Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable, Kabel Audio Premium Asal Bali Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable, Kabel Audio Premium Asal Bali ~ Teknogav.com

Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable, Kabel Audio Premium Asal Bali


Teknogav.com - Vermöuth Audio adalah brand audio asal Bali yang dibangun oleh Hendry Ramli dan sudah mendunia karena kualitasnya yang premium. Berbagai produk audio yang dihadirkan Vermöuth mencakup kategori kabel audio, konektor, loudspeakers, driver, aksesori dan elektronik. Nah, salah satu produk yang sudah mendunia adalah Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable yang merupakan kabel referensi loudspeaker. Marcin Olszewski dari Soundrebels melakukan review ini secara subjektif, setelah sebelumnya juga sudah melakukan review pada Reference RCA dan XLR. Yuk simak ulasannya.

Desain Fisik Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable

kotak paket Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable
(sumber: Soundrebels)
Paket Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable hadir dalam kotak kardus standar dengan sertifikat keautentikan yang ditandatangani pembuatnya. Demi menghindari goresan, kabel-kabelnya dikemas dalam kantong khusus yang lembut. Tampilan kabel mirip kabel listrik dan interkoneksi, warnanya putih opalescent dengan aksen ulir hitam. Kabel terlihat kontras dengan warna perak hitam dari plug dan splitter. Splitter memecah kabel menjadi dua kabel hitam dan merah.
Warna kabel dan splitter Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable (sumber: Soundrebels)
Bagian dalam kabel Reference tentu sudah jelas, karena memang biasanya tak jauh berbeda dari lini produk yang sama. Mari beralih ke konduktor yang terbuat dari kawat-kawat tembaga OCC dengan lingkar yang berbeda dan dengan penampang gabungan 8,7 mm2. Konduktor ini ditutupi dengan isolasi berlapis-lapis yang terbuat dari tiga lapis pita PTFE. Isolasi ini memisahkan empat lapisan yang terdiri dari jalinan tembaga spiral yang dijalin bergantian. Selubung PVC membungkus ramuan khusus audiofil ini.

Di dalam setiap kabel, selain dua kabel sinyal, ada juga lima tabung PVC. Hanya susunan ini yang ditempatkan di selubung eksternal yang terbuat dari kain. Terakhir, adalah penutup dengan jalinan PVC putih yang merupakan ciri khas merek tersebut.
spade plug pada Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable (sumber: Soundrebels)
Hendry Ramli sang maestro kabel ini memiliki ketertarikan tersendiri pada plug, sehingga tak menggunakan plug standar yang banyak tersedia. Layaknya perhiasan sejati, digunakan spade plug dari tembaga telluric berlapis rhodium yang ditempa dingin, dan ditempatkan dalam rangka karbon.
tanda kabel Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable sebelah kanan (sumber: Soundrebels)
Perhatian yang sama pun diberikan pada splitter, konduktor yang sudah tanpa pelindung tambahan menonjol dari splitter tersebut. Kabel-kabel tersebut cukup fleksibel sehingga mudah untuk memasangnya ke terminal pada loudspeaker dan amplifier. Splitter ini pun ergonomis dengan detail yang layak diperhatikan, yaitu tanda sisi kiri/kanan yang terlihat jelas. Hal ini sangat membantu ketika menghubungkan kabel ke amplifier.

Sistem yang digunakan pada pengujian

  • CD/DAC: Ayon CD-35 (Preamp + Signature)
  • Network player: Lumin U1 Mini
  • Digital source selector: Audio Authority 1177
  • Turntable: Kuzma Stabi S + Kuzma Stogi + Dynavector DV-10X5
  • Phonostage: Tellurium Q Iridium MM/MC Phono Pre Amp
  • Power amplifier: Bryston 4B³
  • Loudspeakers: Dynaudio Contour 30
  • IC RCA: Tellurium Q Silver Diamond
  • IC XLR: Organic Audio; Vermöuth Audio Reference
  • Digital IC: Fadel art DigiLitz; Harmonic Technology Cyberlink Copper; Apogee Wyde Eye; Monster Cable Interlink LightSpeed 200
  • USB cables: Wireworld Starlight; Goldenote Firenze Silver; Audiomica Laboratory Pebble Consequence USB; Fidata HFU2
  • Speaker cables: Signal Projects Hydra
  • Kabel listrik: Furutech FP-3TS762 / FI-28R / FI-E38R; Organic Audio Power + Furutech CF-080 Damping Ring; Acoustic Zen Gargantua II; Furutech Nanoflux Power NCF
  • Papan distribusi daya: Furutech e-TP60ER + Furutech FP-3TS762 / Fi-50 NCF(R) /FI-50M NCF(R)
  • Soket listrik tembok: Furutech FT-SWS(R)
  • Platform anti getaran: Franc Audio Accessories Wood Block Slim Platform
  • Kabel Ethernet: Neyton CAT7+; Audiomica Laboratory Anort Consequence
  • Meja: Rogoz Audio 4SM3
Rangkaian sistem penguji Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable (sumber: Soundrebels)

Uji Suara Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable

Nah, kini waktunya menilai suara Vermöuth Audio Reference Loudspeaker Cable. Pengujian dilakukan pada kabel yang sama sekali baru dari pabriknya, sehingga dua minggu pertama dihabiskan untuk melakukan burn-in yang menyeluruh. Kabel-kabel loudspeaker Indonesia yang digunakan ‘under power’ terus menerus meresepon dengan evolusi suara yang nyata. Mulai dari sedikit agak keras lalu diperkeras mendekati ekstrem kemudian sangat tegas dan mulus.

Tetapi pada kasus Vermöuth, mulus bukan berarti dilembutkan atau dibulatkan. Suara sibilant dan kertakan digital yang ditempatkan dalam rekaman dengan sengaja pada musik ‘Ray of Light’ dari Madonna, dapat terdengar tanpa masking apa pun. Kesan yang luar biasa muncul dari ukuran dan alunan yang disajikan. Tak hanya menjangkau jauh melampaui penempatan loudspeaker, tetapi juga menjangkau sangat jauh ke belakang, menekankan tiga dimensi dari pertunjukan besar.

Musik ini sangat direkomendasikan, karena napas dan holografi tersebut bukan hasil penipisan apa pun atau menggeser keseimbangan nada ke atas. Hasil tersebut diperoleh dengan memperluas perspektif, tetapi bukan jenis yang digunakan untuk mengamati apa yang terjadi di panggung. Ini lebih ke bidang individu yang lebih presisi dan gradasi yang stabil.

Ketika memperhatikan ujung bawah spektrum, reproduksi nada rendah tak terlalu mencengangkan, karena memang tidak ada penguatan artifisial. Kendati demikian, jumlah informasi ditransmisikan jelas kelas dunia, sebanding dengan kabel Furutech DSS-4.1 atau Nanoflux yang terkemuka.Vermöuth  juga diakui tak hanya dari suaranya, tetapi dari kelas dan estetika pembuatannya.

Mari mencoba musik yang sintetisnya lebih sedikit, tetapi lebih eklektik untuk mengkonfirmasi pengamatan terkait keseimbangan ideal antara timbre dan resolusi. Kali ini menggunakan musik “Corpse Flower” dari Mike Patton & Jean-Claude Vannier. Modulasi suara Patton mengalir mulus dari kehangatan mirip Cohen ke suara serak Waits yang tak bisa diremehkan. Serupa dengan instrumen yang berubah seperti dalam kaleidoskop.

Kelapangan Vermöuth juga berlangsung dengan baik pada musik indie-rock, seperti "A Black Mile to the Surface" oleh Manchester Orchestra. Bisa juga menggunakan “Love & Hate” oleh Michael Kiwanuka yang biasanya sulit dimasukkan dalam genre apapun. Kabel yang diuji, juga sulit untuk dikategorikan. Layaknya bunglon yang bisa beradaptasi dengan suara yang berubah dari satu musik ke musik lain. Selain itu juga menguasai transparansi yang sama sekali tidak mengganggu musik yang direproduksi, bahkan dalam detail terkecil.

Pengujian mendengarkan rekaman pertunjukan live dilakukan dengan “Live With The Plovdiv Psychotic Symphony” oleh Sons of Apollo. Sejujurnya dari nada pertama sampai terakhir, ini bukan rekaman sampah, tetapi meninggalkan kesan banyak harapan. Rekaman ini m embutuhkan gambar dibandingkan hanya untuk mendengarkan. Kabel asal bali ini menampilkan dengan jelas kemampuan yang tak dapat dipungkiri dalam membuat panggung tiga dimensi.

Tak hanya serangkaian penuh "Psychotic Symphony", tetapi virtuoso dari cover hits seperti "Kashmir", "Comfortably Numb" atau "The Show Must Go On" juga bisa dinikmati. Ibaratnya ini adalah paradoks khas dari kue pertama buatan sendiri, walau tampilannya tak menarik tapi rasanya seperti surga di bumi.

Hendry Ramli secara jujur mengakui, bahwa dia tak melakukan segalanya sendiri, tetapi tahu persis harus melakukan outsource ke siapa. Ini dilakukan untuk memenuhi harapannya sendiri dan memenuhi prasyarat yang dinyatakan dengan jelas. Dia tidak melalukan re-brand dari gagasan asing mana pun, tetapi dia fokus pada detail proprietary seperti plug. Plug ini sepenuhnya dia buat sendiri, demikian juga dengan pengendalian mutu dan kerja desain.

Dia tidak berinvestasi pada kegiatan yang tak produktif, dan tak perlu mempekerjakan spesialis pemasaran, public relation atau jenis birokrasi lain. Ini perlu disebutkan untuk menyadari bahwa saat ini bisa membeli produk yang lengkap, komersil, birilian dan high-end dengan sepersekian harga. Tentu saja ini jika dibandingkan dengan kenyataan pasar yang memasukkan biaya marketing dan PR pada harga penjualan. Apalagi biasanya produk High-End dibanderol dengan harga sangat tinggi karena keharusan pada kualitas premium.

Jadi jika mencari satu serangkaian kabel kelas atas, dan memiliki akal sehat untuk mengikuti telinga bukan labelnya, sebaiknya langsung menghubungi pabrikan kabel ini. Sementara ini produk Vermöuth Audio model lebih rendah belum diuji, tetapi seri Reference ini benar-benar layak dan sangat direkomendasikan.

Sumber: Soundrebels

Berbagai produk Vermouth Audio bisa dibeli melalui reseller dan juga e-commerce berikut ini:

Tokopedia
Bukalapak


Share:

Artikel Terkini

Follow by Email