
Teknogav.com – Sennheiser HD 480 Pro Plus merupakan headphone closed-back kelas atas yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan studio dan live. Reproduksi bass yang akurat dari Sennheiser HD 480 Pro Plus ini dirasakan langsung oleh Rafki Fachrizal, bassist Letter for Maryam. Letter for Maryam adalah band emo atau rock alternatif asal Tangerang, Indonesia yang baru meluncurkan single "Niskala" awal tahun ini. Rafki menggunakan headphone pro-audio tersebut untuk latihan di studio dan di rumah, serta merekam bass cover di rumah.
Latihan di Studio
Biasanya, saat latihan di studio, Rafki hanya mengandalkan amplifier di studio untuk mengetahui suara yang dihasilkan dari instrumen bass. Tantangannya, permainan bass terkadang kurang bisa didengar secara detail. Hal ini dapat diatasi dengan mengenakan headphone, sayangnya, kebanyakan headphone closed-back membuat suara bass terlalu gemuk dan tidak akurat. Kondisi tersebut diakui Rafki membuatnya susah mengetahui apakah tone yang dihasilkannya benar-benar tight atau sekadar terasa besar karena headphone. Berbeda saat menjajal Sennheiser HD 480 Pro Plus, Rafki merasakan kejujuran di low-end.
.jpeg)
“Saya bermain dengan pick, dan setiap attack terdengar dengan definisi yang jelas. Saya bisa langsung mendengar di nada mana bass saya ‘nabrak’ dengan kick drum, dan mana yang kurang pas. Hal seperti ini bisa membantu saya untuk mengulik lagu baru di studio bareng anak-anak band,” ucap Rafki.
Setting yang digunakan saat di studio adalah bass dipasang ke amplifier, kemudian disambung ke mixer. Headphone Sennheiser HD 480 Pro Plus dipasang di mixer tersebut untuk mendengarkan. Saat menggunakan headphone tersebut, suara bass dan instrumen lain, termasuk vokal terdengar jelas dan detail dibandingkan saat hanya mengandalkan amplifier. Ketika headphone dikenakan, suara dari luar juga bisa diisolasi secara maksimal walau suara di studio sangat keras. Tidak ada kebocoran suara saat headphone tersebut dikenakan.
.jpeg)
Baca juga: Sennheiser HD 480 Pro, Headphone Closed-Back untuk Studio dan Live
Rafi Cahya Ramadhani, gitaris Letter for Maryam juga mengungkapkan bahwa saat mixing atau recording, detail-detail kecil jadi lebih mudah terdengar. Menurutnya, Sennheiser HD 480 Pro Plus ditujukan untuk orang yang serius di dunia audio. Suara yang dihasilkan begitu flat, sehingga treble, mid, dan bass terasa seimbang, tidak ada yang terlalu menonjol. Setting yang digunakan Rafi adalah gitar disambungkan ke multi-effect, kemudian disambungkan ke amplifier. Amplifier tersebut dihubungkan ke mixer yang dipasangi headphone Sennheiser HD 480 Pro Plus sebagai keluaran.

“Sebagai gitaris, Sennheiser HD 480 Pro Plus membantu menentukan tone di multi-effect yang dipakai. Ini karena detail dan frekuensi yang dihasilkan headphone jujur, terutama dalam menentukan gain, reverb dan delay. Jika memakai headphone biasa, hal-hal tersebut tidak terlalu terdengar. Sennheiser HD 480 Pro Plus juga sangat nyaman dikenakan. Bantalan kupingnya sangat empuk, jadi tetap nyaman saat dipakai berjam-jam, tidak membuat telinga cepat pegal. Ini merupakan headphone monitoring dengan suara enak dan nyaman dipakai seharian, dengan harga yang sesuai,” ucap Rafi.
![]() |
| Sennheiser HD 480 PRO Plus |
Headphone Sennheiser HD 480 Pro Plus nyaman saat digunakan berlama-lama latihan. Saat berlatih selama dua jam, telinga tetap nyaman, tidak terasa lelah seperti saat pakai headphone yang kurang tepat untuk monitoring. Bobot headphone juga cukup ringan, dan desain headphone tidak membuat telinga cepat gerah. Headphone tersebut cocok untuk musisi yang latihan sekitar tiga sampai empat jam.
Rekaman Bass di Rumah
Rafki juga menggunakan Sennheiser HD 480 Pro Plus untuk mendukung merekam bass di rumah. Bass dihubungkan dengan soundcard lalu masuk ke software DAW (Reaper) dan tambahan plug-in di laptop untuk mixing. Headphone Sennheiser HD 480 Pro Plus digunakan untuk monitoring yang akurat, sekaligus untuk keputusan mixing.

“Saat nge-take bass, dinamika petikan, pick attack, sampai noise kecil bisa didengar dengan jelas. Suara ini tidak terdeteksi sampai playback saat pakai headphone biasa. Terkait noise, rekaman pertama yang dicoba dengan Sennheiser HD 480 Pro Plus langsung mengungkap beberapa hal yang selama ini terlewatkan. Noise fret yang saya kira sudah hilang ternyata masih ada di frekuensi tertentu,” ucap Rafki.
Fitur Vibration Attenuation System juga bekerja mengurangi reflected sound dan distorsi, sehingga menghasilkan kejernihan low-end yang luar biasa. Hasil ini sangat signifikan untuk pemain bass yang terbiasa bermain di frekuensi bawah. Fitur tersebut memungkinkan untuk mendengar karakter setiap senar dengan jelas, sesuatu yang sangat dibutuhkan saat rekaman cover yang menuntut presisi.

Keistimewaan lain headphone ini adalah kabel detachable dengan koneksi Mini-XLR, termasuk kabel spiral 3 meter dengan adapter 6,3 mm. Kabel spiral sangat praktis untuk home recording, karena tidak kusut atau membelit di kursi. Panjang kabel tersebut juga pas untuk leluasa bergerak dari meja ke posisi rekaman.
![]() |
| Sennheiser HD 480 PRO Plus |
Sennheiser HD 480 Pro Plus memiliki impedansi 130 ohm. Ini berarti headphone lebih optimal jika dipasang ke audio interface atau amplifier headphone dibanding dipasang langsung ke laptop. Saat melakukan perekaman, headphone ini dipasang ke soundcard, hasilnya sangat bagus. Volume yang dihasilkan cukup dan karakter suaranya keluar penuh.
Latihan di Rumah
Saat latihan sendiri di rumah, Sennheiser HD 480 Pro Plus mendukung latihan terasa lebih asyik. Biasanya, ketika menggunakan headphone biasa yang dihubungkan ke output amplifier, suara terdengar flat atau terlalu bright. Suara yang dihasilkan terasa tidak bernyawa. Lain halnya, saat dipasang ke Sennheiser HD 480 Pro Plus, karakter amplifier tersebut tetap terasa. Saat latihan di rumah, biasanya juga menggunakan backing track dengan sumber smartphone yang dihubungkan ke aux-in amplifier.
“Karakter growl dari bass yang biasanya Cuma terasa di speaker bisa terepresentasikan dengan jelas. Perbedaan antara memetik keras dekat bridge dan lembut di neck, biasanya suara ini menghilang di headphone monitoring yang biasa dipakai. Saat menggunakan Sennheiser HD 480 Pro Plus, suara terdengar alami dan proporsional,” ucap Rafki.
Penggunaan Sennheiser HD 480 Pro Plus bisa membuat lebih percaya diri saat mengevaluasi tone sendiri. Kejujuran headphone tersebut membuat bisa mengetahui apakah perubahan EQ di amplifier benar-benar mempengaruhi atau hanya memberikan harapan untuk mempengaruhi. Ini merupakan wawasan yang bagus untuk proses belajar.
Selain itu, isolasi pasifnya memang bekerja. Tetangga tidak terganggu, musisi dapat bebas bermain musik dengan intensitas penuh tanpa khawatir soal waktu. Latihan sampai tengah malam jadi tidak masalah sama sekali. Sennheiser HD 480 Pro Plus mendukung latihan rutin yang konsisten bagi musisi yang tinggal di lingkungan padat.
Baca juga; Review Headphones Sennheiser HD 490 Pro Plus, Cocok untuk Studio
Kesimpulan
Sennheiser HD 480 Pro Plus dapat memenuhi kebutuhan seorang bassist yang kerjanya di frekuensi yang sering susah dipresentasikan headphone. Nyatanya, headphone ini menjawab kebutuhan bassist di tiga situasi berbeda, yaitu di studio, home recording dan latihan di malam hari. Suara yang dihasilkan detail, tetapi tidak membuat telinga lelah, kenyamanan terjaga, bahkan saat dikenakan lama. Sennheiser HD 480 Pro Plus merupakan pilihan solid bagi musisi yang membutuhkan satu headphone premium untuk banyak skenario.
Harga yang dibanderol pada HD 480 PRO Plus yang disertai travel case adalah Rp 9.690.000. Sebagai alernatif, tersedia juga HD 480 PRO yang dibanderol Rp8.806.000. Paket tersebut sudah termasuk earpad, kabel spiral dan tas penyimpanan. Pembelian dapat dilakukan melalui Chandracom.
Spesifikasi Teknis HD 480 PRO Plus
- Prinsip akustik: tertutup
- Ear coupling: circumaural
- Prinsip transduser: dinamis
- Diameter transduser: 38 mm
- Respons frekuensi: 3 Hz hingga 28.700 Hz (-10 dB)
- Sensitivitas: 107 dB SPL (pada 1 kHz/1 Vrms); 98 dB (pada 1 kHz, 1 mW)
- SPL Maksimum: 130 dB (1 kHz, 5% THD)
- THD: <0,5% (pada 1 kHz, 100 dB SPL)
- Impedansi: 130 ohm (1 kHz)
- Power rating: 300 mW (100 jam, kebisingan sesuai IEC 60268)
- Range suhu: 0°C hingga +50°C untuk pengoperasian; Suhu penyimpanan: -25°C hingga +70°C
- Kelembapan relatif: 10 hingga 80%, tanpa kondensasi untuk pengoperasian; 10 hingga 90% untuk penyimpanan
- Bobot: 272 g (tanpa kabel)







