
Teknogav.com – Saat ini pendekatan pemasaran yang generik kurang relevan seiring kian terfragmentasinya perilaku konsumen dan kian padatnya arus konten digital. Kemampuan membaca konteks audiens secara lebih spesifik, mulai dari perilaku, ekspektasi, komunitas, sampai nuansa budaya dibutuhkan brand dalam mengambil keputusan. Pergeseran pendekatan ini membuat Strategic Asia Marketing Alliance (SAMA) Indonesia menyelenggarakan program reguler SAMA Connect bersama media, komunitas dan ekosistem. Program ini membahas isu-isu strategis dalam dunia pemasaran, komunikasi, dan bisnis. Kali ini tema yang diangkat adalah “Mengupas Strategi Pemasaran di Era Digital: Seefektif Apakah Marketing Technology & Hyper-localized Marketing?”
SAMA Indonesia beranggotakan ADX Asia, GameLevelOne, IDEOWORKS, Ivosights, KATA.ai, KIM Communications, Udari, Krona, Meson Digital, Naikreatif, Omeoo, dan SevenAds. Kekuatan mereka saling melengkapi untuk menghadirkan solusi pemasaran strategis, terintegrasi, dan relevan bagi kebutuhan spesifik tiap market. SAMA sebagai aliansi pelaku strategic marketing di kawasan Asia berkomitmen untuk menjadi aliansi yang memahami perubahan realitas pemasaran di Indonesia.
Baca juga: Kolaborasi VMware dan NVIDIA Sajikan AI Generatif bagi Bisnis
Pemasaran hiper-lokal, data, AI dan MarTech untuk membangun strategi pemasaran yang presisi dan relevan menjadi sorotan SAMA Connect kali ini. Para anggota dewan pendiri SAMA Indonesia menjadi narasumber dalam forum ini, yaitu:
- Arianto Bigman, CEO IDEOWORKS sekaligus President SAMA Indonesia
- Kristyanto, Co-founder & Chief of Product-Project Ivosights
- Adrian Lesmono, Consumer Country Business Lead NVIDIA Indonesia
- Anjas Maradita, AI Practitioner dan AI-Based Business Solutions Developer
SAMA Indonesia yang didirikan pada 8 Agustus 2024 memiliki pendekatan hiper-lokal. Tuntutan perlunya pemasaran hiper-lokal sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar diferensiasi ditegaskan oleh Arianto Bigman, President SAMA Indonesia.
![]() |
| Arianto Bigman, President SAMA Indonesia |
“Banyak brand masih tergoda menggunakan formula yang berhasil di pasar atau negara lain lalu menerapkannya begitu saja di Indonesia. Padahal pasar bergerak dengan logika, bahasa, sensitivitas, dan ekspektasinya sendiri. Hyper-localized marketing menjadi penting karena efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan memahami konteks lokal secara mendalam, mulai dari perilaku audiens, karakter komunitas, hingga nuansa budaya yang memengaruhi keputusan konsumen;" ucap Arianto.
Perkembangan teknologi telah membuka peluang besar bagi pelaku pemasaran untuk bekerja lebih cepat dan lebih presisi. Namun, Arianto menekankan bahwa teknologi tidak otomatis menghasilkan strategi yang tepat. Pemanfaatan data, AI, dan teknologi pemasaran makin efektif bila dipadukan pemahaman mendalam terhadap konteks lokal dan kebutuhan personal pelanggan.
“MarTech, AI, dan data analytics dapat membantu marketer bekerja lebih cepat dan lebih presisi. Namun pendayagunaan teknologi akan makin berarti bila dipandu strategic thinking yang kuat serta pemahaman yang tajam terhadap kebutuhan nyata pelanggan serta konteks lokal. Kami di SAMA memiliki kekuatan pada strategic thinking yang dipadu dengan pemahaman mendalam terhadap efektivitas MarTech,” tegas Arianto.
Strategi pemasaran yang efektif tidak bisa sekadar menyadur template atau best practice dari market lain. Setiap wilayah memiliki isu lokal, karakter budaya, perilaku digital, dan ekspektasi pelanggan yang berbeda. Pendekatan lebih tajam dihasilkan dari kemampuan menggabungkan perspektif strategis lintas market dengan kepekaan kuat terhadap kebutuhan spesifik audiens setiap pasar.
Baca juga: Komdigi Luncurkan AI Center of Excellence Bersama Indosat, Cisco dan NVIDIA
Krisyanto, Co-founder & Chief of Product-Project Ivosights menilai tantangan brand saat ini tak hanya mengejar engagement tinggi. Brand perlu dijaga tetap bermakna di tengah dominasi algoritma dan arus konten yang serba cepat. Kampanye dengan engagement tinggi masih banyak didorong konten bersifat taktikal, sedangkan penguatan brand value, positioning, dan brand equity kerap dikesampingkan. Perilaku konsumen juga kian luwes bergerak antar-channel, sehingga brand dituntut hadir secara lebih mulus di berbagai touchpoint.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya bagaimana brand terlihat ramai atau relevan di level algoritma, tetapi bagaimana brand tetap punya makna, konsistensi, dan kedekatan yang nyata dengan audiensnya. Di sinilah data, social listening, dan AI menjadi penting. Bukan hanya untuk membaca pola perilaku konsumen, tetapi juga untuk membantu brand memahami konteks, sentimen, serta memprediksi dan menjawab kebutuhan yang terus berubah. Namun, efektivitasnya tetap sangat bergantung pada kecerdasan manusia dalam menerjemahkan insight menjadi strategi yang peka terhadap karakter lokal dan sisi emosional pelanggan,” ucap Kristyanto.
![]() |
| Krisyanto, Co-founder & Chief of Product-Project Ivosights |
Kristyanto mengungkapkan bahwa masyarakat segan jika ditangani chatbot. Tren dipengaruhi berubahnya perilaku pelanggan, transformasi platform dan teknologi, serta pergeseran fundamental pada media sosial. Hal senada juga disampaikan Anjas Maradita, praktisi dan pengembang solusi berbasis AI. Menurutnya, personalisasi yang efektif tak sebatas pada automasi pesan atau penggunaan data permukaan.
“Di era sekarang, personalisasi tidak cukup hanya berarti menyapa pelanggan dengan nama mereka. Jauh lebih penting untuk memahami kebutuhan, kegelisahan, motivasi, dan konteks hidup masing-masing pelanggan," ucap Anjas.
Data, big data, dan AI sangat membantu membaca pola, memetakan peluang, serta meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan. Semua orang bisa memanfaatkan AI di tengah banyaknya alat AI. Namun, arah strateginya harus tetap ditentukan manusia.
"Pemenangnya adalah mereka yang mampu membaca nuansa, empati, dan sisi emosional guna menyusun strategi yang kuat dan matang untuk membuat sebuah pesan benar-benar terasa relevan. Ingat, AI bukan pengganti manusia, melainkan alat untuk mendongkrak produktivitas manusia,” ungkap Anjas.
Baca juga: Salesforce Paparkan Lima Tren Agentic AI di Institusi Keuangan
Kesiapan teknologi untuk mendukung hal tersebut dipaparkan oleh Adrian Lesmono, Consumer Country Business Lead NVIDIA Indonesia. Menurutnya, kini landasan untuk optimalisasi AI dan MarTech kian terbuka. Dulu AI hanya teknologi sederhana, tetapi kini AI sudah berevolusi dengan cepat menjadi teknologi untuk berbagai macam. Penggunaan AI termasuk untuk game dan agen AI yang bisa mengerjakan tugas-tugas tanpa harus dikendalikan manusia.
AI dapat memperpendek siklus dan mengubah paradigma untuk membuat konten pemasaran. Konten generik dapat dibuat dengan mudah menggunakan AI. Zaman sekarang alat AI memungkinkan semua bisa melakukan kampanye tanpa perlu agensi besar dan memudahkan mencari informasi.
![]() |
| Adrian Lesmono, Consumer Country Business Lead NVIDIA Indonesia |
“Kemampuan komputasi yang makin kuat membuat lebih banyak use case AI menjadi realistis untuk dijalankan lebih cepat, lebih efisien, dan makin dekat dengan kebutuhan organisasi, maupun pengguna. Teknologi GeForce RTX50 Series terbaru dari NVIDIA mampu menjadikan teknologi AI makin relevan untuk kebutuhan hyper-localized marketing. Teknologi adalah enabler dan untuk menghasilkan strategi pemasaran yang tajam dan tepat guna, pelaku industri tetap membutuhkan talenta yang memahami budaya lokal, perilaku audiens, dan kearifan pasar secara mendalam. Di situlah peran manusia tetap menjadi sangat penting,” ucap Adrian.
Adrian juga menegaskan bahwa teknologi AI telah meniadakan asimetri informasi antara bisnis dan konsumen. Bisnis harus mampu menciptakan nilai lebih bagi pelanggan dengan memahami kebutuhan dan preferensi mereka. Pemasaran hiper-lokal tidak lagi menjadi pilihan atau keandalan, tetapi sudah menjadi keharusan.









