
Teknogav.com – Empat film pendek karya empat sutradara Indonesia akan tayang perdana di program Next Step Studio, La Semaine de la Critique, Cannes Film Festival 2026. Keempat film pendek tersebut juga digarap bersama dengan empat sutradara Asia Tenggara dan dibintangi jajaran pemeran papan atas Indonesia. Sinematografi film diarahkan oleh sinematografer pemenang penghargaan dan jajaran kru dari Indonesia. Yulia Evina Bhara, Amerta Kusuma (KawanKawan Media), merupakan produser empat film tersebut.
![]() |
| Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN |
![]() |
| Yulia Evina Bhara, produser Next Step Studio 2026 |
“Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk terus mendukung program yang memberi ruang bagi generasi baru pembuat film. Kehadiran Next Step Studio Indonesia menegaskan posisi Indonesia sebagai bagian penting dari ekosistem sinema global yang dinamis, kreatif, dan berpengaruh,” ucap Irini Dewi Wanti, Direktur Film, Musik dan Seni Kementrian Kebudayaan.
![]() |
| Irini Dewi Wanti, Direktur Film, Musik dan Seni Kementrian Kebudayaan |
Next Step Studio 2026 diproduksi bersama dan didukung oleh Indra Sashi Kalanacitra, VMS Studio, Visinema Pictures, Navvaros Entertainment, Poplicist Publicist, Beacon Film, Salaya Yachts, Arungi Films, Prodigihouse Post Production, Brandlink Indonesia, Titrafilm A La Plage Studio, Artha Graha Peduli, Jakarta Film Week, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Direktorat Film, Musik dan Seni,Direktur jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, dan Institute Francais Indonesia.
“Prancis dan Indonesia terus memperkuat kerja sama budaya bilateral, khususnya di bidang sinema. Hal ini telah disepakati oleh Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto dalam Deklarasi Borobudur bersama yang ditetapkan pada 29 Mei 2025, serta dibahas lebih lanjut oleh Menteri Kebudayaan Prancis dan Indonesia dalam pertemuan mereka di Paris pada 22 April 2026,” lanjut Fabien Penone.
Tahun ini merupakan edisi perdana program Next Step Studio di La Semaine de la Critique sebagai bagian Cannes Film Festival. Inisiatif ini akan membuka peluang bagi talenta muda Indonesia untuk menembus jaringan industri global. Selain itu, juga akan memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Prancis yang selaras dengan semangat Deklarasi Borobudur.
Dalam edisi perdana Next Step Studio, program ini memberikan ruang bagi empat sutradara muda Indonesia untuk berkolaborasi dengan sineas internasional. Mereka telah menulis dan menyutradarai bersama empat film pendek yang akan ditayangkan selama edisi ke-65 La Semaine de la Critique. Berikut ini adalah keempat film pendek yang akan ditayangkan perdana di Critics’ Week Cannes 2026.
Holy Crowd
Film pendek Holy Crowd disutradarai Reza Fahriyansyah bersama dengan Ananth Subramaniam, sutradara asal Malaysia. Para pemeran film ini mencakup Prilly Latuconsina, Asmara Abigail, Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin dan Arswendy Bening Swara. Pengarahan gambar film Holy Crowd dilakukan oleh sinematografer Vera Lestafa yang juga mengarahkan gambar untuk film Original Wound.
![]() |
| Reza Fahriyansyah, sutradara film pendek Holy Crowd |
Reza Fahriyansyah mengungkapkan bahwa film Holy Crowd mengenai bagaimana menangkap masalah sosial dan absurdutas di masyarakat terutama di Asia Tenggara. Pemilihan Prilly, Arswendi dan Asmara dilakukannya karena kualitas mereka dalam memerankan semua karakter.
Karakter Ratna yang diperankan Prilly adalah pocong yang unik. Menurutnya, film Holy Crowd menggambarkan situasi yang terjadi saat ini di sekitar kita.
![]() |
| Prilly Latuconsina, pemeran Ratna dalam film pendek Holy Crowd |
"Saya relate sehingga berkaca-kaca saat baca skrip. Film ini menggambarkan bagaimana semua orang seperti ingin mengambil sesuatu dari diri kita. Selama masih menguntungkan orang dekat dengan kita, tetapi akan menjauh setelah tidak menguntungkan lagi," ucap Prilly.
Arswendi yang memerankan karakter ustaz mengungkapkan bahwa karakternya merupakan ustaz yang menyalahgunakan kekuasaan, bukan ustaz yang seharusnya mengayomi.
Original Wound
Film pendek Original Wound disutradarai Shelby Kho bersama Sam Manesa, sutradara asal Filipina. Para pemeran film ini mencakup Agnes Naomi, Omara Esteghlal, dan Vivian Idris. Film Original Wounds mengangkat dinamika keluarga yang terdiri dari ibu, kakak perempuan dan adik laki-laki yang tinggal dalam satu rumah.
![]() |
| Omara Esteghlal, pemeran adik laki-laki dalam film Original Wound |
Omara yang berperan sebagai adik laki-laki mengungkapkan bahwa walaupun keluarga ini tinggal di satu rumah, jiwanya tak ingin tinggal bersama. Film ini mengisahkan kakak dan adik yang ingin membebaskan diri dari rumah. Hal senada disampaikan Agnes Naomi yang memerankan kakak perempuan. Menurutnya, kakak adik dari orang tua yang sama belum tentu memiliki realita yang sama. Film ini mengenai keluarga yang sedang mengalami duka.
Baca juga: Film “Semua Akan Baik-Baik Saja” Angkat Isu Sosial dan Keluarga
Mothers Are Mothering
Film Mothers Are Mothering disutradarai Khozy Rizal bersama dengan Lam Li Shuen, sutradara asal Singapura. Para pemeran film ini mencakup Happy Salma, Asmara Abigail, dan Yudi Ahmad Tajudin. Pengarahan gambar film ini dilakukan oleh sinematografer Deska Binarso.
![]() |
| Khozy Rizal, sutradara film pendek Mothers Are Mothering |
"Tadinya hanya mau bikin film pendek drama, tetapi tiba-tiba filmnya berubah menjadi science fiction black comedy. Banyak topping manja dan bisa lintas banyak genre, range-nya luas. Happy Salma, Asmara Abigail dan Yudi Ahmad Tajudin bisa mendeliver itu, ada perasaan sangat luas yang disampaikan," ucap Khozy Rizal, sutradara film pendek Mothers Are Mothering.
Happy Salma mengungkapkan bahwa dirinya dapat bersenang-senang di set. Film ini memberi warna luar biasa yang bisa memperlihatkan kekuatan perempuan dari sisi yang lain. Semua pemeran kompak seperti memiliki orkestrasi sendiri yang sudah dipikirkan.
![]() |
| Happy Salma, pemeran film pendek Mothers Are Mothering |
Annisa
Film Annisa disutradari oleh Reza Rahadian dengan pengarahan gambar oleh sinematografer Faozan Rizal. Para pemeran film ini mencakup Choirunnisa Fernanda, Nazira C. Noer, dan Shakeel Fauzi. Film Annisa menceritakan kisah anak perempuan penyandang tuna netra bernama Annisa dengan kesederhanaannya. Annisa memiliki mimpi untuk tampil panggung tanpa mengukur panggung besar atau kecil, mendapat sorotan aray tidak. Reza mengungkapkan dirinya jatuh cinta pada semangat hidup anak ini.
Antusiasme untuk bisa berkolaborasi dengan sesama sineas Asia Tenggara diungkapkan oleh Reza Rahadian. Sebelumnya, Reza Rahadian telah sukses dengan debut feature Pangku. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi proses penting untuk pertumbuhan perfilman Indonesia.
“Next Step Studio memberikan kesempatan cerita-cerita dari Indonesia dan Asia Tenggara bisa makin terdengar dan diperbincangkan. Isu-isu yang penting dari kawasan Asia Tenggara semakin terlihat di perfilman internasional. Kolaborasi ini juga menjadi kesempatan bagi kami sesama sineas Asia Tenggara untuk saling berkomunikasi sekaligus momentum dalam proses bertumbuh untuk menghasilkan karya-karya terbaik mendatang,” ucap Reza Rahadian.
![]() |
| Reza Rahadian, sutradara film pendek Annisa |
Baca juga: Film “Pangku” Jadi Surat Cinta Reza Rahadian bagi Semua Perempuan
Penggarapan keempat film tersebut juga didukung oleh Retno Ratih Damayanti sebagai penata kostum dan Sigit D. Pratama sebagai Production Designer. Jajaran ko-produser film terdiri dari Dominique Welinski, Fanni Mardhotillah, Hannan Cinthya, dan Nazira C. Noer. Selain itu, juga ada Adi Sumarjono, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem, Dian Sastrowardoyo, Madeleine Tjahyadikarta, Melyana Tjahyadikarta, Muhammad Noviar Rahman, Prilly Latuconsina, Rio Pasaribu, Tony Ramesh, dan Trivet Sembel dalam jajaran produser eksekutif.
“Kami mengucapkan selamat kepada para sutradara, para produser, para pemain dan seluruh kru yang terlibat dalam produksi Next Step Studio dan ini momentum yang patut dirayakan, karena sinema Indonesia secara signifikan jumlahnya akan ditayangkan di La Semaine de la Critique Cannes. Tugas kami ke depan tentu saja berupaya untuk memfasilitasi dan memberikan feasibility bagi terjadinya kolaborasi dan ko-produksi antar-negara untuk terus dapat mempresentasikan sinema Indonesia di panggung global,” ucap Fauzan Zidni, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI).














