Film "Dear You", Kisah Mengharukan Perantauan Tionghoa dengan Sinematografi Mengesankan Film "Dear You", Kisah Mengharukan Perantauan Tionghoa dengan Sinematografi Mengesankan ~ Teknogav.com

Film "Dear You", Kisah Mengharukan Perantauan Tionghoa dengan Sinematografi Mengesankan


Teknogav.com - Dear You merupakan film drama keluarga Tiongkok yang ditulis dan disutradarai Lan Hongchun. Film ini memadukan kisah percintaan, ikatan keluarga, nasionalisme, diskriminasi, perjuangan dan solidaritas sesama perantauan. Kerennya, semua itu dikemas dengan sinematografi yang mengesankan sehingga menambah rasa haru saat menontonnya.

Film ini menceritakan kilas balik kehidupan Den Bhagseng (Wang Yan Tong), pemuda perantauan yang keberadaannya tidak diketahui oleh keluarganya. Keluarga Den Bhagseng menganggap Den Bhagseng sebagai orang kaya yang banyak berdana untuk pendidikan, tetapi justru meninggalkan keluarganya sendiri. Suatu ketika, cucunya, Xiaowei (Zheng Run Qi) mencari kakeknya tersebut untuk mengetahui keberadaannya, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Namun, Xiaowei mendapati kenyataan tak terduga, sosok yang selama ini berkorespondensi dengan neneknya ternyata bukanlah sang kakek.

Baca juga: Unexpected Family: Mendadak Keluarga Saat Ikatan Hati Kalahkan Ikatan Darah

Surat-menyurat memang menjadi benang merah naratif untuk mengungkap kisah kehidupan Den Bhagseng. Alur film ini kuat dengan banyak adegan bolak balik dari masa kini ke masa puluhan tahun lalu tanpa kehilangan arah. Penggambaran kilas balik di negara-negara yang berbeda memperlihatkan nuansa masa lalu yang terlihat klasik. Saat mengikuti cerita, penonton tidak hanya disuguhi hal yang mengharukan dan menyedihkan, tetapi juga banyak kekocakan-kekocakan yang membangkitkan tawa. Komposisi film ini dalam memainkan emosi penonton begitu pas. 
 

Kisah dalam film ini dicertakan dengan tenang, tidak ada adegan dramatis yang bombastis atau pidato yang penuh emosi. Rasa haru justru dibangkitkan dari momen-momen sederhana seperti surat-menyurat, makan bersama, sampai keheningan di antara orang-orang yang saling menyayangi. Film ini juga bisa menggambarkan perasaan umum para perantau, kerinduan pada kampung halaman dan upaya untuk tetap terhubung dengan keluarga. Alur lambat dalam film ini memberi ruang untuk meresapi emosi yang ada.

Baca juga: Film “Panggil Aku Ayah” Gambarkan Ketulusan Tidak Perlu Ikatan Darah  

Sinematografi film ini terasa autentik dengan audio intim dan soundtrack yang bernuansa melankolis. Film ini memperkuat pesan mengenai keluarga, pengorbanan dan ingatan. Saat mengikuti alur cerita, penonton juga diajak sama bertanya-tanyanya dengan sang cucu, Xiaowei yang penasaran terhadap keberadaan Den Bhagseng. 

Xiaowei jauh-jauh berangkat dari Tiongkok ke Thailand untuk mencari jejak Den Bhagseng dan mendapati kabar kakeknya sudah lama meninggal. Namun, tahun meninggalnya sang kakek tidak sinkron dengan surat-menyurat yang diterima neneknya selama ini. Kenapa surat tetap diterima sekian tahun setelah kakeknya meninggal, dan siapa pengirimnya menjadi pertanyaan bagi Xiaowei dan neneknya. Penelusurannya mendapati bahwa sang kakek telah meninggal di tahun 1960, tetapi surat tetap diterima sampai tahun 1978. Misteri tersebut membawanya pada pencarian identitas keluarga dan pengorbanan tersembunyi. 

Alur cerita berjalan perlahan, meditatif, memberi ruang bagi penonton untuk merenung mengenai keluarga, migrasi dan jarak. Kilas balik kisah Den Bhagseng dimulai dari saat dia bertemu dengan istrinya, Sogriu di Tiongkok. Sogriu merupakan perempuan cantik anak orang kaya yang rela untuk hidup bersama Den Bhagseng yang miskin. Kondisi pun memaksa Den Bhagseng untuk merantau ke berbagai negara hingga menetap di Thailand. Selama merantau, Den Bhagseng tetap rutin mengirimi uang untuk menghidupi keluarganya di Tiongkok yang dirikim melalui surat-menyurat pengiriman uang qiaopi.

Komunikasi pada film ini banyak menggunakan dialek Chaoshan (Teochew) yang memberi kesan autentik. Nuansa nostalgia dan rasa kehilangan dalam film ini diperkuat juga oleh musik latar yang membuat haru. Salah satu lagu yang menjadi latar film ini juga ada yang berbahasa Indonesia. Lanskap Chaoshan dan Thailand ditampilkan dengan pencahayaan alami sehingga terlihat autentik dan sederhana. Hubungan personal antar-karakter ditekankan melalui adegan-adegan yang menggunakan long take dan framing intim. Kesan dokumenter yang dramatis makin memperkuat tema sejarah diaspora yang diusung film ini.

Baca juga: Film Hanya Namamu dalam Doaku Tekankan Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga 

Film ini menggambarkan berbagai tantangan yang dihadapi para perantau dan cara para perantau asal Tiongkok yang memiliki rasa solidaritas tinggi. Mereka saling bekerja sama untuk memperbaiki kehidupan, termasuk dalam hal pendidikan. Peran Den Bhagseng dalam mendukung pendidikan bagi banyak anak-anak komunitas perantauannya juga lah yang memicu kesalahpahaman dari keluarganya. Karakter Den Bhagseng begitu kuat dalam membantu banyak orang, hal inilah yang membuatnya banyak dikenal oleh orang-orang di negara perantauannya. Jasa-jasanya membuat orang tak sampai hati memberitakan ke keluarganya bahwa dia sudah tiada, dan tetap mengirimi uang untuk keluarganya. Film ini mengajak penonton merenungkan betapa merantau membentuk identitas dan memori kolektif.

Dear You mengocok emosi dengan kisah yang begitu indah dan tak terduga, tetapi juga banyak candaan sehingga tidak menjemukan. Nuansa masa kini dan kilas balik ke masa lalu terasa bagitu nyata, sehingga tidak membuat kehilangan arah saat mengikuti cerita. Surat, foto dan ingatan digunakan film ini untuk menghubungkan masa kini dengan masa lalu yang memiliki lapisan narasi. Film ini dengan sukses dapat menyampaikan rasa kehilangan, cinta dan hubungan antargenerasi dengan mudah dipahami lintas budaya. Film Dear You dapat disaksikan di bioskop Indonesia mulai 7 Agustus 2026.

Share:

Artikel Terkini