
Teknogav.com – Kaspersky menyelenggarakan Academic Partners Summit di Jakarta yang mengusung tema “AI, Security, and Society: What’s Next for Our Digital Future?”. Pertemuan tersebut membahas mengenai cara keamanan berbasis AI bersinggungan dengan kebutuhan masyarakat, kebijakan publik dan realitas regional di Asia Pasifik. Ajang ini menjadi wadah bertemunya para pembuat kebijakan, praktisi keamanan siber, dan perwakilan akademisi di Indonesia. Mereka mengkaji hubungan yang terus berkembang antara Akal Imitasi (AI), keamanan siber dan masyarakat.
Baca juga: Perkuat Ekosistem Keamanan Siber Indonesia, Huawei dan BSSN Perbarui MoU
“Kami mengapresiasi Kaspersky atas event strategis ini. Indonesia merupakan negara dengan ekonomi digital tercepat di Asia Tenggara, sehingga terpapar risiko ancaman siber yang besar. Prediksi Kaspersky dapat menjelaskan hal tersebut dengan jelas, termasuk bergesernya modus deepfake sehingga menjadi lebih mainstream. Berkurangnya barrier untuk meyakinkan atau menipu juga memperlebar kemungkinan bagi pelaku. Tingkat penipuan untuk dapat menipu banyak pengguna internet meningkat, bahkan sudah mencapai Rp9,1 triliun,” ucap Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.
![]() |
| Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia |
Pentingnya Sumber Daya Manusia Keamanan Siber di Era AI
Penilaian manusia, pemikiran kritis dan pengambilan keputusan yang etis tetap krusial walau AI kian cakap dalam hal serangan dan pertahanan. Hal-hal tersebut bahkan merupakan sumber daya paling langka dan berharga dalam bidang keamanan siber. Masalah kekurangan tenaga ahli keamanan siber global yang terus berlanjut dan tantangan di Asia Pasifik menjadi sorotan dalam pertemuan ini.
Asia Pasifik menyumbang 60% dari kesenjangan talenta siber di dunia, 95% tim keamanan melaporkan masih adanya kekurangan tenaga ahli. Sejumlah 65% pekerjaan keamanan siber di Asia Tenggara mensyaratkan pengalaman kerja tiga tahun atau kurang. Hal tersebut menegaskan pentingnya menciptakan jalur akses terbuka bagi talenta yang baru memulai karier.
Baca juga: BSSN Kunjungi Pusat Transparansi Kaspersky di Swiss
Kurangnya infrastruktur yang kompeten dan terbatasnya ketersediaan materi pelatihan dalam bahasa lokal menjadi tantangan utama yang diidentifikasi dalam kajian ini. Tantangan tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi antara akademisi, industri dan pembuat kebijakan untuk mencetak generasi profesional keamanan siber masa depan.
![]() |
| Evgeniya Russkikh, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs, Kaspersky. |
“Ketika AI menjadi kian cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting. Mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis; hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat. Kolaborasi kuat antara akademisi, industri, dan sektor publik akan sangat penting untuk membangun sumber daya manusia yang dibutuhkan demi masa depan digital yang tangguh,” ucap Evgeniya Russkikh, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs, Kaspersky.
Memahami Munculnya Malware Berbasis AI
Kemudahan mengakses alat-alat AI dapat menurunkan biaya operasional dan mengubah cara penjahat siber dan pelaku ancaman tingkat lanjut melakukan aksinya. Pelaku dapat dengan mudah melakukan phishing massal dan yang ditargetkan, deepfake, mengembangkan malware, dan mengumpulkan intelijen sumber terbuka berbasis AI. Para pelaku kejahatan siber ini bahkan bisa melakukan otomatisasi pada operasi kejahatan siber mereka.
Sejak tahun 2022, AI banyak dimanfaatkan sebagai asisten pengetahuan untuk mengembangkan malware. AI kian mendukung penulisan kode pemrograman, pengintaian dan phishing sampai tahun 2023 dan 2024. Jelang tahun 2025, AI kian terintegrasi dalam alur kerja pengembangan malware yang lebih luas. Fenomena ini menandai potensi lebih lanjut berupa pengembangan malware yang bersifat agentik atau dapat bertindak secara otonom.
Kesenjangan antara keterampilan teknis, kemampuan operasional dan waktu pengembangan dapat dipersempit dengan AI di era saat ini. Analisis tersebut juga menekankan indikator teknis yang bisa membantu peneliti mengidentifikasi malware buatan AI. Beberapa malware tersebut mencakup komentar kode yang berlebihan, nama variabel yang umum, keluaran bergaya tutorial, dan pesan berisi emoji. Selain itu ada juga modul dan API yang bersifat halusinasi atau salah. AI juga dimanfaatkan untuk mendukung pengintaian, penelitian kerentanan, pembuatan alat eksploitasi, debugging kode dan tahapan lain untuk melancarkan serangan.
Baca juga: Perkuat Ketahanan Siber Indonesia, Kaspersky dan BSSN Perbarui Nota Kesepahaman
![]() |
| Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky |
“AI mengubah aspek ekonomi dan kecepatan kejahatan siber. Teknologi ini tidak hanya membantu penyerang menulis kode lebih cepat, tetapi juga makin mendukung pengintaian, penelitian, pengujian, dan tahapan operasi ofensif lainnya. Evolusi ini mempertegas perlunya para profesional keamanan siber, peneliti, dan pendidik untuk memahami bagaimana AI diadopsi oleh pelaku ancaman, sehingga kita dapat memperkuat pertahanan dan bersiap menghadapi ancaman siber generasi berikutnya,” ucap Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky.
Memperkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Digital yang Terpercaya
Kaspersky berusaha mendorong para pemangku kepentingan untuk berdialog lebih mendalam mengenai peluang dan tantangan yang dihadirkan AI. Dialog tersebut difasilitasi Kaspersky melalui Academic Partners Summit 2026 Jakarta yang mempertemukan komunitas akademis, praktisi keamanan siber, dan pembuat kebijakan.
Perlunya pendekatan yang seimbang ditekankan dalam pertemuan tersebut. Pendekatan ini merangkul potensi AI untuk mendorong inovasi dan memperkuat pertahanan siber. Upaya ini dilakukan sambil memastikan keahlian manusia, pengambilan keputusan bertanggung jawab, dan pertimbangan etis tetap menjadi inti dari keamanan siber.
Kini AI sudah menjadi kekuatan strategis yang akan mempengaruhi kekuatan ekonomi, ketahanan nasional dan keamanan Indonesia. Memastikan penerapan AI berjalan secara bijak merupakan tanggung jawab semua pihak, termasuk dalam mendorong inovasi dan memperkuat keamanan. Hal ini penting dilakukan demi meraih kepercayaan publik dan membekali masyarakat agar dapat beradaptasi. Kapabilitas AI di Indonesia di masa depan harus dilandasi teknologi cerdas, talenta manusia, tata kelola dan ketahanan yang dibutuhkan untuk mengamankan kepentingan jangka panjang bangsa.
"Dan saya sangat meyakini pentingnya berpikir kritis, ko-kreativitas dengan AI, kolaborasi terbuka, komunikasi yang baik, serta sikap yang tepat terhadap keamanan siber," ucap Prof. Ridi Ferdiana, Direktur Direktorat Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada.
Kaspersky meyakini bahwa seiring transformasi AI yang terus mengubah aspek pertahanan maupun serangan dalam keamanan siber, kolaborasi lintas sektor akan kian penting untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan ketahanan yang diperlukan dalam membangun ekosistem digital tepercaya. Bagi Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik secara luas, penguatan pendidikan keamanan siber dan pengembangan sumber daya manusia akan menjadi elemen krusial untuk memastikan transformasi digital tetap aman, inklusif, dan berkelanjutan.









