
Teknogav.com - Di era digital ini, game mendukung anak-anak untuk membangun dunia dan bersosialisasi dalam realitas alternatif. Era saat Akal Imitasi (AI) dapat menjadi teman baik anak-anak dalam mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR). Aliran konten digital juga bisa tersedia hanya dengan sentuhan layar. Namun, ruang bermain anak-anak ini juga dapat dimanfaatkan sebagai saluran bagi predator.
Ruang-ruang yang terlihat aman ini dapat berfungsi ganda sebagai vektor serangan ideal bagi penjahat siber. Perundungan siber dapat dapat terjadi di ruang obrolan game dan umpan phishing pun dapat dilakukan melalui aplikasi populer. Ketika memberikan informasi ke dalam chatbot AI, serangan rekayasa sosial pun dapat dilancarkan memanfaatkan sekumpulan informasi yang diberikan. Sayangnya, ancaman siber ini merupakan realitas lanskap digital tempat generasi muda saat ini.
Baca juga: Chatbot AI bagi Anak-anak, Bahaya atau Bermanfaat? Ini Tipsnya!
Pemerintah di seluruh dunia sudah berupaya untuk melindungi generasi muda dari bahaya online ini. Salah satunya adalah pemerintah Singapura yang memperkenalkan Kode Praktik untuk Keamanan Daring bagi Layanan Distribusi Aplikasi. Lima toko aplikasi utama, termasuk Apple App Store dan Google Play Store diwajibkan menerapkan serangkaian langkah untuk mengurangi potensi bahaya di ranah online dan meningkatkan proses mitigasi. Kebijakan serupa juga sudah diberlakukan di negara-negara sekitarnya di Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia. Negara-negara tersebut menerapkan pembatasan akses bagi anak-anak di platform media sosial tertentu.
Percakapan seputar keselamatan anak-anak di ranah online juga terus berkembang di seluruh Asia Tenggara. Ancaman siber yang menyasar audiens yang lebih muda bukan merupakan hal baru. Tingginya rasa ingin tahu dan antusiasme generasi muda memicu pelaku ancaman untuk mengeksploitase mereka. Apalagi jika mereka kurang berpengalaman dalam mengenali risiko siber. Seiring tren digital, maka ancaman tersebut pun kian canggih dan berskala besar, sehingga dampaknya jauh lebih mengkhawatirkan dari sebelumnya.
Baca juga: Kerentanan Mainan Pintar Mungkinkan Penjahat Siber Lakukan Video-Call dengan Anak-anak
AI dan Ancaman terhadap Privasi Data
AI tak hanya mempermudah pembuatan materi yang bersifat kasar atau kekerasan bagi anak-anak beserta eksposurnya. Kehadiran AI juga meningkatkan ancaman pada privasi data.
Satu pelanggaran data pada AI dapat membuka akses ke repositori informasi sensitif yang terperinci bagi penjahat siber. Informasi tersebut dikumpulkan dari masukan penggunanya. Tren berbasis AI yang tampak tidak berbahaya pun dapat menciptakan jalan baru untuk eksploitasi. Contohnya tren terbaru karikatur pengguna yang dihasilkan AI, tanpa disadari gambar-gambar tersebut mengungkapkan detail pribadi mereka. Detail tersebut mencakup pekerjaan dan hobi mereka, yang memudahkan dimanfaatkan untuk serangan rekayasa sosial.
Baca juga: Ancaman Siber Tahun 2024 Incar Anak-anak, Ini Sasaran Utamanya!
Game sebagai Celah Kejahatan Siber
Penjahat siber juga dapat mengintai melalui game online. Data Kaspersky baru-baru ini menunjukkan bahwa ancaman siber terkait permainan meningkat sebesar 86% di seluruh Asia Tenggara pada semester II tahun 2025. Tren ini dicerminkan Singapura dengan peningkatan sebesar 22%.Beberapa judul yang paling banyak menjadi sasaran mencakup Minecraft dan Roblox karena fitur-fiturnya yang sangat dapat disesuaikan. Perilaku pemain yang sering mencari cheat, mod, atau skin karakter eksklusif dimanfaatman penjahat siber sebagau kedok untuk menyamarkan file berbahaya. Korban diarahkan ke situs web palsu yang mengklaim menawarkan add-on menarik. Hal yang dimulai sebagai pencarian peningkatan game dapat berubah sekejap menjadi paparan data pribadi dan risiko keamanan serius sampai kerugian finansial.
Orang tua dan anggota keluarga perlu menyadari bahwa anak-anak tidak selalu menjadi sasaran akhir, melainkan sebagai titik masuk ke dalam keluarga. Ketika remaja menggunakan perangkat rumah tangga bersama, atau memiliki akses ke kartu kredit orang tua mereka untuk pembelian online, satu pelanggaran saja dapat memberi penyerang akses ke akun dan data yang tersimpan milik anggota keluarga lainnya. Hal ini mengubah serangan terisolasi menjadi serangan berlapis dengan konsekuensi lebih merusak.
Potensi Permusuhan atau Perundungan Siber dari Game Online
Perundungan siber tetap menjadi perhatian signifikan di berbagai platform yang memungkinkan komunikasi, termasuk game online dan platform media sosial. Anonimitas yang dirasakan di lingkungan digital seringkali menurunkan hambatan perilaku, menyebabkan individu terlibat dalam pelecehan dihindari di dunia nyata. Kendati banyak platform memperkenalkan alat moderasi dan penyaringan konten berbasis AI, kewaspadaan pengguna tetap menjdi dasar dalam melawan bahaya online.
Upaya kolektif dari komunitas dibutuhkan untuk memastikan konten berbahaya dan pengguna yang konsisten melakukan pelecehan dilaporkan kepada tim dukungan platform. Hal ini penting untuk memperkuat pengamanan platform tersebut dan melindungi ruang digital anak-anak.
Membangun pertahanan digital
Beberapa langkah praktis dapat dilakukan anak-anak yang mengalami perundungan siber untuk membantu mengurangi risiko. Langkah-langkah ini adalah menghindari berinteraksi dengan pelaku, laporkan perilaku pelecehan, dan meminta dukungan dari orang dewasa yang terpercaya. Penting untuk melibatkan penegak hukum dalam kasus yang melibatkan ancaman terhadap keselamatan.Solusi kontrol berperan penting dalam melindungi anak-anak secara online dari sudut pandang pencegahan. Alat-alat ini tidak hanya memberikan visibilitas terhadap kegiatan digital anak, tetapi juga memungkinkan orang tua membatasi akses ke konten yang tidak pantas. Orang tua dapat menetapkan batasan waktu layar, dan menciptakan lingkungan online yang lebih aman sesuai usia dan kebutuhan anak.
“Namun, teknologi saja tidak cukup. Komunikasi terbuka dan kepercayaan antara orang tua dan anak sangat penting untuk keamanan digital yang berkelanjutan. Membatasi akses tanpa penjelasan justru sering menyebabkan perilaku yang didorong rasa ingin tahu dan pengambilan risiko. Sebaliknya, menumbuhkan literasi digital, membahas potensi ancaman, dan mendorong anak-anak untuk berbagi pengalaman daring mereka dapat secara signifikan memperkuat ketahanan terhadap ancaman siber," ucap Andrey Sidenko, analis utama konten web dan pakar keamanan daring anak-anak di Kaspersky.
Andrey Sidenko juga menambahkan bahwa perlu pendekatan seimbang dalam memastikan keselamatan anak-anak di dunia digital. Pendekatan tersebut menggabungkan perlindungan teknologi, tanggung jawab platform, dan hubungan kuat berbasis kepercayaan dalam keluarga. Dalam memastikan arena bermain digital anak-anak tidak menjadi tempat pelaku ancaman berburu, hanya bisa dilakukan melalui upaya kolektif.






