
Teknogav.com – Empat Musim Pertiwi merupakan film drama psikologis kontemporer arahan sutradara Kamila Andini. Film ini merupakan film misteri dan thriller yang mengangkat tema antihero, feminisme, teknologi dan sentuhan ekstraterestrial dengan simbol mendalam. Jajaran pemeran film ini juga menampilkan kekuatan akting dengan chemistry yang kuat satu sama lain.
Tak hanya menyutradarai, Kamila Andini juga menulis kisah dalam film yang memiliki judul internasional "Four Season in Java" ini. Sebelum tayang untuk umum di Indonesia pada 8 Oktober 2026 nanti, film ini telah lebih dahulu tampil di panggung internasional. World Premiere film ini telah dilakukan di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 melalui program Centrepiece. Film ini juga ditayangkan di Busan International Film Festival dan Tokyo International Film Festival. Pada Academy Wards ke-99 tahun 2027, film ini juga terpilih mewakili Indonesia untuk kategori Best International Feature Film.
Empat Musim Pertiwi juga banyak menampilkan keindahan alam Bromo, alam, suara dan suasana sekitar yang menjadi bagian penting dalam cerita. Suasana tersebut juga ikut menggambarkan perasaan dan perjalanan Pertiwi. Kisah dalam film ini menampilkan kehidupan manusia, keluarga, masa lalu, dan persoalan sosial. Film berdurasi 2 jam 17 menit ini menggabungkan drama psikologis, misteri, dan thriller dengan nuansa western kontemporer.

Sinopsis
Film ini mengisahkan tentang Pertiwi (Putri Marino) yang baru dibebaskan dari penjara dan kembali ke desa asalnya setelah 20 tahun. Pertiwi masuk penjara atas tuduhan membunuh seorang pria yang dianggap tak bersalah oleh masyarakat desa asal Pertiwi di kawasan Bromo. Tentu saja hal ini menyebabkan Pertiwi tidak mendapat sambutan baik dari warga saat kembali, bahkan cenderung ke penolakan. Instruksi pengetatan keamanan desa pun diperkuat akibat banyak yang masih memandang Pertiwi dengan kecurigaan. Tak hanya masyarakat yang melakukan penolakan, ayah Pertiwi (Iswadi Pratama) bahkan seperti tak menginginkan kepulangan putrinya sendiri.
Baca juga: Film The Housemaid, Thriller Psikologis yang Menguras Emosi
Pertiwi hanya mendapat sambutan hangat dari Bisma (Arya Saloka) dan Mak Ira (Christine Hakim) yang bahkan membantunya melewati masa sulit. Bisma sendiri adalah mantan kekasih Pertiwi yang menikahi sahabat Pertiwi, yaitu Niken (Hana Malasan). Sedangkan Mak Ira adalah mantan pelacur yang membuka warung berbagai makanan dan minuman yang cocok untuk turis di kawasan Bromo. Mak Ira juga merupakan ibu dari Niken.
Masa lalu dan trauma yang selama ini Pertiwi pendam dihadapinya dengan mencoba berdamai dengan apa yang terjadi. Pertiwi berusaha mencari kembali arti rumah, keluarga dan ketenangan dalam hidupnya. Empat Musim menggambarkan empat fase kehidupan Pertiwi, mulai dari masa gelap penuh luka dan kesulitan, sampai menemukan harapan baru.
Desanya saat ini dikuasai secara tidak langsung oleh para pria yang dulu menjebloskannya ke pnejara. Segala tindakan Pertiwi untuk membela kebenaran demi menghentikan siklus kekerasan justru akan balik mempersulit kehidupan orang yang dibantunya. Tindakan tersebut termasuk dalam memperjuangkan kehidupan seorang gadis bisu-tuli yang mencerminkan masa lalunya, dan mempertahankan warung Mak Ira.
Kekuatan Akting
Putri Marino tampil sangat mengesankan dalam memerankan Pertiwi, sang antihero. Ia berhasil menampilkan karakter yang kompleks, rapuh, penuh luka, tetapi juga berdaya dalam kejeniusannya di bidang teknologi. Lapisan feminisme juga dapat ditampilkan Hargi Sundari yang memerankan ibunda Pertiwi saat akhirnya mengetahui kebenaran yang disembunyikan suaminya.
Seperti biasa, akting Christine Hakim selalu memukau, perannya sebagai Mak Ira bisa memberi kedalaman emosional walau terkesan jenaka. Akting Christine Hakim juga memberikan keseimbangan emosional bersama dengan akting Dwika Pradnyana yang memerankan Kuntet. Sementara, konflik emosional diperkuat akting Arya Saloka yang menghadirkan energi maskulin kontras sebagai Bisma. Chemistry antara Arya Saloka dan Putri Marino juga terasa intens, penuh ketegangan sekaligus saling melengkapi. Jajaran pemeran lainnya seperti Iswadi Pratama, Hana Malasan, dan Nagra Kautsar Pakusadewo juga memperkuat atmosfer desa yang penuh intrik.
Alur Cerita dan Simbol
Empat musim dalam film ini menggambarkan siklus kehidupan dan trauma masa lalu yang dihadapi oleh Pertiwi. Setiap perjuangan Pertiwi untuk menegakkan kebenaran dan membela yang lemah selalu berakibat penindasan yang lebih berat. Kondisi ini menggambarkan situasi yang banyak terjadi di masyarakat jika berusaha menentang penguasa. Suasana desa yang berkabut juga merepresentasikan memori kelam dan ketidakpastian masa depan.
Baca juga: Film We Bury The Dead: Alur Lambat, Penuh Simbolis Makna
Pace film in cenderung lambat untuk memberi ruang bagi penonton untuk menyerap atmosfer desa berkabut dan trauma masa lalu pertiwi. Isolasi dan keterasingan yang dialami Pertiwi dapat dirasakan melalui ritme yang lambat ini. Nuansa misteri dan psikologis diperkuat dengan alur cerita non-linear dengan kilas balik masa lalu.
Ketegangan dalam film dibangun bukan melalui aksi cepat, tetapi dari interaksi emosional antar-karakter dan simbol-simbol yang mucul berulang. Latar gunung Bromo juga menggambarkan kemegahan yang isolatif sebagai representasi perjalanan batin tokoh utama. Sementara ekspresi rapuh Pertiwi ditangkap dengan pengambilan gambar close-up. Simbolisme dalam film ini disampaikan tanpa harus dijelaskan melalui dialog.
Keahlian Pertiwi dalam menerapkan teknologi canggih yang bisa membuat kediamannya tak bergantung dengan fasilitas yang dikelola penguasa membuatnya independen. Namun, teknologi tersebut tidak dapat dinikmati masyarakat desa karena kepentingan penguasa agar masyarakat tidak dengan mudahnya bisa sejahtera. Kisah ini mengingatkan pada kehidupan Nikola Tesla yang berusaha membuat teknologi bisa dinikmati orang banyak, tetapi justru dijegal. Unsur ekstraterestial dalam film ini menjadi metafora keterhubungan manusia dengan kekuatan tak terlihat yang mengendalikan hidup.
Baca juga: Film “Pangku” Jadi Surat Cinta Reza Rahadian bagi Semua Perempuan
Audio dalam film ini juga menghadirkan atmosfer mendalam, seperti keheningan desa dan bisikan angin yang menyatu dengan emosi karakter. Lapisan emosional juga diperkuat dengan musik yang memadukan nuansa tradisional dan elektronik yang menegaskan benturan masa lalu dengan modernitas. Nuansa misteri dan psikologis dalam film ini diperkuat dengan palet warna dingin dengan pencahayaan yang kontras.
Kesimpulan
Empat Musim Pertiwi adalah film berlapis yang memadukan drama psikologis, isu feminisme, dan fantasi kosmik. Pace film ini lambat, tetapi penuh intensitas yang menekankan atmosfer dan simbolisme. Putri Marino yang memerankan karakter utama berhasil membawa penonton masuk dalam dunia penuh luka, feminisme dan misteri kosmos. Akting solid dan chemistry kuat, serta simbolisme mendalam, menjadikan film ini bukan hanya hiburan tetapi juga refleksi sosial dan eksistensial. Tak heran jika film ini menjadi wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027.






