Film “Na Willa” Sajikan Kepolosan Sudut Pandang Anak-anak yang Jujur Film “Na Willa” Sajikan Kepolosan Sudut Pandang Anak-anak yang Jujur ~ Teknogav.com

Film “Na Willa” Sajikan Kepolosan Sudut Pandang Anak-anak yang Jujur

Teknogav.com – Visinema kembali mempersembahkan film yang cocok ditonton anak-anak dan semua umur dalam menyambut lebaran, yaitu “Na Willa”. Film ini berlatarkan tahun 1960an, yang berlokasi di Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Masyarakat masih terlihat sejahtera, perempuan bebas belajar, melakukan kegiatan dan menjadi pelaku usaha, serta tidak ada friksi antar-agama dan antar-ras. 

Di masa tersebut, hiduplah seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Na Willa (Luisa Adreena) yang lahir di keluarga multikultur. Ayahnya merupaka keturunan Tionghoa, sedangkan ibunya berasal dari Indonesia Timur, tepatnya Nusa Tenggara Timur. Paul (Junior Liem), ayah Na Willa kerap berlayar ke berbagai daerah dalam jangka waktu lama, sehingga jarang pulang ke rumah. Marie (Irma Novita Rihi), ibunya pun harus mengelola segala kegiatan rumah tangganya, termasuk mendidik anak sendiri.

“Seorang ibu merupakan garda terdepan anaknya, apalagi Ma sedang berjauhan dengan Pa, sehingga jadi orang tua yang harus mengella semua sendiri dulu. Sosok Ma tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya secara langsung, tetapi selalu memperhatikan dan melindungi  Willa,” ucap Irma, pemeran Ma atau Marie.                                                                     
Irma Rihi, pemeran Ma atau Marie; Luisa Adreena, pemeran Na Willa; dan Mbok Tun, pemeran Mbok
     
Na Willa bersama teman-temannya di Geng Krembangan mengajak penonton menyusuri gang, pasar, dan lapangan luas tempat bermain layangan dan kelereng. Teman-teman dekat Na Willa tersebut mencakup Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauqi), dan Bud (Arsenio Rafisqy). Kegembiraan mereka seakan mengajak penonton dewasa kembali pada kegembiraan sederhana yang kerap terlupakan. Penonton anak-anak juga diajak untuk merayakan rasa penasaran dari imajinasi tanpa batas.

Film “Na Willa” diadaptasi dari novel anak karya Reda Gaudiamo. Kisah “Na Willa tersebut dituangkan dalam skenario yang ditulis dan disutradari Ryan Adriandhy. Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari memproduseri film ini di bawah naungan rumah produksi Visinema Studio. Kiprah ketiga sineas tersebut sudah terbukti melalui karya Jumbo yang ditayangkan pada lebaran tahun lalu. 

Baca juga: Film Animasi 'Jumbo' Sajikan Kisah Penuh Imajinasi, Petualangan dan Persahabatan

“Saya ingin orang tua, agar bisa mendengar suara anak anak kita, kembali menciptakan kebahagiaan yang pernah kita rasakan waktu kecil dan menjadikannya milik anak-anak kita. Sambil menjaganya juga untuk kita sendiri, menyalangan semangat anak kecil di dalam diri kita,” ucap Reda Gaudiamo.

Reda Gaudiamo, penulis novel "Na Willa"

Visinema Studio juga kembali berkolaborasi dengan laleilmanino untuk menggarap original soundtrack berjudul “Sikilku Iso Muni”. Lagu tersebut merupakan bagian penting dari film Na Willa yang menunjukkan betapa seorang anak tetap dapat gembira walau mengalami kehilangan. Kehadiran lagu tersebut menunjukkan bahwa kehilangan bukan akhir, tetapi pelajaran untuk mulai sesuatu yang baru.

Film “Na Willa” mengajak penonton untuk merasakan kembali mejadi anak-anak, hidup bebas, riang, dan bahagia. Ini adalah penyutradaraan film live action pertama Ryan. Ryan dapat menggambarkan imajinasi dan rasa penasaran anak, seperti ikan bandeng bermata banyak dan keberadaan orang di dalam radio. Jajaran aktor dalam film “Na Willa” mencakup Ira Wibowo, Melissa Karim, Sita Nursanti, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Baca juga: Film Esok Tanpa Ibu Padukan Unsur Lingkungan, Kemanusiaan dan Teknologi

“Kita semua pernah jadi Na Willa. Kita semua pernah menjalani keseharian sebagai anak-anak dengan lingkungan di sekitar kita, orang tua, sahabat atau rasa kangen dengan teman yang tiba-tiba pindah. Hal yang begitu sederhana atau dianggap sepele bagi orang dewasa bisa jadi terasa begitu besar bagi anak-anak. Menurutku itu rasa yang universal. Perasaan rindu masa anak-anak itu akan relevan sepanjang masa. Na Willa akan mengingatkan kembali kebahagiaan sederhana di dunia anak-anak. Rasa penasaran, imajinasi dan kegembiraan yang sering kita lupakan saat dewasa,” ucap Ryan.

Ryan Adriandhy, penulis skenario dan sutradara film "Na Willa"

Menurut Ryan, film “Na Willa” bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga segala usia dan keluarga. Film ini mengingatkan bahwa dahulu saat menjadi anak semua memiliki lensa yang begitu jernih dan jujur.

“Kita mau belajar dan bertanya, ada banyak hal yang terasa besar. Anakanak sangat jujur dan ketika mendengarkan kejujuran, ada banyak cerita yang bisa diresapi. Sudut pandang Na Willa dalam novel Ibu Reda menceritakan seperti anak yang bercerita, bukan orang dewasa yang berpura-pura menjadi anak-anak. Kita semua pernah jadi anak-anak. Kita harus berani mendengarkan kejujuran mereka. Sudut pandang anak-anak adalah yang paling jujur. Mereka tidak bisa sugar coating. Semora orang yang sudah dewasa bisa kembali memiliki spirit anak-anak,” lanjut Ryan.

Film “Na Willa” yang hangat, emosional dan bermakna dalam siap membawa suasana keakraban di momen lebaran. Kehadiran film ini dapat menghidupkan dan merayakan imajinasi yang membuat orang dewasa melihat dunia seperti anak-anak lagi. Orang tua bisa ikut mengerti isi kepala anak-anak dan ingat rasanya menjadi anak.

Namun, film “Na Willa” tak semata-mata menyajikan kebahagiaan saja, tetapi juga menyadarkan bahwa lembaga pendidikan pun bisa merusak kedamaian. Kesalahan dalam memilih tempat pendidikan bisa membuat anak terpapar pandangan yang rasis dan penuh perundungan. Hal tersebut digambarkan melalui sikap guru yang arogan dan anak-anak didiknya yang diperbolehkan mengucap kalimat rasis.

“Saya sangat mengapresiasi guru. Karakter Juwita merupakan pengajar di sekolah yang tidak formal di kelas, sehingga saya melakukan observasi di sekolah alam di Bogor. Di situ saya melihat kesabaran guru-guru yang sangat luar biasa. Tidak semua orang punya kemampuan untuk menjadi guru TK,” ucap Agla Artalidia yang memerankan Juwita, guru Taman Kanak-Kanak yang baik hati.

Agla Artalidia


Baca juga: Film “Panggil Aku Ayah” Gambarkan Ketulusan Tidak Perlu Ikatan Darah

Isu mengenai pernikahan anak di bawah umur juga diangkat dalam film “Na Willa”. Tin (Nayla Purnama), kakak Farida terlihat begitu terpaksa ketika dinikahkan oleh orang tuanya. Pentingnya perempuan dalam membentuk karakter anaknya juga digambarkan di film “Na Willa”. Tak heran jika negara-negara yang ingin menghancurkan peradaban bangsanya sendiri menggunakan jurus untuk mengekang perempuan termasuk melarang untuk mendapatkan edukasi. Contohnya adalah Afghanistan yang tidak memperbolehkan perempuan untuk mengenyam pendidikan dan IRGC di Iran yang begitu membatasi kebebasan berekspresi. 

Kehadiran film “Na Willa” merupakan perwujudan komitmen Visinema untuk menghadirkan karya-karya berkualitas yang menyajikan pengalaman hangat saat menonton. Film ini akan ditayangkan di biosop Indonesia di momen lebaran mulai 18 Maret 2026.

“Di Visinema Studio, kami percaya bahwa film keluarga bukan sekedar hiburan, tetapi ruang emosional tempat generasi bertemu, anak orang tua dan bahkan anak dalam diri kita. Kami berkomitmen untuk selalu hadir di momen lebaran dengan cerita yang bisa dinikmati bersama di bioskop. Melalui Na Willa, kami ingin menghadirkan film yang bisa dipeluk, imajinatif dan relevan bagi keluarga Indonesia. Na Willa adalah surat cinta kita untuk anak-anak semua,” ucap Anggia, produser film “Na Willa” dan Chief Content Officer Visinema Studio.

Anggia, produser film “Na Willa” dan Chief Content Officer Visinema Studio

Kehadiran Na Willa memberikan ruang aman untuk didiskusikan kembali dan merefleksikan untuk bisa mencitai lebih baik lagi. Menurut Anggia, Na Willa merupakan langkah penting dalam membangun IP lokal yang kuat, berkelanjutan dan dapat terus hidup bersama penonton. Industri film Indonesia membutuhkan lebih banyak cerita yang ramah bagi anak dan keluarga. Cerita yang dibutuhkan tidak hanya sekadar untuk menghibur sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari kenangan banyak generasi. Visinema Studio memproyeksikan Na Willa sebagai kekayaan intelektual (IP) kuat berikutnya setelah Jumbo.

“Industri Film Indonesia membutuhkan IP lokal yang kuat dan berkelanjutan, serta lebih banyak konten yang ramah bagi anak dan keluarga. Melalui Na Willa, kami berharap dapat menghadirkan cerita yang bukan hanya relevan hari ini, tetapi juga memiliki potensi untuk terus hidup dan berkembang bagi IP lokal Indonesia,” ucap Herry B. Salim, produser eksekutif film “Na Wila” dan Chief Executive Officer Visinema Studio.

Herry B. Salim, produser eksekutif film “Na Wila” dan Chief Executive Officer Visinema Studio, diapit Agla Artalidia dan Melissa Karim

Menurut Herry, Indonesia siap untuk menikmati cerita dari IP yang bermutu dan benar-benar dapat bercerita secara berkelanjutan. Na Willa merupakan IP cerita yang sangat indah. 

Film “Na Wila” juga mendapat apresiasi dari Kementerian Ekonomi Kreatif Indonesia. Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif mengungkapkan bahwa kehadiran film Na Willa memadukan keberagaman, sesuai semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’.

“Kehadiran film Na Willa mengingatkan untuk tetap bermain. Jangan lupa untuk jadi diri sendiri, jangan lupa untuk bahagia dan jangan lupa untuk menjadi autentik,” ucap Irene Umar.

Share:

Artikel Terkini