Review Film The Intern (2026): Remake yang Hangat dan Relevan Review Film The Intern (2026): Remake yang Hangat dan Relevan ~ Teknogav.com

Review Film The Intern (2026): Remake yang Hangat dan Relevan

Teknogav.com – Warner Bros kembali menghadirkan film The Intern, kali ini merupakan versi remake dari The Intern (2015) karya Nancy Meyers. The Intern (2026) merupakan film asal Korea arahan sutradara Kim Do-young. Film ini dibintangi oleh Choi Min-sik yang memerankan Kim Gi Ho dan Han So-hee yang memerankan Seon-Woo Lee. Pada versi orisinalnya, The Intern (2015) diperankan oleh Robert De Niro dan Anne Hathaway. Tema yang diusung film ini masih relevan sampai saat ini, mengenai pentingnya hubungan antargenerasi di era kerja yang kian digital.

Ruang kerja yang kian didominasi generasi muda pun menimbulkan pertanyaan mengenai nilai pengalaman dan kebijaksanaan. Versi remake film ini mencoba menerjemahkan kisah lintas generasi tersebut ke dalam budaya kerja modern Korea Selatan yang dikenal kompetitif. Budaya Korea ini menjadi latar yang ideal untuk memberikan perspektif baru terhadap cerita dunia kerja ini.

sumber: Warner Bros

Kim Do-young merupakan sutradara yang dikenal melalui film-film drama yang kuat secara emosional, salah satunya Kim Ji-young, Born 1982. Kendati awalnya mengaku sempat ragu menangani proyek remake karena kuatnya citra film asli, Kim Do-young memilih mempertahankan esensi cerita. Namun alur film ini disesuaikan dengan realitas sosial dan budaya Korea masa kini. Hasilnya, film ini tidak sekadar menyalin adegan demi adegan di film sebelumnya, tetapi juga menghadirkan identitasnya sendiri.

Baca juga: Review Film Digger: Satire Gelap tentang Alam, Politik, dan Kapitalisme

Sinopsis

Film ini mengikuti kisah Kim Gi-ho (Choi Min-sik), seorang pria berpengalaman dengan rekam jejak karier puluhan tahun. Kim Gi-ho memutuskan kembali ke dunia kerja melalui program "silver intern" dan diterima di perusahaan fashion startup bernama Woo22. Perusahaan tersebut dipimpin oleh CEO muda dan ambisius, Seon-woo Lee (Han So-hee). 

Sosok Kim Gi-ho awalnya tampak seperti sosok yang tak lagi relevan bekerja di lingkungan kerja yang didominasi generasi muda. Namun, seiring waktu, pengalaman hidup, etika kerja dan kebijaksanaan yang dimilikinya mulai memberi pengaruh orang-orang di sekelilingnya. Seon-woo Lee, sang CEO yang tengah bergulat dengan berbagai tekanan profesional dan personal juga ikut merasakan pengaruh kehadiran Kim Gi-ho. Relasi antara Kim Gi-ho dengan Seon-woo Lee dan para karyawan lain pun berkembang menjadi hubungan mentor dan sahabat yang hangat. Hubungan mereka memperlihatkan bagaimana dua generasi berbeda dapat saling belajar dan bertumbuh bersama.

Alur Cerita dan Pace

Kisah dalam The Intern (2026) terasa sederhana, tanpa konflik besar atau plot twist mengejutkan, lebih banyak pesan bijaksana. Namun semuanya disampaikan dengan cukup mengharukan dan sedikit bumbu-bumbu humor. Film ini bergerak dengan ritme yang santai, nyaman, dan penuh momen-momen kecil yang membangun kedekatan emosional antar-karakter.

Pacing film berada di jalur yang konsisten. Durasi lebih dari dua jam terasa cukup panjang, tetapi tidak membosankan karena fokus utama film memang bukan pada drama besar. Film ini lebih menekankan pada perjalanan relasi antar-tokohnya. Penonton diajak menikmati perkembangan karakter secara perlahan, layaknya menikmati secangkir kopi hangat di sore hari. Pendekatan ini terasa menyegarkan di tengah konteks perfilman Korea yang kerap menghadirkan tensi tinggi, thriller psikologis atau drama emosional ekstrem.

Baca juga: Film Number One: Rahasia Angka di Balik Masakan Ibu

Casting yang Tepat

Film ini juga berhasil memilih peran yang tepat untuk memainkan setiap karakter. Choi Min-sik telah dikenal melalui peran-perang intens seperti dalam film Oldboy. Perannya sebagi Kim Gi-ho yang lembut, penuh humor dan hangat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sosok Kim Gi-ho dihadirkannya dengan karisma alami yang membuat setiap adegan terasa hidup tanpa dialog panjang atau ledakan emosi. Kehadirannya mampu memberikan kenyamanan dan meyakinkan, membuat seisi kantor perlahan menghormati sosoknya.

sumber: Warner Bros

Pada film orisinalnya sosok sang intern tua dihadirkan Robert De Niro sebagai sosok bijaksana yang elegan. Nah, Choi Min-sik tampil dengan nuansa lebih aktif, energik dan lebih dekat dengan kultur Korea modern. 

Sementara, Han So-hee yang memerankan Seon-woo Lee berhasil menghidupkan karakter CEO muda yang ambisius tanpa terlihat dingin atau arogan. Han So-hee dapat menunjukkan sisi kuat, sekaligus rentan karakter sang CEO. Ekspresinya terasa lebih banyak berbicara ketimbang dialog di beberapa adegan. Tekanan yang dialaminya sebagai pempimpin perusahaan seperti bisa dirasakan langsung oleh penonton.

Baca juga: Film “The First Ride”, Perjalanan Bersama Sahabat yang Mengungkap Trauma 

Chemistry antara Han So-hee dan Choi Min-sik menjadi jantung utama film, relasi mereka terasa natural dan tidak dipaksakan. Namun, chemistry antara Robert De Niro dan Anne Hathaway di film orisinalnya terasa lebih kuat. Kendati demikian, The Intern (2026) mampu menampilkan budaya kerja modern Asia yang lebih relevan dengan kondisi saat ini. Pendalaman karakter CEO wanita juga terasa lebih modern. Eksplorasi konflik geneasi dalam film tersebut juga terasa lebih dekat dengan masyarakat Korea.

The Intern (2015) lebih menekankan pada pengalaman hidup, sedangkan The Intern (2026) lebih merefleksikan bagaimana generasi berbeda dapat bekerja bersama. Film remake versi Korea ini cukup berhasil berdiri sendiri sebagai film dengan identitas sendiri, bukan sekadar bayangan dari film aslinya. Rasa nostalgia juga menjadi kekuatan film ini, rasa ini muncul saat menyaksikan hubungan hangat antar dua generasi berbeda.

sumber: Warner Bros

Film ini juga menyampaikan pesan bahwa pengalaman tidak pernah menjadi usang. Kebijaksanaan manusia tidak bisa tergantikan oleh teknologi, mendengarkan pun lebih berharga dibandingkan berbicara. Karakter CEO yang sangat sibuk dan pekerja keras pun menyiratkan pesan bahwa keberhasilan secara profesional tidak boleh mengorbankan kehidupan pribadi. Ketika perbedaan usia kerap dianggap sebagai hambatan, The Intern (2026) justru menunjukkan kekuatan organisasi melalui adanya keberagaman generasi.

Tata Suara dan Sinematografi

Audio dalam film ini menggunakan pendekatan yang sederhana sekaligus efektif. Musik latar tidak berusaha mendominasi emosi penonton, melainkan menjadi pendukung suasana yang lembut dan hangat sesuai identitas film. Adegan percakapan pun menjadi fokus cerita dengan percakapan yang nyaman didengar dan bersih. Visualisasi kantor startup Woo22 tampil elegan dan modern dengan nuansa yang terang, bersih dan penuh energi muda. Tampilan ini sengaja dikontraskan dengan sosok Kim Gi-ho yang membawa nilai-nilai generasi lama.

sumber: Warner Bros

Penggunaan warna-warna hangat juga membantu memperkuat nuansa optimistis sepanjang film. Kamera tidak banyak melakukan eksperimen berlebihan, tetapi justru efektif dalam menonjolkan interaksi antarkarakter. Fokus visual selalu kembali pada hubungan manusia, sesuai tema utama film.

Kesimpulan

The Intern (2026) bukanlah remake yang berusaha mengalahkan film aslinya. Sebaliknya, film ini memilih menghormati fondasi yang telah dibangun oleh The Intern (2015). Film ini sanggup menghadirkan interpretasi baru yang relevan bagi penonton masa kini. Kedekatan film ini dengan budaya kerja Asia modern, menjadikannya tontonan yang hangat dan menginspirasi.

Film ini memang tidak menyajikan kejutan besar, beberapa elemen cerita juga dapat ditebak. Namun, kekuatan akting, chemistry pemeran dan pesan universal mengenai persahabatan, pengalaman hidup dan saling menghargai antargenerasi menjadikannya nyaman ditonton.  

Pada akhirnya, ini bukan hanya film tentang seorang pensiunan yang menjadi intern. Ini adalah film tentang bagaimana manusia dari usia dan latar belakang berbeda dapat saling mengisi kekurangan satu sama lain. Di tengah dunia yang semakin sibuk, cepat, dan digital, pesan sederhana tersebut justru terasa makin berharga. Film ini cocok bagi yang menyukai drama kehidupan dan dunia kerja, serta pecinta film Korea bertema humanis. Jadwal penayangan film ini di Indomesia mulai 30 Oktober 2026.

Share:

Artikel Terkini