
“Sebagai manusia dan pembuat film, tentunya saya ingin bertumbuh. Memburu Pemangsa adalah karya saya dalam bentuk yang baru, lewat sajian horror-crime-action yang akan memberikan pengalaman menonton penuh ketegangan dan warna yang berbeda dari karya-karya saya sebelumnya, dan ini menjadi seperti spiritual journey bagi saya,” ucap Umay Shahab produser dan sutradara film “Memburu Pemangsa”.
Baca juga: Final Poster Film “Harusnya Horror” Resmi Dirilis, Ini Perbedaannya
![]() |
| Umay Shahab produser dan sutradara film “Memburu Pemangsa” |
Tak hanya mengangkat pentingnya p mengenai pentingnya melindungi anak dari perilaku pedofilia, film ini juga mengangkat isu mengenai etika jurnalistik. Fenomena viralnya berita salah akibat semua orang ingin memberitakan hal yang sedang jadi sorotan turut disenggol dalam film ini. Film ini mengkritik betapa jurnalis yang hanya mengejar kecepatan berita kerap lengah melakukan verifikasi kebenaran berita tersebut sebelum dipublikasikan.
“Film ini membawa isu yang penting, tentang kejahatan pada anak yang angkanya hingga saat ini juga masih sangat tinggi. Semoga film Memburu Pemangsa juga bisa memberi dampak pada isu yang sangat penting untuk terus kita bicarakan,” lanjut Umay.
Kisah dalam film ini memang mengikuti perjalanan empat jurnalis perempuan yang beralih haluan membahas kriminalitas karena lebih menarik bagi masyarakat. Kasus yang menjadi sorotan adalah mengenai penculikan anak yang jenazahnya kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi. Isu tentang kekerasan anak cukup relevan saat ini, karena orang tua kerap lengah untuk memperlakukan anak dengan semestinya.
Sinopsis
Satu per satu anak menghilang dari suatu kawasan, jenazah mereka akhirnya ditemukan dalam kondisi termutilasi. Empat jurnalis, yaitu Agnes (Laura Basuki), Cia (Prilly Latuconsina), Brina (Taskya Namya) dan Anya (Yasamin Jasem) berusaha menyelidiki kasus tersebut. Agnes, pemimpin redaksi Daily Wave News, memiliki kemampuan supranatural, tetapi berusaha menolak kemampuan tersebut sejak kematian putrinya sendiri. Penyelidikan keempat jurnalis tersebut didampingi oleh seorang polisi, Petra (Andi Mashadi) yang juga merupakan kakak Brina.Waktu penyelidikan pun kian menipis ketika ada potensi penculikan terhadap anak lain.
Pelaku kejahatan tersebut adalah manusia keji yang membuat perjanjian dengan iblis. Film ini menjadikan iblis sebagai alasan perbuatan jahat dari kelainan yang diidap seorang manusia. Kejahatan tersebut berusaha dibongkar dan dihentikan oleh empat jurnalis perempuan yang berani mempertaruhkan nyawanya.
Baca juga: Kupeluk Kamu Selamanya, Kisah Ibu Tunggal Tanpa BPJS dan Tunjangan
Isu Kekerasan terhadap Anak
Film ini menunjukkan eksplorasi visual Sinemaku Pictures yang berusaha membangkitkan ketegangan dan ketakutan. Kemasan laga-horor dan isu penting yang diangkat film ini menjadi alasan Laura Basuki ingin turut berperan dalam film ini. Unsur horor-kriminal-laga dan investigasi membuat film “Memburu Pemangsa” menghadirkan pengalaman sinematik dari genre horor yang tidak biasa. Film ini juga menjadi debut Laura Basuki berkolaborasi dengan Sinemaku Pictures dan ketiga pemeran jurnalis perempuan lainnya.
“Semua cinematic experience akan kalian rasakan di film ini, saat horror-crime-action menyatu, dan ini pengalaman yang baru bagiku. Semoga film ini juga bisa memberikan ruang diskusi untuk orang-orang, agar makin menyadarkan mereka harus meminta bantuan ke mana ketika hal-hal serupa terjadi pada mereka,” ucap Laura Basuki.
![]() |
| Laura Basuki, pemeran Agnes dalam film "Memburu Pemangsa" |
Hal senada disampaikan Prilly Latuconsina yang berharap film tersebut dapat membuat orang lebih peka dan peduli terhadap isu kekerasan anak. Prilly juga mengungkapkan bahwa dirinya menghadapi tantangan untuk menjaga kontinuiti emosi di tengah gerakan fisik yang berat.
“Saya melihat isu kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Indonesia bukan karena pemberitaan minim, informasi sudah banyak tapi kita juga perlu melihat ada budaya diam. Di beberapa lingkungan, seperti di rumah, atau ketika kita membaca informasi tersebut kita bingung harus melakukan apa sehingga itu dibiarkan saja. Jadi viral sehari, dua hari, tidak ada penanganan yang tepat. Padahal harus ada aksi, ketika ada berita-berita tersebut. Isu ini perlu bantuan kita semua untuk bersuara dan memberikan respons yang tepat,” ucap Prilly Latuconsina.
![]() |
| Prilly Latuconsina, pemeran Cia dalam film "Memburu Pemangsa" |
Pengalaman dalam berperan sebagai jurnalis perempuan disampaikan oleh Taskya yang biasa bermain di film horor dan laga. Menurutnya, dalam memerankan karakter Brina di film ‘Memburu Mangsa’ membutuhkan stamina lebih, karena dua genre tersebut banyak menguras kekuatan fisik. Apalagi karakter Brina merupakan sosok yang menguasai bela diri.
Baca juga: Film “Ikatan Darah” Penuh Koreografi Bela Diri dan Slasher Brutal
“Butuh tenaga berlebih, karena capeknya dua kali lipat. Penonton sepertinya juga akan ikut merasakan ngos-ngosannya mengikuti kami berempat menginvestigasi predator di film ini. Namun, aku justru bisa melihat gambaran aku ada di karakter Cia di film ini. Seorang tante yang menjaga keponakannya, karena di kehidupan nyata, aku juga seorang tante yang harus menjaga tiga keponakanku” ucap Taskya Namya.
Taskya Namya, pemeran Bruna dalam film "Memburu Pemangsa"Sebaliknya, Yasamin Jasem merasa memiliki kedekatan dengan karakter Anya yang diperankannya. Anya adalah seorang jurnalis yang melakukan riset dan memiliki minat mendalam pada demonologi.
“Aku dan Anya memiliki kedekatan. Anya adalah jurnalis yang melakukan riset dan memiliki minat pada demonologi. Sementara aku juga banyak menonton documentary crime dan berbau cult. Kami para pemeran juga bertemu dengan Komnas Perlindungan Anak, yang menurutku menjadi pemantik untuk menyuarakan isu yang kami angkat, dan semoga semua orang bisa menjadi lebih baik setelah menonton film ini,” ucap Yasamin Jasem.
Para pemeran yang juga terlibat dalam film ini adalah Teuku Rifnu Wikana, Septian Dwi Cahyo, Shareefa Danish dan Jordan Omar. Film “Memburu Pemangsa” memperlihatkan ancaman nyata terhadap anak dalam kisah perburuan yang dilakukan empat jurnalis perempuan. Unsur horor, kriminal dan laga dipadukan film sehingga menyajikan pengalaman horor yang intens sambil melihat isu yang diangkat lebih dekat.
Sebelum tayang untuk umum, film Memburu Pemangsa juga telah menggelar acara Nonton Duluan di tujuh wilayah di Indonesia. Beberapa wilayah tersebut adalah Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Yogyakarta, Medan dan Makasar. Tiket penayangan hari pertama film ini sudah dapat dibeli melalui online dan tersedia promo Beli 1 Gratis 1.









