
Baca juga: Peringati Hari Film Nasional, "Para Perasuk" Rilis OST dan Gelar Nobar
Penayangan perdana film “Para Perasuk” dilakukan di Sundance Film Festival 2026 dan sudah menyambangi berbagai festival film internasional. Beberapa kompetisi film yang diikuti antara lain adalah:
- Miami Film Festival 43 pada program Marimbas Award
- Fantaspoa Brasil
- MOOOV Belgia
Saat penyelenggaraan program “Nonton Duluan” yang digelar di 14 kota di Indonesia, semua tiket juga terjual habis. Jajaran pemeran film ini pun mendapat pujian karena kemampuan membawa energi yang saling menguatkan dan menghidupkan cerita. Para pemeran tersebut mencakup Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun, Chicco Kurniawan, Byran Domani, Indra Birowo dan Ganindra Bimo.
Baca juga: Ghost in the Cell, Gabungkan Kritik, Kesadisan Artistik dan Komedi
“Para Perasuk bukan film horor, tetapi berbicara mengenai obsesi seseorang. Tokoh utamanya, Bayu yang diperankan Angga Yunanda ingin menjadi perasuk terbaik. Namun, masalahnya desanya terancam digusur. Bayu dan warga berusaha mempertahankan desa agar tak terjadi penggusuran. Ini menceritakan Bayu yang sangat terobsesi terhadap sesuatu, sehingga lupa dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk bapaknya. Ambisi dan obsesi itu juga sangat relate dengan banyak yang dialami kita, yang terkadang mengejar ambisi sehingga bisa saja melupakan keluarga atau orang terdekat kita. Ini yang akan membuat relate dengan banyak penonton,” ucap Wregas Bhanuteja, penulis dan sutradara film “Para Perasuk”.
![]() |
| Wregas Bhanuteja, penulis dan sutradara film “Para Perasuk |
Wregas juga mengungkapkan bahwa film merupakan potret kehidupan, sehingga jangan melupakan kehidupan itu sendiri.
Angga Yunanda mengungkapkan bahwa kisah Bayu dekat dengan dirinya. Bayu yang berusia 20 tahun sangat berambisi menjadi perasuk. Namun, dalam perjalanan Bayu menyadarai bahwa ambisi saja tak cukup untuk menjadikannya sebagai perasuk, termasuk untuk menyelamatkan desanya. Semua hasrat dalam film ini difantasikan, sehingga kemasan drama fantasi membuat artistik dan keseluruhan film ini terasa segar.
“Para Perasuk adalah film yang menurut saya sangat manusiawi. Saat syuting di hari pertama, saya merasa filmnya sangat menusuk hati saya, karena sangat dekat sekali dengan saya. Film ini bercerita tentang Bayu, anak muda yang mencari jati diri dan berambisi mengejar cita-cita, ingin menjadi yang terbaik. Menurut saya sangat seru ada cerita coming of age yang berbeda dari biasanya. Film ini juga membahas tentang hubungannya dengan luka masa lalu. Ini adalah film yang sangat dekat dan menyentuh hati terdalam saya,” ucap Angga Yunanda.
Baca juga: Film Dopamin, Cara Bahagia Saat Keberuntungan dan Kesialan Datang Sekaligus
Menurut Angga, film ini cukup dalam dan menyentuh hati, perasaannya cukup remuk saat melihat Bayu. Angga dapat merasakan saat Bayu berusaha menggapai impian yang menjadi ambisi. Obsesi yang tak bisa dihentikan sehingga banyak yang harus dikorbankan, termasuk diri sendiri dan orang lain.
![]() |
| Angga Yunanda, pemeran Bayu |
Angga sangat berdedikasi dengan adegan-adegan yang terlihat begitu menghayati, seperti saat melata seperti lintah dan bergantung dengan kepala di bawah. Demikian juga dengan Maudy Ayunda yang banyak bertelanjang kaki dan menari bak orang kerasukan. Anggun juga terlihat begitu menghayati saat merapal mantra, serta Chicco Kurniawan dan Byan Domani yang memainkan instrumen musik.
Koreografi dalam film ini diciptakan oleh Siko Setyanto yang orisinal, tidak meniru tradisi yang ada. Tari-tari dari koreografi gerak tubuh ini diterjemahkan sebagai berbagai lapisan emosi rasa takut, cinta dan keinginan menjadi energi kolektif.
“Wregas punya pandangan yang sangat unik. Setiap filmnya selalu memiliki isu sosial. Caranya bercerita membuat kita tergugah dan mempertanyakan banyak hal ke diri sendiri. Semoga ‘Para Perasuk’ juga bisa meninggalkan kesan ke semua orang,” ucap Anggun yang memerankan Guru Asri.
![]() |
| Anggun, pemeran Guru Asri |
Film “Para Perasuk” juga menandai langkah baru Maudy Ayunda dalam berkarya. Karakter Laksmi yang diperankan Maudy memiliki kerapuhan dari masa lalunya. Rasa takut dan ingin tahu membuat Maudy terpanggil, sehingga rasa takutnya pun berubah menjadi rasa yakin. Maudy belajar proses melepas diri dari kontrol dan berada di luar zona nyaman melalui film “Para Perasuk”.
![]() |
| Maudy Ayunda, pemeran Laksmi |
“Laksmi yang aku perankan adalah karakter yang penting, karena dia satu-satunya dari ansambel yang memanifestasikan proses kerasukan. Sebagai pelamun, Laksmi kerasukan roh hewan, aku menerjemahkannya dalam bentuk tarian yang menjadi proses untuk berserah dari upaya mengontrol diri. Aku menggunakan intuisi dan rasa. Film ini terasa sangat magical sekaligus sangat personal karena membicarakan mengenai ambisi dan upaya untuk sembuh dari luka masa lalu,” ucap Maudy Ayunda.
Para produser film ini pun mengungkapkan sudut pandang mereka mengenai film “Para Perasuk”.
“Tantangan skala produksi film lebih besar dibandingkan film-film Wregas sebelumnya. Hal yang menarik dalam film ini adalah kokreasi. Ada mantra yang melibatkan Anggun untuk menciptakan 20 mantra secara impromptu. Maudy bekerja sama dengan koreografer untuk membuat gerakan roh,” ucap Iman Usman.
![]() |
| Iman Usman, produser film "Para Perasuk" |
Sementara itu, Sierra Tamihardja mengungkapkan bahwa film ini lebih menonjolkan plot emosional. Menurutnya, walau seseorang memiliki mimpi baik, tetapi jika caranya tidak benar malah bisa menyakiti orang lain.
“Rekata Studio ingin menyampaikan karya yang lebih jujur. Wregas bercerita mengenai obsesi, berusaha menemukan resolusi dan berdamai dengan diri sendiri. Kadang kita merasakan hal yang sama, sehingga film ini relevan dengan apa yang kita rasakan,” ucap Sierra.
Wregas mengungkapkan bahwa film “Para Perasuk” merupakan 10 tahun Angga berkarya, 20 tahun Maudy berkarya dan 40 tahun Anggun berkarya. Film ini juga merupakan 20 tahun Wregas berkarya sejak dirinya terlibat membuat film saat masih SMP.











