
Teknogav.com – Film Ghost in the Cell merupakan karya ke-12 penulis dan sutradara, Joko Anwar. Karya ini memadukan unsur kritik terhadap situasi Indonesia, kesadisan artistik dan komedi yang menghibur. Film persembahan Come and See Pictures ini telah tayang perdana di Berlinale 2026 dan mendapat tanggapan positif.
Isu lingkungan yang diangkat dalam film ini adalah deforestasi yang parah terjadi di Indonesia. Hantu yang rumahnya dirusak manusia berasal dari hutan, lalu menjadikan korbannya sebagai karya seni, mereka belajar kerusakan dari manusia. Setiap lubang di tubuh hantu yang menyerupai manusia ditumbuhi bunga seroja yang menggambarkan harapan. Sesuatu yang menjijikkan dalam film ini menggambarkan sistem busuk yang ada.
Kisah dalam film ini bertempat di lembaga pemasyarakatan (lapas) Labuhan Angsana dengan berbagai masalah yang dihadapi para narapidana. Masalah tersebut mencakup penindasan petugas lapas, serta permusuhan dan kekerasan dengan sesama tahanan. Ketika ada narapidana baru, serangkaian pembunuhan sadis sekaligus aneh pun terjadi. Korban pembunuhan ini adalah orang dengan aura atau energi yang paling negatif. Demi menghindar jadi korban, para narapidana pun berlomba-lomba berbuat kebaikan agar aura tetap positif. Namun, tentunya susah mempertahankan aura positif di penjara yang penuh ketidak adilan.
Baca juga: Film “Warung Pocong” Padukan Horor Mistis dan Komedi Segar
“Situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya, supaya penonton bisa tertawa, tetapi menyadari bahwa kita sedang melihat diri sendiri. Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia. Walaupun ini adalah film yang gampang dinikmati karena bergenre komedi horor, ini adalah film tentang kekuasaan. Tentang sistem yang korup. Tentang orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya. Tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan apa yang terjadi ketika ia akhirnya muncul ke permukaan,” ucap Joko
Anwar.
![]() |
| Joko Anwar, penulis dan sutradara film Ghost in the Cell |
Joko Anwar juga mengajak enam ilustrator kelas dunia asal Indonesia untuk menuangkan karya artistik mereka dalam kesadisan dalam film ini. Keenam ilustrator tersebut adalah Anwita Citriya, Benekditus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin dan Rudy AO. Konsep seni “instalasi kengerian” yang indah menjadi salah satu unsur utama cerita dalam film Ghost in the Cell ini.
“Sejak awal saya ingin Ghost in the Cell tidak hanya menjadi film, tapi juga ruang kolaborasi lintas seni bagi seniman-seniman lokal. Indonesia punya begitu banyak ilustrator berbakat dengan gaya visual yang kuat dan unik. Dengan melibatkan mereka, kami bukan hanya memperkaya dunia visual film ini, tapi ingin membuat pernyataan bahwa kolaborasi lintas medium seperti ini penting agar ekosistem kreatif kita terus tumbuh dan saling menguatkan,” papar Joko Anwar.
Film Ghost in the Cell juga menjadi pernyataan masih adanya harapan dalam kekacauan dan kebusukan sistem di negara ini. Menurut Joko Anwar, harapan tersebut dapat membawa perubahan dengan semangat kolektif masyarakat. Hal ini digambarkan dalam film saat para narapidana dan sipir bekerja sama menyingkirkan ‘hantu’ yang sesungguhnya. Sosok ‘hantu’ dalam film ini adalah sesuatu yang tidak dipahami, sehingga dianggap ancaman.
Baca juga: Film “They Will Kill You”, Perpaduan Horor Splatter dan Komedi
“Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada, karena kalau tidak ada, tak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya sekian persen masyarakat Indonesia masih ada yang jujur, dan masih ada yang mau menyuarakan. Saya percaya semangat itu tidak akan pernah mati, karena itu yang membuat kita masih mau bernapas dan bersuara,” tegas Joko Anwar.
Sistem yang korup merupakan salah satu isu yang diangkat dalam film ini. Ketika seorang koruptor yang menjalani hukuman masih bisa menikmati privilese untuk berbuat semau mereka. Tia Hasibuan, produser film ini mengungkapkan bahwa isu ini juga relevan dengan kondisi korupnya sistem secara global.
Perbandingan antara Indonesia dengan Norwegia sangat relevan karena Norwegia merupakan negara dengan peringkat pertama yang sangat demokratis. Norwegia juga negara yang sangat tegas menentang deforestasi. Saat ini banyak negara-negara di dunia yang memiliki masalah kebobrokan sistem yang sama, sehingga bisa terhubung dengan film ini. Korupsi merupakan masalah yang dihadapi secara global, walau di Indonesia memang begitu luar biasa.
Film Ghost in the Cell disampaikan disampaikan dengan sudut pandang sendiri agar lebih autentik. Keaslian ciri khas Indonesia pun akan menjadi lebih universal dan menarik secara global. Penjara dalam film ini digambarkan sebagai negara, dengan narapidana adalah warga negaranya. Di Indonesia, tidak semua warga memiliki kemudahan untuk bisa meninggalkan negaranya begitu saja.
Baca juga: Film 'Agak Laen', Saat Arwah Gentayangan Caleg Lariskan Rumah Hantu
“Saat world premiere di Berlinale, banyak penonton merasakan keresahan yang sama seperti dalam film. Sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi seluruh aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang ada di film,” ucap Tia Hasibuan.
Secara keseluruhan Ghost in the Cell melibatkan 108 pemeran yang dituntut untuk mengeksplorasi kemampuan akting seluas mungkin. Salah satu adegan aksi di film ini dihasilkan dengan long take dan membutuhkan kesiapan dan kematangan para aktor yang terlibat.
![]() |
| Abimana Aryasatya, pemeran Anggoro dalam film Ghost in the Cell |
“Secara keaktoran sudah disiapkan arc character masing-masing. Anggoro, yang saya perankan, terikat dengan ibu dan keluarga. Dalam penjara pun dia menciptakan keluarga yang dia piilh. Dalam akting, itu bukan saja soal karakter, tetapi juga ada beat tempo. Misalnya dalam satu adegan fighting, tidak hanya satu beat tempo serius, tetapi juga jadi dance, lalu ke drama, itu beat-nya beda. Kalau para aktor tidak mengerti beat yang digunakan, akan susah dan membuat berantakan syutingnya. Joko sudah mempersiapkan beat-beat itu di tiap adegan,” ucap Abimana Aryasatya, pemeran Anggoro dalam film Ghost in the Cell.
Hal senada disampaikan oleh Aming yang berperan sebagai Tokek dalam film ini.
“Joko Anwar selalu sudah menyiapkan character sheet dan terbuka untuk diskusi mengembangkan karakter. Terlepas dari hal itu, ada penegasan karakter berdasarkan pengalaman pribadi. Salah satunya dengan memanggil trauma masa lalu dan latar riwayatnya, sehingga karakternya hidup sesuai keinginan sutradara,” ucap Aming.
![]() |
| Aming, pemeran Tokek dalam film Ghost in the Cell |
Jajaran pemeran film ini mencakup Almanzo Konoralma, Arswendy Bening Swara, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Dewa Dayana, Endy Arfian, Faiz Vishal, Haydar Salishz, Jaisal Tanjung, Kiki Narendra, Lukman Sardi, Mike Lucock, Morgan Oey, Rio Dewanto, Tora Sudiro, dan Yoga Pratama. Film ini juga merupakan penampilan perdana Magistus Miftah di layar lebar, setelah sebelumnya mengikuti audisi secara online. Selain itu, sutradara asal Malaysia, Ho Yuhang juga turut terlibat sebagai pemeran dalam film Ghost in the Cell ini.
Come and See Pictures membuat karya yang berbicara tetapi tidak self centered atau menggurui. Joko Anwar mengungkapkan bahwa film ini merupakan hasil dari kemuakaan kolektif yang juga merupakan imbas kenegatifan di media sosial. Namun, ketika rakyat sudah putus harapan, tetapi tidak 100%, karena masih ada 10% yang bisa menjadi harapan.
“Setiap berkarya ingin membuat cerita yang relevan dan relatable, sehingga sangat lega dan senang jika apa yang disuarakan dapat beresonansi. Mudah-mudahan film ini bisa menghibur di masa-masa yang membuat pusing,” tutup Joko Anwar.









