
Teknogav.com – “Djamin Setia Selamanya” merupakan film epik yang diangkat dari perjalanan hidup perjuangan kemerdekaan asal Tanah Karo, yaitu Djamin Ginting. Film ini disutradarai Rako Prijanto dari skenario yang ditulis Titien Wattimena bersama Lynda Ulviana dan diproduseri Erjege Pictures. Kisah dalam film ini mengangkat perjalanan seorang pahlawan nasional, Djamin Ginting bersama teman-teman seperjuangannya untuk memerdekakan Indonesia. Jadwalnya, film ini akan ditayangkan serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026 yang merupakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Putri almarhum Djamin Ginting, Riahna Djamin Ginting, produser eksekutif film ini mengungkapkan bahwa film ini merupakan penghormatan terhadap sosok ayah. Film ini juga berperan sebagai hadiah bagi generasi Indonesia. Sebelumnya, juga pernah dibuat film mengenai ibunya, yaitu 3 Nafas Likas yang juga disutradarai oleh Rako Prijanto."Bagi saya, Djamin Setia Selamanya bukan sekadar film, melainkan penghormatan untuk ayah saya yang telah mengabdikan hidupnya bagi Indonesia. Saya berharap generasi Z dan Milenial dapat melihat bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian anak muda yang peduli, berani bersuara, dan berani mengambil tindakan. Semoga kisah Djamin Ginting mampu menginspirasi lahirnya semangat yang sama di generasi hari ini," ucap Riahna Djamin Ginting.
Baca juga: Film "Perang Kota" Usung Audio Dolby Atmos dan Kamera Dinamis
Ketertarikan untuk mengangkat kisah Djamin Ginting pun disampaikan oleh Rako Prijanto, sutradara film ini. Menurutnya, Djamin adalah seperti kita semua, seorang laki-laki dari Desa di Karo yang visioner melakukan strategi out of the box.
“Saya tertarik mengangkat kisah Djamin Ginting karena beliau membuktikan bahwa seorang pemuda biasa dengan keberanian dan pemikiran visioner mampu mengubah sejarah. Saya berharap Djamin Setia Selamanya tidak hanya menjadi tontonan sejarah, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk berani mengambil keputusan dan menjadi bagian dari perubahan,” ucap Rako Prijanto, sutradara film Djamin Setia Selamanya.
Sinopsis
Kisah Djamin memadukan perpaduan drama sejarah, aksi perang dan kisah kemanusiaan yang relevan dengan kehidupan generasi masa kini. Djamin Ginting dilahirkan 12 Januari 1921 di Desa Suka dan mengenyam pendidikan Belanda di Handelsschool. Perlawanannya terhadap Belanda terpicu ketika gurunya mengajarkan materi tentang kolonialisme yang dilakukan bangsa Eropa. Ketika Jepang datang dan dianggap sebagai saudara tua, Djamin pun bergabung sebagai perwira Gyugun.

Namun, Djamin menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia tidak akan pernah diraih dari belas kasihan bangsa penjajah. Djamin pun tumbuh menjadi pemimpin besar melalui keberanian, pengorbanan, kecerdasan dan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, Djamin menjadi salah satu tokoh penting yang membangun kekuatan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kabanjahe. Perlawanan di berbagai medan pertempuran dipimpinnya, mulai dari Medan Area, Tanah Karo, Langkat, sampai Aceh demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dinamika hubungan cinta Djamin dengan perempuan tangguh, Likas Tarigan menjadi kekuatan emosional dan penyemangat perjuangan Djamin. Persahabatan dengan Kadir Saragih, Selamat Ginting dan Jacob Waas yang dikenalnya saat awal bergabung Gyugun menampilkan solidaritas sesama pejuang. Eratnya hubungan persahabatan mereka menjadi landasan kisah mengenai loyalitas, pengorbanan dan arti persaudaraan di tengah perang.
Kekuatan Cerita, Audio dan Sinematografi
Sejak awal film dimulai, film ini langsung memperlihatkan penggarapan audio film yang terasa begitu nyata. Efek suara desingan peluru di tengah peperangan, sampai suara dengingan yang mengganggu telinga setelah ledakan bom membuat sensasi yang nyata. Pilihan tone warna dan set latar juga digarap serius sehingga membuat penonton terasa benar-benar dibawa ke masa silam. Tata rias para pemeran terlihat mengesankan, wajah Teddy Syach terlihat begitu meyakinkan sebagai pria Batak ayah Djamin, yaitu Lantak Ginting.
Baca juga: Film "Dear You", Kisah Mengharukan Perantauan Tionghoa dengan Sinematografi Mengesankan
Kisah yang diangkat diceritakan dengan begitu menarik dan runut dengan alur yang pas, kecepatannya tidak terasa terburu-buru dan tidak lambat. Kepahlawanan tokoh utama tidak digembar-gemborkan secara bombastis. Sosok-sosok lain di sekitarnya diikutsertakan menjadi elemen penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Film ini juga tidak dibawakan secara serius, pendekatan cinta Djamin melalui perantaraan temannya menyelipkan unsur humor dalam film.

Adegan peperangan juga benar-benar bisa membuat penonton menghayati, apalagi ketika terjadi pertarungan satu lawan satu yang menegangkan. Ketika ada pasukan yang gugur, rasa pilu dan kehilangan juga seolah bisa dirasakan langsung oleh penonton. Sebaliknya, saat kemenangan dalam menyerang sarang musuh, rasa senang juga bisa dirasakan, dengan pemilihan lagu penyemangat yang pas. Penataan audio dalam film ini digarap dengan baik, ketika berusaha meraih dan menanti cinta, menyusun strategi, peperangan, sampai kemenangan.
Baca juga: Film Warfare, Tampilkan Kisah Nyata Mencekam Navy SEAL di Irak
Kekuatan Akting para Pemeran
Sosok Djamin diperankan oleh aktor dan musisi muda berbakat yang tengah bersinar, Rafi Sudirman dengan begitu memukau. Kecerdasannya terlihat nyata, demikian juga dengan ketegasan dan kefasihannya berbahasa Belanda. Rafi Sudirman dikenal melalui karya-karyanya di industri musik dan kini bertranformasi sebagai sosok pejuang nasional yang memimpin pasukan gerilya.
Tak hanya Rafi, para pemeran dalam film ini juga menampilkan akting terbaiknya. Chemistry Rafi dengan Chicco Kurniawan, Jourdy Pranata dan Marcell Darwin terasa kuat dalam menampilkan persahabatan empat pejuang. Chicco berperan sebagai Kadir Saragih, Jourdy sebagai Selamat Ginting dan Marcell sebagai Jacob Waas. Demikian juga dengan sosok pejuang kecil yang menjadi penyelamat perjuangan mereka, Ucok, diperankan dengan baik oleh Sulthan Hamonangan.

Tentu saja kekasih hati Djamin yang pada akhirnya menjadi istrinya diperankan dengan memikat oleh Claresta Taufan yang berperan sebagai Likas Tarigan. Claresta dapat menampilkan semangat Likas yang berapi-api saat berorasi, tetapi juga bisa menggemaskan saat proses pendekatan Djamin. Sebaliknya sosok Sarita yang penuh keragu-raguan saat Djamin meminta untuk mendampinginya pun tergambarkan jelas oleh akting Aria Ailani.
Akting Unique Priscilla sebagai Tidang Tarigan, ibunda Djamin juga mencerminkan rasa keibuan yang mendukung anaknya untuk menjadi pejuang kemerdekaan. Watak ayah Djamin, Lantak Ginting yang keras juga berhasil ditampilkan oleh Teddy Syach. Kolaborasi kuat dari jajaran aktor tersebut mampu membangkitkan emosi sekaligus memperlihatkan sisi manusiawi para pejuang. Selama ini mereka lebih banyak dikenang melalui catatan sejarah.

Djamin Ginting resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2014 atas jasa dan pengabdian besarnya. Namanya juga diabadikan di salah satu arteri jalan terpanjang dari pusat Kota Medan sampai jantung dataran tinggi Tanah Karo. Kehadiran film ini diharapkan dapat mengisi ruang kesadaran publik mengenai kedalaman narasi kepahlawan yang melatari nama besar tersebut. Film Djamin Setia Selamanya mengajak menyaksikan perjalanan yang menghidupkan kembali sejarah dan mengingatkan bahwa keberanian seseorang bisa mengubah perjalanan bangsa.






