Film “I Was a Stranger”, Ritme Tepat di Setiap Adegan Film “I Was a Stranger”, Ritme Tepat di Setiap Adegan ~ Teknogav.com

Film “I Was a Stranger”, Ritme Tepat di Setiap Adegan



Teknogav.com – Film “I Was a Stanger” menggambarkan kisah pengungsi Suriah dari berbagai sudut pandang orang-orang yang terlibat di setiap peran mereka. Kisah yang diangkat berdasarkan 14 juta kisah nyata ini disampaikan dengan begitu nyata. Pengambilan gambar kamera, ritme, dan detail setiap adegan terasa begitu dekat, sehingga seperti bisa merasakan beban yang dipikul karakter-karakter tersebut.

Kesuraman Suriah akibat perang saudara tahun 2023 bagai dapat dirasakan secara jelas saat menonton film “I Was a Stranger”. Termasuk kebimbangan seorang tentara yang rasa kemanusiaannya terketuk sehingga meragukan apakah telah berada di pihak yang benar. Serangkaian kisah yang saling berkaitan disampaikan dari sudut pandang berbeda dari setiap tokoh.

Baca juga: Film Warfare, Tampilkan Kisah Nyata Mencekam Navy SEAL di Irak 

Saat bom demi bom diledakkan tanpa membeda-bedakan siapa yang akan menjadi korban. Tim medis di rumah sakit yang berusaha netral dalam menolong korban pun tak lepas dari ancaman. Seorang dokter Suriah terpandang pun tak serta merta dapat terhindar walau sudah memiliki posisi yang layak. Semua orang bisa berubah nasib saat perang, terpaksa mengungsi bersama para pengungsi lain melepas semua gelar yang disandangnya.

Film ini diperankan Yasmine Al Massri sebagai dokter Amira yang berusaha menyelamatkan diri bersama anaknya, Raisha yang diperankan Massa Daoud. Yahya Mahayni memerankan Mustafa, seorang tentara yang penuh kebimbangan antara menjalankan tugas dan rasa kemanusiaan. Omar Sy berperan sebagai Marwan, seorang penyelundup yang tidak memiliki empati terhadap para pengungsi yang sudah membayar jasanya. Kapten kapan Yunani, Stavros yang penuh belas kasih terhadap pengungsi diperankan oleh Constantine Markoulakis.

Baca juga: Film "Perang Kota" Usung Audio Dolby Atmos dan Kamera Dinamis  

Setiap orang memiliki perannya tersendiri dalam proses pengungsian, termasuk penyelundup yang membantu para pengungsi melintasi negara dengan cara tidak manusiawi. Sampai ke kapten kapal Yunani yang penuh kasih dan berusaha menyelamatkan nyawa manusia. Film “I Was a Stranger” merupakan kisah menegangkan dan sangat manusiawi. Kisah dalam film ini menggambarkan sejauh mana orang berupaya melindungi orang yang mereka cintai.

Film “I Was a Stranger” yang berdurasi 97 menit ini disutradarai oleh Brandt Andersen. Sebelumnya, Andersen juga menyutradari film mengenai pengungsi, yaitu “Refugee” dalam format pendek. Penyuntingan dan struktur film “I Was a Stranger” begitu mengesankan. Potongan adegan terasa tajam, terarah dan tepat waktu secara emosional. Setiap perjuangan para karakter dapat dirasakan tanpa perkenalan panjang. Setelah merasa memahami suatu karakter, film beralih ke latar belakang mereka menyajikan ritme yang kuat dan rasa empati. Penonton bagai dapat merasakan sendiri rasa waswas dan harapan dari setiap karakter yang ditampilkan.


 Baca juga: ‘The Long Walk’, Film Thrilller Adaptasi Stephen King yang Menguras Emosi 

Perjuangan setiap karakter disajikan sebagai realitas manusia dengan semua kontradiksi dan kerentanan yang menyertainya. Film “I Was a Stranger” bercerita dari berbagai sisi, sehingga tidak mengkotak-kotakkan menjadi kubu-kubu tertentu. Kisah ini menembus semua peran, mengingatkan bahwa ada manusia yang mencoba bertahan hidup, diterima dan dilihat.

Perjalanan dan kehidupan setiap karakter ditampilkan dalam film ini, sisi baik dan sisi buruk mereka. Keputusasaan dan ketidakpastian nasib pengungsi juga menimbulkan pertanyaan apakah perjalanan mereka sepadan dengan risiko yang ada. Film “I Was a Stranger” juga membuka mata bahwa setiap perang pasti memakan korban. Ada begitu banyak negara lain yang juga mengalami peperangan, bukan dengan negara lain tetapi antara rakyat dengan pemerintah mereka sendiri. 

Namun, terkadang hal ini luput dari perhatian hanya karena peperangan bukan melawan agama atau suku yang berbeda. Apakah memang keberpihakan hanya terjadi ketika ada perbedaan tersebut, tanpa memandang apa yang benar dan rasa kemanusiaan? Film ini bagai membuka mata mengenai kekejaman perang dan konflik, semengerikan itu dampaknya bagi korban perang di negara mana pun. Di akhir film, sutradara film ini juga mengajak penonton untuk ikut berdonasi agar dapat menolong para pengungsi korban peperangan. Film persembahan Angel yang begitu mengharukan ini tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Februari 2026.

Share:

Artikel Terkini