpan luka dan kehilangan mendalam. Clay merupakan tipe antihero yang tidak mencari kemuliaan. Karakternya yang kompleks dibangun Thwaites dengan humor kasar, sikap acuh tak acuh, dan ekspresi wajah yang tertutup. Thwaites juga berhasil menampilkan perubahan karakter Clay menjadi lebih terbuka dan peduli selama perjalanan dengan Ava.

Dinamika antara Ava dan Clay dibangun di atas trauma bersama, bukan sekadar persahabatan atau romansa. Mereka saling memahami tanpa perlu banyak kata, dan kepercayaan di antara mereka tumbuh perlahan di tengah dunia yang penuh bahaya. Di perjalanan, keduanya bertemu dengan Riley (Mark Coles Smith) yang memperkenalkan dimensi baru dalam cerita.

Smith menggunakan ekspresi wajah dingin, gerakan tubuh kaku, dan intonasi suara datar untuk menciptakan karakter Riley yang tidak bisa diprediksi. Interaksi Ava dengan Riley membawa film ke ranah horor psikologis. Karakter Riley menyimbolkan obsesi kehilangan yang tidak sehat, dia terjebak dalam siklus penyesalan, duka dan obsesi yang tidak pernah selesai. Bahaya pun tak lagi menghadapi mayat hidup, tetapi juga manusia yang kehilangan kemanusiaan. Bencana telah memaksa setiap karakter untuk menghadapi rasa bersalah, penyesalan dan kebutuhan akan penutupan. Kehadiran Riley memperkuat tema film mengenai duka yang tidak terselesaikan. 

Baca juga: Film The Housemaid, Thriller Psikologis yang Menguras Emosi  

Keheningan dalam beberapa adegan menegaskan bahwa tidak semua duka bisa dijelaskan kata-kata. Film ini mengajak untuk menjalani proses menerima kehilangan dan pentingnya menemukan penutup di tengah kekacauan. Ava berusaha mencari kejelasan dan akhir dari siklus duka yang dialaminya.

Ridley dapat mengekspresikan duka dan ketakutan tanpa kata-kata, misalnya saat menguburkan jasad keluarga di tengah malam. Tatapan dan gerakan pelan mampu menyampaikan rasa bersalah dan kehilangan. Adegan tersebut mampu membangkitkan empati, bahkan pada sosok yang sudah tidak manusiawi.

Zak Hiditch membangun dunia pasca-bencana Tasmania ddengan tidak tergesa-gesa. Gaya penceritaan yang lambat dan reflektif menjadi salah satu kekuatan utama film, memaksa penonton untuk merasakan kelelahan emosional karakter. Ritme lambat dalam film ini juga memperkuat suasana duka dan refleksi yang menjadi inti cerita. 

Tak seperti film zombie yang penuh aksi dan jump scare, film ini menyajikan keheningan yang berbicara lebih dibanding dialog. Narasi dalam film ini juga menghadirkan kilas balik untuk memahami latar belakang hubungan Ava dan Mitch.

Atmosfer ketegangan dalam film ini dibangkitkan oleh interaksi dengan para mayat hidup. Reaksi setiap mayat hidup berbeda, ada yang agresif menyerang, ada juga yang hanya diam. Gertakan gigi mayat hidup yang membuat ngilu dan tak nyaman menjadi alat untuk menciptakan suasana mengganggu dan menegangkan. Suara gigi tersebut juga menyimbolkan kegelisahan dan hilangnya rasa kemanusiaan para mayat hidup tersebut.  

Baca juga: Film Warfare, Tampilkan Kisah Nyata Mencekam Navy SEAL di Irak  

Penampilan zombie terlihat realistis dengan kulit yang membusuk dan mata yang kosong dengan ekspresi tidak manusiawi. Mayat hidup ini tak langsung agresif, awalnya perilaku mereka pasif dan hanya menggertakkan gigi. Seiring waktu, mereka menjadi lebih gelisah dan berbahaya, terutama jika memiliki urusan yang belum selesai di kehidupannya.

Keindahan lanskap Tasmania ditampilkan dengan jalan-jalan kosong dan bangunan terbengkalai yang memperkuat kesan keterasingan dan kehilangan. Kondisi tersebut juga menjadi metafora dari proses menerima duka. 

Keheningan dalam film ini juga membangkitkan rasa kehilangan dan keterasingan. Musik dengan nada rendah dan lambat tak memaksakan emosi, tetapi hadir menyatu dengan suasana, menggambarkan perasaan duka tertahan. Kehadiran musik ini tiak mendominasi, tetapi menjadi lapisan tambahan yang memperkuat emosi karakter dan suasana dunia yang runtuh.

Film “We Bury The Dead” fokus pada keheningan dan refleksi yang berbicara mengenai duka, kehilangan dan penutupan. Lambatnya gaya penceritaan dalam film ini justru memperkuat pesan bahwa proses menerima kehilangan tidak instan. Setiap langkah Ava merupakan perjalanan menuju penutupan, mengajak penonton untuk memberi ruang yang telah pergi walau dengan berat hati. Film ini pun ditutup dengan indah dengan simbol mengenai harapan yang bisa muncul, bahkan di tempat paling gelap. Tayang mulai 9 Januari 2026 di bioskop Indonesia, film ini cocok bagi penonton yang ingin mencari pengalaman reflektif dan mendalam.

Share:

Artikel Terkini