Review The Doll Ghawiah (2026): Prekuel Bernuansa Teror Retro 1980an Review The Doll Ghawiah (2026): Prekuel Bernuansa Teror Retro 1980an ~ Teknogav.com

Review The Doll Ghawiah (2026): Prekuel Bernuansa Teror Retro 1980an

Teknogav.com - The Doll Ghawiah (2026) adalah film horor arahan sutradara Guntur Soeharjanto yang merupakan prekuel dari tiga film The Doll sebelumnya. Bagi penonton yang mengikuti perjalanan semesta The Doll, kehadiran The Doll Ghawiah menjadi kepingan cerita yang menarik untuk disimak. Tiga film The Doll sebelumnya masing-masing dirilis tahun 2016, 2017 dan 2022. Pada The Doll Ghawiah (2026) ini, Hitmaker Studios memilih menelusuri akar teror yang menjadi fondasi dari keseluruhan waralaba tersebut.

Film The Doll Ghawiah akan membongkar asal-usul si boneka terkutuk dalam teror retro ala era 1980-an. Tak sekadar menghidupkan kembali teror boneka berhantu, film ini membuka pintu menuju masa lalu yang menjadi misteri semesta The Doll. Kisah dalam film ini membawa  kembali ke masa ketika misteri boneka terkutuk itu bermula, berlatarkan Bandung tahun 1988. Pilihan ini memberikan ruang bagi film untuk tidak semata mengandalkan nostalgia terhadap karakter dan teror yang sudah dikenal. Namun, film ini juga menawarkan perspektif baru mengenai asal-usul sang boneka berhantu.

Baca juga: "Munafik: Melawan Iblis", Remake Horor Legendaris Malaysia yang Tampil Melokal

Di bawah arahan Guntur Soeharjanto, film ini mengangkat urban legend tentang Misteri Boneka Uci di Jalan Siliwangi, Bandung. Kisah ini merupakan legenda lokal yang diramu menjadi kisah horor keluarga dengan atmosfer lawas yang cukup dominan.

sumber: Hitmaker Studios

Sinopsis

Bermula pada tahun 1988, Evi (Titi Kamal) dan Arya (Darius Sinathrya) memutuskan meninggalkan Jakarta dan memulai kehidupan baru di Bandung. Pasangan muda tersebut pindah bersama kedua putri mereka, Nala (Laura Moane) dan Gita (Aisyah Aqilah). Setelah mengalami kebangkrutan, keduanya mencoba membangun kembali kehidupan keluarga dengan membuka restoran.

Namun, harapan untuk memperoleh awal yang lebih baik justru berhadapan dengan kejadian yang mengubah kehidupan mereka. Nala menemukan boneka kayu kuno bernama Ghawiah di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi. Benda yang semula tampak seperti temuan biasa itu perlahan memperlihatkan sisi mengerikannya.

sumber: Hitmaker Studios

Kehadiran Ghawiah membawa serangkaian gangguan supranatural ke dalam rumah. Teror tidak hanya menghantui Nala, tetapi juga merembet kepada Gita dan kedua orang tuanya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung pun berubah menjadi ruang penuh ancaman.

Ketika gangguan semakin sulit dijelaskan secara rasional, Evi dan Arya meminta bantuan Laras (Sara Wijayanto), yang bekerja di restoran mereka. Kemampuan supranatural Laras menjadi jalan untuk mengungkap sejarah boneka tersebut dan alasan di balik teror yang terus menghantui keluarga itu.

sumber: Hitmaker Studios

Dari titik inilah film mulai membuka lapisan misterinya, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah Ghawiah benar-benar berhantu. Namun, timbul pertanyaan tambahan mengenai apa yang membuat boneka tersebut menyimpan sejarah kelam dan mengapa keluarga Evi menjadi sasaran terornya.

Bukan Sekadar Boneka Berhantu, Ada Masa Lalu yang Perlu Diungkap

Secara garis besar, The Doll Ghawiah bergerak di wilayah horor yang sudah akrab bagi penonton Indonesia. Boneka terkutuk, keluarga yang diteror, gangguan supranatural, hingga usaha mengungkap sejarah kelam suatu benda cukup sering digunakan genre ini. Akibatnya, kekuatan film ini tidak sepenuhnya bertumpu pada kebaruan premis. Penonton yang terbiasa menyaksikan film horor dengan formula serupa mungkin dapat membaca arah ceritanya sejak awal. Hal yang dapat diduga termasuk beberapa kemungkinan yang mengarah pada penyelesaian konflik.

sumber: Hitmaker Studios

Meski demikian, film ini masih memiliki daya tarik melalui upayanya menghubungkan teror dengan sejarah yang lebih besar. Statusnya sebagai prekuel membuat setiap petunjuk terasa memiliki fungsi tersendiri. Khususnya bagi penonton yang ingin mengetahui bagaimana sosok boneka tersebut memperoleh reputasi mengerikannya.

Baca juga: Film “Labinak: Mereka Ada di Sini” Bangkitkan Kesakralan dengan Audio

Ada pula kejutan dalam pengembangan cerita yang membantu menjaga rasa penasaran. Tanpa perlu membocorkan detailnya, film ini tidak sepenuhnya berjalan lurus menuju kesimpulan yang mudah ditebak. Sejumlah pengungkapan memberikan variasi di tengah pola cerita horor yang relatif familiar.

Sementara itu, intensitas teror menjadi salah satu aspek yang membuat film tetap menarik untuk diikuti. Gangguan yang dialami para karakter tidak hanya hadir sebagai kejutan sesaat. Namun, gangguan tersebut juga menjadi bagian dari tekanan yang perlahan membesar seiring terbukanya misteri Ghawiah.

Film ini pun tidak selalu bermain aman dengan menghadirkan horor yang sekadar mengandalkan suasana mencekam. Ada beberapa momen yang terasa lebih kasar dan berdarah-darah. Momen tersebut memberikan warna tersendiri bagi penonton yang mengharapkan pengalaman horor dengan tingkat ancaman lebih nyata.

Atmosfer Retro 80-an Menjadi Daya Tarik Utama

Salah satu aspek yang paling menonjol dari The Doll Ghawiah adalah pemanfaatan latar tahun 1988. Nuansa retro tidak hanya berfungsi sebagai penanda periode cerita, tetapi juga membantu membangun karakter visual film secara keseluruhan.

Hitmaker Studios kembali bermain di wilayah yang menjadi salah satu kekuatan produksi film-film horornya, yakni penggarapan elemen teknisnya. Unsur-unsur kostum, artistik, skoring, dan elemen visual diarahkan untuk menghadirkan suasana masa lampau yang terasa berbeda dari latar horor kontemporer. Pilihan tersebut memberi keuntungan tersendiri. Teror yang berlangsung pada era 80-an tersebut menghadirkan jarak dari keseharian penonton masa kini. Era ini juga membangun kesan bahwa misteri Ghawiah telah berakar jauh sebelum kisah-kisah dalam film sebelumnya berlangsung.

Nuansa retro juga membuat film ini mempunyai identitas visual yang lebih jelas. Kini sebagian besar film horor menggunakan rumah modern, teknologi masa kini, atau lingkungan urban kontemporer. Latar tahun 1980an memberikan ruang bagi The Doll Ghawiah untuk membangun atmosfernya sendiri.

Aspek musik dan penataan suara turut menjadi elemen penting dalam pengalaman menonton film horor. Ketika visual dan atmosfer bekerja beriringan, ketegangan tidak harus selalu dibangun melalui kemunculan sosok menyeramkan. Ruang yang terasa asing, situasi yang janggal, dan antisipasi terhadap sesuatu yang belum terlihat dapat menjadi sumber kecemasan tersendiri.

Formula horor film The Doll Ghawiah memang tidak sepenuhnya baru. Namun, perhatian terhadap detail produksi membuat film ini memiliki modal cukup kuat untuk membangun pengalaman sinematik yang konsisten.

Laras dan Evi Memberikan Lapisan Cerita yang Berbeda

Di antara karakter yang hadir, Laras menjadi salah satu bagian yang menarik untuk diperhatikan. Bagi penonton yang mengenalnya dari film-film The Doll sebelumnya, karakter ini menawarkan perspektif berbeda ketika kisahnya ditarik ke masa lalu. Dalam film ini, Laras belum sepenuhnya tampil sebagai sosok yang matang dalam memanfaatkan kemampuan supranaturalnya. Keraguan tersebut memberikan dimensi tambahan pada karakternya, terutama ketika ia harus berhadapan dengan misteri yang menuntut lebih dari sekadar keberanian.

Pendekatan ini menjadi salah satu nilai tambah prekuel. Karakter yang telah dikenal penonton tidak harus selalu ditampilkan sebagai sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, masa lalu dapat memperlihatkan sisi yang lebih rentan, termasuk proses yang membentuk keberanian dan keyakinannya.

Di sisi lain, Evi yang diperankan Titi Kamal juga menjadi figur penting dalam perkembangan cerita. Perubahan situasi keluarga memaksanya menghadapi ancaman yang tidak mudah dijelaskan. Sementara  harapannya untuk membangun kembali kehidupan setelah kebangkrutan justru berbenturan dengan teror yang datang tanpa diundang.

Baca juga: Perumahan Laddaland, Mimpi Borjuasi yang Membusuk di Balik Perumahan Mewah

Penampilan Titi Kamal menjadi salah satu elemen yang patut mendapat perhatian. Ia membawa karakter Evi sebagai sosok yang harus menghadapi tekanan sekaligus mempertahankan keluarganya di tengah keadaan yang semakin tidak terkendali. Kehadiran karakter ini ikut memberikan bobot emosional pada cerita yang menyimpan banyak sekali kejutan menjelang konklusinya. 

Kesimpulan

The Doll Ghawiah mungkin tidak menawarkan formula horor yang sepenuhnya berbeda. Premisnya masih berangkat dari elemen-elemen yang sudah akrab, sedangkan arah ceritanya sesekali terasa mudah dibaca. Namun, film ini mempunyai daya tarik melalui pengungkapan asal-usul boneka terkutuk, atmosfer retro era 80-an, serta teror yang intensitasnya kuat.

Bagi penggemar semesta The Doll, film ini menawarkan kesempatan untuk melihat kembali kisah yang sudah dikenal dari sudut pandang berbeda. Misteri yang sebelumnya menjadi bagian dari cerita kini memperoleh ruang untuk ditelusuri lebih jauh. Sementara, karakter Laras diperlihatkan pada tahap ketika ia masih bergulat dengan kemampuannya sendiri.

Tak sekadar menambah satu judul dalam waralaba, The Doll Ghawiah mencoba memperluas latar belakang dunia yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Pendekatan prekuel ini menjadi alasan utama mengapa filmnya menarik untuk disimak, terutama bagi penonton yang ingin mengetahui bagaimana sebuah boneka kayu dapat menjadi pusat teror yang begitu panjang.

‎The Doll Ghawiah merupakan pilihan bagi penonton yang menyukai horor keluarga dengan sentuhan misteri, atmosfer klasik, dan sejumlah kejutan. Jangan lewatkan pula penampilan Titi Kamal yang menjadi salah satu kekuatan film ini dalam menjaga keterlibatan emosional penonton.

‎Di balik sosok boneka yang menyeramkan, selalu ada masa lalu yang menunggu untuk dibongkar. Dalam The Doll Ghawiah, masa lalu itulah yang menjadi pintu masuk menuju teror yang selama ini dikenal penonton.

‎Sutradara: Guntur Soeharjanto

‎Pemeran: Titi Kamal, Darius Sinathrya, Laura Moane, Aisyah Aqilah, Sara Wijayanto

‎Durasi: 110 menit

‎Skor: 7.5/10

Share:

Artikel Terkini