
Teknogav.com – Injil Thomas yang kerap menuai kontroversi kembali menjadi inspirasi film. Kali ini Magnolia Pictures mempersembahkan film “The Carpenter’s Son” yang menggambarkan kehidupan Yesus saat usia remaja. Film ini lebih mengasah pergumulan Yesus yang digambarkan cukup kelam saat harus bersembunyi dengan ayah dan ibunya. Sementara, Yusuf, si tukang kayu (Nicolas Cage) digambarkan sebagai ayah yang imannya masih goyah.
Film ini diproduseri oleh Nicolas Cage, Alex Hughes, dan Eugene Kotlyarenko, serta disutradarai Lotfy Nathan. Menjadikan kisah biblikal sebagai film horor adalah langkah yang cukup berani. Film ini mengangkat kisah Yesus di usia remaja dan pergumulannya. Dalam film ini, Yesus digambarkan sebagai seorang anak yang penuh keingintahuan dan mencari jati diri layaknya remaja. Sementara, Yusuf si tukang kayu digambarkan seperti seorang ayah tidak terlalu mengakui anaknya, tetapi tetap melindungi.
Baca juga: Film 'The King of Kings' Bangkitkan Kebanggaan akan Kebesaran Yesus
Pada Alkitab sendiri tidak ada catatan kehidupan Yesus di usia remaja atau usia 12 tahun sampai 30 tahun. Sementara, Injil Thomas merupakan Injil ucapan non kanonik atau dianggap sebagai karya di luar daftar resmi Alkitab. Layaknya Injil Thomas yang menuai kontroversi, demikian juga dengan film The Carpenter' Son. Pada film ini, Yesus (Noah Jupe) digambarkan cukup muram dan penuh pergumulan, sementara Yusuf pun meragukan cerita Maria (FKA Twigs).
Akting yang cukup mengesankan ditampilkan oleh Isla Johnston yang memerankan sosok gadis kecil misterius. Mimik mukanya begitu mencurigakan saat berinteraksi langsung dengan anak si tukang kayu. Banyak hal-hal gaib terjadi setelah sang Anak bertemu dengan sosok gadis misterius ini. Yesus pun mulai mengetahui bahwa Dia dapat melakukan mukjizat, tetapi belum sepenuhnya dapat mengendalikan kekuatannya. Kedekatan Yesus dengan Maria yang begitu mencintai anaknya pun digambarkan dengan penuh cinta kasih dan ikatan batin.
Baca juga: Tharae: The Exorcist, Ketika Setan Bikin Pastor dan Dukun Kewalahan

Film ini mengambil kebebasan atau interpretasi artistik dengan menambahkan unsur horor dan kekuatan supranatural yang tidak disebutkan dalam Alkitab. Jadi film ini lebih bersifat spekulatif daripada representasi literal kisah Alkitab. Atmosfer kelam dan penuh simbolisme menciptakan nuansa mistis dan menegangkan untuk memvisualisasikan latar mesir Romawi. Tema dualitas antara manusia dan ilahi diperkuat dengan penggunaan cahaya dan bayangan. Konflik batin karakter dalam film ini, terutama Yusuf dan anaknya ditampilkan melalui close-up dan slow motion
Sinematografi ini menggunakan pendekatan horor psikologis yang lebih kontemporer. Meski dibalut dalam genre horor, film ini menyampaikan beberapa pesan penting seperti pencarian identitas dan takdir atau pergulatan spiritual manusia dalam memahami panggilan. Nilai mengenai pengorbanan orang tua pun digambarkan oleh Yusuf, sosok pelindung yang rela mengorbankan segalanya demi anak. Penonton ditantang untuk merenungkan bagaimana iman diuji dalam situasi ekstrem, atau mengetahui batas antara iman dan ketakutan.
The Carpenter’s Son bukan film rohani konvensional. Film ini menantang, menggugah, dan bisa jadi kontroversial bagi penonton yang mengharapkan kesetiaan pada teks suci. Namun dari sisi sinematografi dan narasi, film ini menawarkan pengalaman visual dan emosional yang kuat. Film ini mulai ditayangkan bioskop Indonesia pada 10 Desember 2025.






