Perumahan Laddaland, Mimpi Borjuasi yang Membusuk di Balik Perumahan Mewah Perumahan Laddaland, Mimpi Borjuasi yang Membusuk di Balik Perumahan Mewah ~ Teknogav.com

Perumahan Laddaland, Mimpi Borjuasi yang Membusuk di Balik Perumahan Mewah

Teknogav.com - ‎Genre horor Indonesia kembali diramaikan oleh remake film Thailand. Sekarang giliran Perumahan Laddaland yang diangkat ke layar lebar oleh MD Pictures. Film ini merupakan interpretasi ulang dari film horor legendaris Thailand, Laddaland (2011). Versi asli film ini sempat menjadi box office dan meraup pemasukan USD5,7 juta (sekitar Rp101 miliar) saat dirilis.

Kini versi Indonesia film Laddaland disutradarai Awi Suryadi bersama penulis skenario Lele Laila. Pada remake anyar Perumahan Laddaland, linimasa cerita digeser ke tahun 2026 dan memodernisasi cerita ke tengah krisis finansial. Selain itu, film ini dinilai tepat menghadirkan kecemasan masyarakat perkotaan modern terhadap dinamika kehidupan yang fluktuatif dan tak kenal waktu. 

Baca juga: Film “Labinak: Mereka Ada di Sini” Bangkitkan Kesakralan dengan Audio

‎Sinopsis

Film mengikuti kisah suami istri ‎Tomy (Andri Mashadi) dan Melisa (Titi Kamal) bersama dua anaknya, Tania (Anantya Kirana) dan Elvin. Mereka baru saja pindah ke rumah baru di klaster elite bernama Laddaland. Awalnya, Tomy melihat betapa asrinya lanskap kompleks perumahan tersebut. Namun, suasana berubah saat asisten rumah tangga mereka, Eneng (Delia Husein) ditimpa musibah. Eneng ditemukan tewas mengenaskan dalam kulkas salah satu rumah warga, suasana pun kian terasa mencekam.

Pasca-tragedi tersebut, atmosfer Laddaland berubah drastis. Satu per satu penghuni kompleks memutuskan untuk pergi. Tak hanya itu, kompleks perumahan juga dipenuhi manifestasi makhluk halus yang misterius, dan membuat penghuni lain mati mengenaskan. Hal ini diperparah dengan penampakan Eneng yang dilihat Tania, dia pun merasa dihantui sesuatu. Seluruh peristiwa perlahan mulai memecah belah kewarasan keluarga Tomy dari dalam. Apa yang sekanjutnya terjadi pada mereka?

Baca juga: ‘Temurun’, Film Horor Penuh Plot Twist dengan Efek Audio Mencekam

‎Narasi yang Tetap Mengacu ke Film Aslinya

Sebenarnya agak mengagetkan melihat film Laddaland di-remake melalui film Perumahan Laddaland, karena jenis horor tersebut tak populer di Indonesia. Isu sosial ekonomi yang menjadi dasar narasi memang kental sekali terlihat. Narasi yang tak banyak berubah dari film aslinya tak membuat film ini kehilangan momentum. Ada perubahan minor yang disesuaikan dengan kebutuhan film tapi tidak berdampak besar terhadap plot utamanya yang memang menjadi landasan cerita.

Kepindahan Tomy ke perumahan klaster, awalnya dipandang sebagai validasi keberhasilan sosial di hadapan sang mertua. Namun, saat peristiwa kematian muncul, justru memicu rentetan teror supranatural sekaligus menguak fakta di balik Perumahan Laddaland. Kenyataan bahwa perumahan tersebut dibangun di atas landasan eksploitasi, keputusasaan ekonomi, dan isolasi sosial. Semua hal tersebut lambat laun meracuni kewarasan Tomy serta menghancurkan keluarganya dari dalam.

Baca juga: Danyang “Mahar Tukar Nyawa” akan Tayang di 11 Negara 

Tone Gelap dengan Visualisasi Mencekam

‎Satu hal yang berbeda dari film Awi Suryadi sebelumnya adalah tone yang digunakan. Awi menggunakan tone warna gelap yang berhasil menangkap lanskap estetika perumahan mewah dengan kelam, termasuk saat malam hari. Tone ini membuat suasana interior ruangan bak ruang klaustrofobik yang mencekam dan menakutkan melalui serangkaian jumpscares di beberapa adegan. Sejumlah unsur ini akan membuat penonton terkejut melihat apa yang disuguhkan, tapi sayangnya skoringnya sedikit mudah diprediksi.

‎Metafora Sosial yang Tajam

Unsur menarik dari Perumahan Laddaland adalah jenis horor yang disuguhkan. Nuansa horornya bukan terletak pada penampakan supernatural ataupun entitas, melainkan pada isu sosial ekonomi yang dihadapi Tomy. Isu-isu tersebut mencakup tagihan cicilan rumah, pemutusan hubungan kerja sepihak, serta keputusasaan Tomy menghadapi ibu mertuanya saat mempertahankan status sosialnya yang diraih susah payah. Jenis horor ini sangat jarang di Indonesia dan menjadi pembaruan penting di genre horor yang kini dipenuhi urband legend lokal.

‎Kesimpulan

‎Perumahan Laddaland bukan sekadar film horor biasa yang biasanya menghadirkan sosok atau entitas supranatural yang intens. Namun film ini merupakan suatu proksi dari kecemasan modern mengenai kegagalan finansial dan runtuhnya institusi keluarga. Film ini berhasil menyajikan potret satir bahwa neraka terdalam sering kali berwujud ekspektasi sosial yang gagal dipenuhi. Hal tersebut disajikan dengan memadukan estetika visual yang dingin lewat tone warna gelap, dan narasi psikologis yang pekat.

Berlatarkan distopia urban, narasi Perumahan Laddaland kadang terasa repetitif saat mengangkat konflik keluarga bahagia yang terasa semu ketika menjalani keseharian. Film ini merupakan autopsi visual terhadap runtuhnya kesehatan mental kelas pekerja yang dipaksa tunduk pada standar kemakmuran palsu. Sayangnya, ketika Tomy menyadari itu, semua sudah terlambat.

Sutradara: Awi Suryadi
‎Pemeran: Titi Kamal, Andri Mashadi, Anantya Kirana, Shakeel Fauzi, Delia Husein
‎Durasi: 99 menit
‎Skor: 5.0/10‎

Share:

Artikel Terkini