
Teknogav.com – Sharenting adalah tindakan orang tua yang berbagi kegiatan pengasuhan mereka, termasuk foto dan data anak di ranah online. Tindakan ini sering dilakukan orang tua masa kini untuk sekadar pamer, atau berbagi cara mengasuh dan membangun komunitas yang suportif. Sayangnya, ada bahaya mengintai di balik tindakan tersebut. Kaspersky dan Singapore Institute of Technology (SIT) pun membuat penelitian untuk memahami orang tua menilai risiko tersebut.
Penelitian Kaspersky dan SIT berjudul “Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Childrens’s Data”. Studi tersebut mengeksplorasi pendorong motivasi yang mempengaruhi pendekatan proaktif orang tua dalam melindungi privasi anak-anak di media sosial. Hasil studi dapat menunjukkan tingkat keyakinan orang tua terhadap kemampuannya menilai risiko terkait pendokumentasian kehidupan anak-anak secara online. Termasuk tingkat efektivitas langkah-langkah strategis untuk melindungi privasi anak.
Baca juga: Ancaman Siber Tahun 2024 Incar Anak-anak, Ini Sasaran Utamanya!
Laporan penelitian disusun Trishia Octaviano, Manajer Senior, Edukasi Keamanan Siber untuk Asia Pasifik di Kaspersky, dan Profesor Madya Jiow Hee Jhee, Wakil Direktur, Akademi Pengajaran dan Pembelajaran di SIT. Penyusunan laporan tersebut berdasarkan 152 tanggapan online dari Filipina, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Mesir, Singapura, dan Vietnam. Survei didistribusikan saat menggelar worskshop Ketahanan siber di negara-negara tersebut dan di media sosial. Selain itu, survei juga disebar melalui email ke jaringan orang tua dan guru Kaspersky Academy. Penyebaran ini didukung oleh Hong Kong Family Welfare Society, PeaceGeneration Indonesia, dan Vietnet Information Technology and Communication Centre. Survei digelar sekitar lima bulan, mulai pertengahan Oktober 2025 sampai akhir Februari 2026.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua di Asia Pasifik dan Mesir merasa lebih mudah melindungi anak-anak secara online, seiring bertambahnya usia. Naluri protektif para ibu menghasilkan perilaku yang lebih positif terhadap privasi digital. Kepercayaan diri, pengalaman dan naluri orang tua merupakan pendorong utama seberapa efektif mereka melindungi privasi online anak-anak mereka.
Baca juga: Perilaku Online Gen Z Ini Buka Celah Masuknya Ancaman Siber
Inti dari temuan ini adalah "penilaian penanggulangan", bagaimana orang tua mengevaluasi kemampuannya untuk menanggapi ancaman online. Studi ini mengidentifikasi persepsi efikasi diri, atau kepercayaan diri orang tua dalam kemampuan mereka untuk mengelola risiko digital. Ini termasuk kemampuan dalam mengendalikan pengaturan privasi, membatasi paparan data, dan mengelola apa yang dapat dipelajari pihak ketiga secara online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua siap mengambil langkah proaktif untuk melindungi privasi anakanak mereka.
Sejumlah 85% orang tua yang disurvei meyakini dapat menghindari menampilkan informasi identitas seperti tanggal lahir, sekolah atau alamat. Jumlah persentase yang sama juga menghindari berbagi gambar anak-anak mereka yang berpotensi memalukan. Sebanyak 84% membatasi akses ke konten yang dibagian kepada keluarga dan teman dekat. Sementara jumlah yang menahan diri untuk mengunggah detail pribadi yang bisa diidentifikasi mencapai 83%.
Baca juga: Chatbot AI bagi Anak-anak, Bahaya atau Bermanfaat? Ini Tipsnya!
Orang tua juga meyakini kemampuan untuk mengambil langkah tambahan untuk mengendalikan penyebaran foto dan informasi anak-anak secara online. Sejumlah 80% orang tua menghapus izin berbagi ulang, dan 78% menonaktifkan fitur metadata dan geotagging. Temuan tersebut menunjukkan kepercayaan diri dan kemampuan orang tua dalam mengendalikan yang melihat konten. Mereka juga memahami risiko tingkat penyebaran konten dan mengenai informasi tersembunyi yang bisa bocor ke tangan yang salah.
Sejumlah 84% orang tua meyakini dapat melibatkan anggota keluarga dan teman dekat dalam diskusi mengenai perlindungan privasi anak-anak. Sebanyak 82% setuju bahwa mereka memiliki kemampuan untuk meminta izin anak-anak sebelum berbagi konten mengenai anak-anaknya tersebut. Studi tersebut menunjukkan bahwa ketika orang tua meyakini tindakan mereka membuat perbedaan, maka mereka cenderung menindaklanjutinya secara konsisten.
Usia dan gender juga berperan penting dalam membentuk perilaku orang tua di ranah digital. Seorang ibu cenderung lebih condong ke praktik digital yang lebih aman. Persepsi penilaian penanggulangan yang lebih baik dari ibu-ibu menunjang niat yang lebih kuat untuk melindungi privasi anak-anak mereka. Ibu-ibu cenderung lebih percaya pada efektivitas langkah-langkah privasi dan yakin dengan kemampuannya untuk bertindak aman di media sosial. Naluri protektif ibu meluas ke ruang digital, sehingga perilaku dalam berbagi lebih hati-hati.
“Secara umum, seiring bertambahnya usia orang tua, mereka akan mendapatkan lebih banyak pengalaman dalam mengasuh anak. Mereka menjadi lebih peka ancaman dan kerentanan, baik online maupun offline, yang mengarah pada peningkatan proaktivitas dalam menanggapi dan melindungi. Bagi para ibu, mereka memiliki dorongan biologis untuk melindungi anak-anak mereka di dunia fisik. Hal ini diterjemahkan menjadi keinginan untuk melindungi mereka dari ancaman digital juga. Berdasarkan temuan keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa edukasi keamanan siber berkelanjutan dan pelatihan literasi media dibutuhkan terlepas usia dan jenis kelamin,” ucap Trisha Octaviano, Manajer Senior, Edukasi Keamanan Siber untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Hal senada disampaikan Profesor Madya Jiow Hee Jhee, menurutnya studi tersebut menekankan kenyataan yang berkembang dalam pengasuhan modern. Koneksi dan dukungan memang dapat tercipta dari berbagi momen keluarga secara online. Namun, hal tersebut juga bisa mengekspos anak-anak pada risiko yang kerap tak terlihat. Risiko tersebut termasuk profiline, pelacakan yang tidak diinginkan, dan penyalahgunaan informasi pribadi.
“Temuan kami menunjukkan bahwa orang tua sangat termotivasi untuk melindungi privasi anak-anak ketika mereka merasa yakin dengan kemampuannya untuk mengambil langkah-langkah praktis dan percaya bahwa langkah-langkah tersebut benar-benar berhasil. Kami mendorong orang tua untuk meluangkan waktu sejenak hari ini untuk meninjau pengaturan privasi media sosial mereka dan melakukan percakapan keluarga sederhana tentang apa yang harus—dan tidak boleh—dibagikan secara daring, karena melindungi jejak digital anak-anak dimulai dengan pilihan yang kita buat setiap hari,” ucap Profesor Jhee.
Tips Membangun Keamanan Keluarga
Kaspersky memberikan daftar periksa singkat mengenai cara mengelola privasi digital demi membangun keamanan keluarga secara online, yaitu sebagai berikut:
- Hapus akun lama yang tidak lagi digunakan.
- Atur akun menjadi privat jika tidak ingin profil bersifat publik.
- Luangkan waktu untuk menelusuri pengaturan privasi di akun media sosial, dan periksa secara berkala, karena pengaturan tersebut cenderung berubah. Tinjau jaringan kontak, kegiatan masa lalu, dan visibilitas profil.
- Sebelum mengungkapkan segala informasi secara online, pertimbangkan apakah informasi tersebut dapat menjadi bumerang.
- Waspada saat mengungkapkan geolokasi dalam unggahan, dan hapus metadata dari file foto
- Pertimbangkan untuk menghapus unggahan yang mengungkap lokasi anak yang sering dan penting, misalnya sekolah,= dan klub olahraga.
- Pantau secara aktif kegiatan online anak
- Gunakan alat untuk memudahkan pengendalian orang tua, termasuk melacak keberadaan dan kebiasaan menggunakan perangkat. Salah satu layanan yang bisa digunakan adalah Kaspersky Safe Kids yang sudah tercakup dalam Kaspersky Premium. Layanan tersebut memudahkan pengendalian orang tua, termasuk melacak keberadaan dan kebiasaan penggunaan perangkat, membatasi konten dan menyeimbangkan waktu layar.
Demikianlah beberapa tips dari Kaspersky agar privasi data digital anak-anak tetap dapat dijaga dengan baik.





