Crocodile Tears: Film Indonesia Hasil Kolaborasi Sineas dari 4 Negara Crocodile Tears: Film Indonesia Hasil Kolaborasi Sineas dari 4 Negara ~ Teknogav.com

Crocodile Tears: Film Indonesia Hasil Kolaborasi Sineas dari 4 Negara

Teknogav.com – Film Crocodile Tears telah ditayangkan perdana di Toronto International Film Festival 2024 yang dilanjutkan ke berbagai festival film lain. Pengakuan internasional telah diraih film ini dari 33 festival film dunia. Film yang diproduseri Many Marahimin ini merupakan film panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon bersama para sineas dari 4 negara. Kisah dalam film ini menampilkan drama keluarga mencekam antara seorang ibu tunggal dengan anaknya. 

Sebelumnya, Tumpal Tampubolon telah berkarya melalui serangkaian film pendek yang diakusi festival nasional dan internasional. Kejelian Tumpal dalam menggarap film drama dapat membangun emosi para karakter secara perlahan, tetapi konsisten. Twist yang mengejutkam juga selalu dihadirkan Tumpal di setiap karyanya, termasuk dalam film Crocodile Tears.

Baca juga: Film “Para Perasuk”, Kisahkan Obsesi, Alam dan Berdamai dengan Diri  

Beberapa karya Tumpal Tampubolon yang telah mendapat pengakuan adalah sebagai berikut:

  • “The Last Believer” yang meraih penghargaan di JIFFest (Jakarta International Film Festival)
  • “Mamalia” yang masuk seleksi Rotterdam dan Hong Kong International Film Festival
  • “Laut Memanggilku” yang meraih Sonje Award di Busan International Film Festival 2021. Film ini juga masuk nominasi Film Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2021

Kisah dalam film Crocodile Tears menceritakan kehidupan yang tenang dan monoton dari Mama (Marissa Anita) dan Johan (Yusuf Mahardika), anaknya. Mama adalah seorang ibu tunggal yang berusaha melindungi anaknya dari dunia yang dianggap akan menyakitinya. Ketika Arumi (Zulfa Maharini) memasuki kehidupan Johan, kehidupan Mama dan Johan pun berubah penuh intrik dan ketegangan. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai Mama memutuskan ada yang harus dilakukan segera.

Baca juga: Film “Pangku” Jadi Surat Cinta Reza Rahadian bagi Semua Perempuan  

Film Crocodile Tears mendapat apresiasi dari ranah internasional, beberapa festival film yang telah diikuti setelah pemutaran perdana antara lain adalah:

  • Busan International Film Festival
  • BFI London Film Festival
  • Tallinn Black Nights Film Festival
  • Goteborg International Film Festival
  • Adelaide Film Festival
  • Torino Film Festival
  • Red Sea International

Di Indonesia, film persembahan Talamedia ini akan ditayangkan di bioskop mulai 7 Mei 2026. Produksi film ini juga menggandeng Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction. Dukungan juga diberikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment.

"Film ini kami kembangkan selama tujuh tahun, dengan 17 draft skenario sampai akhirnya menemukan bentuk yang kami yakin. Tapi justru momen yang paling kami tunggu adalah ketika akhirnya film ini bisa pulang dan bertemu dengan penonton Indonesia,” ucap Tumpal Tampubolon, sutradara film “Crocodile Tears”.

Baca juga: Ghost in the Cell, Gabungkan Kritik, Kesadisan Artistik dan Komedi  

Penggarapan film ini dilakukan dengan pendekatan terbuka yang memberikan kebebasan bagi para aktor untuk menginteretasikan naskahnya secara personal. Pendekatan ini juga memberikan ruang yang luas bagi para kepala departemen sehingga menjadikan film ini sebagai karya kolaboratif. Proses kreatif yang kolaboratif tercermin dari penampilan para pemeran yang dibentuk Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani bersama sutradara. 

"Tumpal memberi kami ruang yang sangat besar untuk masuk ke dalam karakter masing-masing. Ada banyak lapisan emosi yang kami bangun bersama dari awal proses persiapan sampai syuting. Pengalaman itu yang membuat karakter Mama terasa begitu nyata bagi saya,” ucap Marissa Anita.
Keterlibatan kru dari empat negara dalam menggarap Crocodile Tears dipaparakn oleh Mandy Marahimin. Perjalanan film tersebut tidak singkat, perlu enam tahun sampai film ini berhasil diprodukasi. Film ini bahkan melewati waktu 8 tahun sampai akhirnya bisa dinikmati penonton Indonesia.

“Persiapan yang kami lalui pun cukup detail. Proses casting selama hampir dua tahun, persiapan yang serius dan rinci selama berbulan-bulan, termasuk sampai membangun rumah di dalam taman buaya yang berdampingan dengan ratusan buaya hidup. Ini sebuah film yang melalui proses yang sangat kolaboratif, dan kami persiapkan dengan hati. Harapannya, film ini bisa diterima dengan hangat oleh penontonnya,” ucap Mandy Marahimin.

Film ini memadukan realisme magis dan teror psikologis, lapisan konflik makin terasa seiring cerita berjalan. Pengalaman menonton pun terasa intim dengan relasi yang terasa dekat. 

Share:

Artikel Terkini