Pesatnya Industri Gift Card Picu Ancaman Kebocoran Finansial bagi Bisnis Pesatnya Industri Gift Card Picu Ancaman Kebocoran Finansial bagi Bisnis ~ Teknogav.com

Pesatnya Industri Gift Card Picu Ancaman Kebocoran Finansial bagi Bisnis



Teknogav.com – Peningkatan adopsi hadiah digital dan program loyalitas korporat memicu pesatnya pertumbuhan industri gift card di Indonesia. Namun, manipulasi gift card dapat menggerus pendapatan retail, bank, dan platform loyalitas. Persoalan ini disoroti perusahaan keamanan siber Zentara Technologies di Konferensi Incentive Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen. Pada forum tersebut, Zentara Technologies yang berkantor di Jakarta dan Singapura memaparkan skema-skema canggih dalam mengeksploitasi gift card tersebut. Asia Tenggara merupakan salah satu sasaran utama dari modus tersebut.

Indonesia merupakan pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan adopsi pembayaran berbasis mobile yang terus tumbuh pesat. Berdasarkan Indonesia gift card Business and Investment Opportunities Databook pasar gift card pada tahun 2025 mencapai USD2,37 miliar. Proyeksinya, angka tersebut akan mencapai 3,67 miliar pada tahun 2030 dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) 9,1%. Industri gift card kini menawarkan kartu fisik dan kartu digital untuk membantu bisnis memperkuat loyalitas pelanggan dan memotivasi karyawan.

Baca juga: Gelar RiskTech Connect, SEON Tawarkan Sistem Pertahanan Terintegrasi dan Adaptif  

Sayangnya, gift card dapat dieksploitas melalui seluruh siklus hidup gift card, bukan melalui pembobolan sistem. Siklus hidup gift card tersebut mulai dari produksi dan aktivasi, sampai penukaran. Eksploitasi dapat dilakukan hanya dengan mengambil detail kartu yang dipajang di rak retail, dana pun dapat diakses saat kartu diaktivasi. Pembeli kartu yang sudah dikompromikan tersebut kerap mendapati dana tidak sampai ke penerima yang dituju. Kejanggalan ini tidak dirasakan oleh pembeli, peritel dan bank. Kerugian biasanya terlihat belakangan, melalui keluhan pelanggan atau anomali data yang terlewatkan.

Fraud yang paling merusak saat ini tidak selalu melilbatkan peretasan sistem. Sebaliknya, ia menyamar hingga tampak sepenuhnya normal. Banyak perusahaan masih berharap fraud akan memicu alarm keamanan standar. Padahal fraud seperti pada gift card justru sulit didetaksi karena transaksinya terlilhat seperti kegiatan pelanggan sehari-hari. Sistemnya tidak dibobol, sistem itu justru digunakan untuk melawan bisnis itu sendiri,” ucap Regal Star, CEO Zentara Technologies.

Baca juga: Paparkan Pertumbuhan Bisnis, Kaspersky Tekankan Pentingnya Meningkatkan Investasi di SOC 

Evolusi Fraud Seiring Pertumbuhan Ekonomi Digital

Gift card, voucer digital dan reward loyalitas makin diadopsi. Nilai pasar gift card global pun mencapai sekitar USD1,2 triliun setiap tahun. Seiring peningkatan adopsi tersebut, industri gift card kian dituntut untuk melindungi nilai pelanggan dan menjaga kepercayaan pada sistem pembayaran mereka.

Seiring pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara, sebagian besar fraud gift card tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan. Kondisi ini menimbulkan kerugian pendapatan sulit diidentifikasi, terutama seiring pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara. Laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google-Temasek-Bain mengungkapkan bahwa ekonomi digital Asia Tenggara mencapai USD263 miliar dalam GMV pada tahun 2024. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan yang konsisten dalam perdagangan dan pembayaran digital. 

Tiga Metode Gift Card Global

Sasaran fraud gift card adalah infrastruktur kepercayaan yang menopang dompet digital dan program loyalitas. Sayangnya, banyak bisnis yang masih mengandalkan kerangka lama untuk mengukur eksposur fraud mereka.

Penelitian Zentara menekankan tiga mode fraud global yang sedang berkembang. Sasaran fraud ini adalah produk bernilai tersimpan dan sistem pembayaran. Berikut ini adalah tiga mode tersebut:

  • Skema pengurasan kartu atau card draining yang mengeksplorasi kartu sebelum diaktifkan
  • Fraud identitas sintetis untuk memperoleh dan memonetisasi nilai tersimpan
  • Serangan rekayasa sosial berbasis AI untuk menyasar karyawan yang menerbitkan, mengganti atau mengelola gift card.

“Alih-alih hanya berfokus pada kerentanan teknologi, fraud modern semakin mengeksploitasi proses bisnis dan perilaku manusia. Seiring AI menekan biaya operasional penipuan, organisasi perlu mengantisipasi bahwa para pelaku ancaman akan terus menyasar jalur yang paling efisien untuk menghasilkan keuntungan finansial,” lanjut Regal.

Baca juga: Solusi 8x8 Omni Shield Lindungi Perusahaan dari Biaya SMS Fiktif  

Menurut Regal, keamanan sistem tidak cukup, perlu juga memahami secara mendalam mengenai kegiatan normal. Hal ini karena sering kali kebocoran tersembunyi tidak terlihat.

Berikut ini adalah rekomendasi Zentara Technologies bagi perusahaan: 

  • Pantau pola penukaran gift card. Jika ada anomali dalam waktu, lokasi atau volume, maka bisa menjadi peringatan dini.
  • Lacak kecepatan dari aktivasi sampai penukaran. Konversi yang terlalu cepat bisa menandakan proses pencairan otomatis.
  • Latih karyawan untuk mengenali rekayasa sosial berbasis AI. Kini karyawan yang menerbitkan, mengganti atau mengelola gift card berada di garis terdepan pertahanan terhadap fraud.

“Salah kaprah yang umum adalah menyamakan keamanan dengan tidak adanya pelanggaran. Kasus fraud paling signifikan justru sering kali lolos dari alarm konvensional karena meniru transaksi pelanggan yang sah. Tanpa pemantauan aset yang granular, seperti melacak gift card dari aktivasi awal hingga penukaran akhir, institusi berisiko menanggung kerugian finansial yang besar namun tidak terdeteksi,” ucap Darian Kuswanto, President dan Co-Founder Zentara Technologies,

Share:

Artikel Terkini