Film Whistle Sajikan Teror Kematian Setelah Mendengar Suara Artefak Peluit Film Whistle Sajikan Teror Kematian Setelah Mendengar Suara Artefak Peluit ~ Teknogav.com

Film Whistle Sajikan Teror Kematian Setelah Mendengar Suara Artefak Peluit



Teknogav.com – Independent Film Company mempersembahkan film Whistle yang mengisahkan mengenai kutukan penjemput kematian bagi yang mendengar suara artefak peluit. Film horor ini menampilkan banyak karakter dengan pengenalan yang cukup singkat.

Adegan film ini dibuka dengan pertandingan basket yang salah satu pemainnya melihat sosok yang cukup mengerikan. Awalnya, penonton akan diajak bertanya-tanya siapa sosok tersebut, dan mengapa hanya pemain tersebut yang melihat. Pemain basket tersebut, Mason Horse Raymore (Stephen Kelyn) ternyata memiliki artefak peluit. 

Baca juga: Film “Malam 3 Yasinan”, Horor yang Dipicu Obsesi pada Kesempurnaan

Selang waktu setelah kejadian yang menimpa Mason, karakter-karakter baru pun diperkenalkan. Chrysanthemum (Dafne Keen), murid sekolah pindahan yang tinggal bersama sepupunya, Rel (Sky Yang). Diam-diam, Rel naksir Grace (Ali Skovbye) yang sudah memiliki kekasih, yaitu Dean (Jhaleil Swaby) yang sok keren. Selain itu juga ada Ellie (Shopie Nelisse) yang memiilki sifat bijak dan membela yang benar. Kelima karakter tersebut dipertemukan dan harus menjalani hukuman bersama akibat pertikaian antara Chrys dan Dean.

Chrys yang mendapat loker peninggalan Mason menemukan artefak peluit dan membawanya ke ruang hukuman. Setelah guru memutuskan hukuman bagi kelima murid tersebut, mereka pun sepakat untuk mengerjakannya bersama di rumah Grace. Saat di rumah Grace, salah satu dari mereka meniup peluit yang didengar oleh kelima anak sekolah ini. Ancaman kematian pun mulai meneror mereka.

Baca juga: The Strangers: Chapter 2, Penuh Suspense dan Bikin Gregetan

Gagasan yang diusung dalam film horor ini cukup menarik. Setelah mendengar peluit, kematian akan menjemput. Penjemput kematian tersebut adalah diri mereka sendiri di usia sesungguhnya akan mati dan penyebab kematian di usia tersebut. Skema tersebut menjadikan film ini sebagai alegori tentang konsekuensi tindakan remaja dan ketakutan akan masa depan. Akting para pemeran dalam film ini terasa segar, setiap karakter pun mudah dihubungkan. Chemistry yang tulus terasa di antara para pemeran sehingga menambah bobot emosional.

Karakter lain dalam film ini adalah Noah (Percy Hynes White), seorang pendeta yang menjual narkoba ke anak-anak muda. Noah termasuk karakter yang mampu memancing emosi penonton dengan ulahnya yang mengedarkan narkoba, tetapi aman dari ancaman kematian. Padahal pelanggannya ada yang sampai mati akibat over dosis menggunakan barangnya.

Kisah dalam film ini sederhana, alurnya pun cukup mudah ditebak. Sosok demi sosok penjemput kematian dapat dilihat oleh masing-masing dari kelima anak tersebut. Atmosfer ketegangan dengan latar perayaan Halloween cukup menarik secara visual. Kendati demikian, jump scare dalam film ini cukup lemah karena bisa diprediksi. Film ini cukup menghibur bagi penggemar film horor yang menginginkan sesuatu yang baru. 

Baca juga: The Black Phone 2, Ketika Telepon Kembali Jadi Medium Arwah-arwah Berkomunikasi

Konflik antar-karakter dan penyesalan yang dipicu keputusan impulsif dapat memicu nilai emosional. Kekerasan pada film ini juga memberi ruang pada momen reflektif singkat. Pola yang mengandalkan kematian berantai mengurangi unsur kejutan bagi penonton yang terbiasa dengan pola tersebut. Kekurangan dari film ini adalah kurangnya kedalaman motivasi untuk beberapa tokoh pendukung. 

Pada film ini, peluit bukan sekadar objek visual tetapi motif audio yang mengikat narasi dan memicu respons penonton. Rasa ruang dan ancaman yang mendekat dihasilkan melalui frekuensi, reverb, dan panning, sehingga pengalaman menonton lebih imersif. Peralihan antara ketenangan dan kekacauan terasa organik berkat perpaduan framing status dan kamera handheld atau tracking untuk adegan pengejaran.

Film Whistle film horor hiburan yang mengandalkan premis mitis, tata suara yang kuat. Bagi penonton yang mencari kedalaman naratif atau kejutan konseptual yang benar-benar baru, maka film ini kurang cocok. Film ini akan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 11 Februari 2026.

Share:

Artikel Terkini