
Teknogav.com - Gohan merupakan film drama asal Thailand mengenai kisah seekor anjing liar dalam tiga fase kehidupannya bersama tiga pemilik yang berbeda. Uniknya setiap penggalan kisahnya bersama pemilik yang berbeda juga digarap oleh tiga sutradara berbeda dan anjing yang berbeda. Film hasil produksi GDH ini berdurasi cukup panjang, yaitu 145 menit yang mencampuradukkan emosi. Gemas dengan kelakuan Gohan sebagai anak anjing, pilu saat kehilangan dan mengalami siksaan, serta sedih seiring menuanya Gohan. Film ini bukan hanya soal anjing, tetapi perjalanan tentang bagaimana cinta tak harus bicara, tapi bisa menyembuhkan segalanya.
Seekor anjing liar ras Bangkaew Thailand memasuki kehidupan pensiunan insinyur Jepang, pekerja imigran dan sepasang kekasih yang saling menjauh. Kehadiran anjing dengan bulu putih dan hidung pink ini membuahkan ikatan yang menjadi perjalanan menyentuh mengenai cinta, kesembuhan dan harapan. Film ini menyentuh hati tanpa melodrama berlebihan. Alurnya lebih menekankan perjalanan seekor anjing jalanan dan manusia-manusia yang ditemuinya, menghadirkan cerminan mengenai rumah, kasih sayang dan kehilangan.
Baca juga: Crocodile Tears: Film Indonesia Hasil Kolaborasi Sineas dari 4 Negara
Anjing yang diberi nama Gohan oleh pensiunan insinyur Jepang tersebut menjadi simbol kesetiaan dan cinta tanpa syarat. Gohan mengingatkan bahwa rumah bukan sekadar tempat, tetapi rasa diterima. Film ini menekankan bahwa setiap pertemuan membawa risiko perpisahan, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh. Pada film ini, rumah digambarkan sebagai ruang emosional, bukan fisik semata, tetapi perasaan yang dibangun melalui cinta dan kenangan. Kerinduan akan rumah ditunjukkan universal lintas generasi dan budaya, dari pensiunan Jepang, pekerja migran Myanmar, sampai sepasang kekasih.

Momen kecil berupa tatapan, rutinitas sederhana menjadi sumber emosi dengan ritme yang tenang dan intim. Akting para pemeran begitu kuat, penampilan anjing-anjing yang memerankan Gohan di setiap fase kehidupannya juga mencuri perhatian. Kehadiran mereka begitu alami, tidak terlalu sentimental, tetapi mengharukan. Film ini mencakup perpaduan genre, kehidupan yang hangat, drama sosial realistis penuh ketegangan dan releksi kisah pendewasaan dengan manis pahitnya.

Pada segmen pertama, Gohan yang masih berupa anak anjing dipertemukan dengan Hiro (Yaushi Kitajima), karakter pensiunan Jepang. Hiro bekerja di perusahaan otomotif di Thailand yang dipaksa untuk pensiun, sosoknya dihormati dan tinggal seorang diri. Kisah dalam film ini disampaikan melalui sudut pandang Hiro dan penonton dapat mengalami cerita melalui sudut pandang dan petualangannya.
Baca juga: Film Shelter Gambarkan Sulitnya Lolos dari Teknologi Pengintaian Ketat
Nama Gohan yang berarti nasi diberikan Hiro karena warna bulu yang putih. Hubungan Gohan dan Hiro penuh kehangatan dan kesunyian yang menyentuh sampai Gohan beranjak dewasa. Segmen ini digarap oleh sutradara Chayanop Boonprakob dengan menyajikan nuansa Jepang, visual lembut dan penuh kehangatan.

Namcha bahkan bisa menaklukkan rasa takutnya demi menyelamatkan Gohan dari eksploitasi seorang pemilik penampungan hewan. Gohan dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan rasa iba dari media sosial.

Setelah Namcha terpaksa berpisah dengan Gohan yang kemudian hidup liar di stasiun kereta. Gohan pun menjadi bagian kehidupan sepasang kekasih muda Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pele (Jinjett Watanasin). Segmen ketiga ini menampilkan dinamika muda yang rapuh, menyoroti transisi kehidupan pasca kuliah. Ketika Jaidee dan Pele berpisah, Gohan yang sudah sakit-sakitan menjadi jalan Pele untuk bisa rujuk kembali dengan Jaidee. Tanpa disadari, Gohan mengajarkan arti cinta sesungguhnya pada seorang mahasiswa seni. Atta Hemwadee yang menyutradarai segmen ketiga ini menampilkan gaya drama remaja yang manis pahit.
Baca juga: 4 Film Pendek Karya 4 Sutradara Indonesia Siap Melenggang di Cannes
Gohan diperankan oleh tiga anjing berbeda di setiap fase, dengan ekspresi natural yang menjadi pusat emosi film. Saat masih fase anak anjing, Gohan diperankan oleh Kori, saat muda diperankan Meechok dan saat tua oleh Hima. Pada setiap fase kehidupan dengan peralihan pemiliki pun Gohan diberi nama yang berbeda. Brownie saat dewasa, dan Hima saat tua, tetapi Gohan tetap memberikan cinta yang bermakna terlepas dari nama tersebut. Ketiga segmen dalam kehidupan Gohan tersebut menampilkan meditasi mengenai manusia, rumah dan cinta yang bertahan di tengah perubahan zaman. Warna berbeda yang disajikan tiga sutradara berhasil menyatukan humor, tragedi dan kehangatan menjadi satu perjalanan emosional yang utuh.
Kisah hidup Gohan dan pemiliknya yang sederhana ini begitu merebutkan dan dapat merebut hati penonton. Kendati sederhana, sinematografi dan alur ceritanya begitu luar biasa, tetapi relevan bagi pemiliki hewan peliharaan dan pecinta hewan. Film ini akan ditayangkan di bioskop Indonesia mulai 14 Mei 2026.





