
Teknogav.com – Unlimited Productin dan Skop Productions mempersembahkan film horor remake terkini berjudul “Munafik: Melawan Iblis” yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Kisah dalam film ini bercerita mengenai perjalanan dalam menghadapi trauma dan kehilangan sampai bisa ikhlas, menerima dan berserah. Film ini akan ditayangkan di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026, dan di Malaysia mula 1 Oktober 2026.
“Film Munafik: Melawan Iblis adalah eksplorasi terbaru dari Unlimited Production yang membawa tema cerita horor kesurupan dan rukiah. Namun, sebenarnya film ini memiliki lapisan yang mendalam secara drama. Kami menggali perasaan tentang luka dan trauma, di tengah kedukaan dan proses kehilangan seseorang, yang kami rasa menjadi perasaan yang universal. Terkadang kita bilang munafik ke orang lain, tetapi ternyata diri sendiri masih munafik karena belum bisa ikhlas,” ucap Oswin Bonifanz, produser film Munafik: Melawan Iblis.
Baca juga:
Perumahan Laddaland, Mimpi Borjuasi yang Membusuk di Balik Perumahan Mewah
Tokoh utama dalam film ini adalah Ustaz Adam (Arya Saloka) yang memiliki keahlian untuk melakukan rukiah pada orang yang kesurupan. Suatu ketika, dalam perjalanan pulang saat membantu mengusir iblis dari tubuh seorang anak perempuan, Ustaz Adam mengalami kecelakaan. Ketika menghindari sosok yang tiba-tiba menghadangnya, mobilnya pun terbalik dan ditabrak mobil lain yang mengakibatkan istrinya, Aini (Widi Dwinanda) meninggal.
Akibat dilanda trauma, Ustaz Adam pun berhenti melakukan rukiah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Namun, ketika Fitri (Acha Septriasa) yang pernah merawatnya mengalami kesurupan, Ustaz Adam dimintai tolong oleh Anwar (Dimas Aditya) untuk merukiahnya. Fitri juga merupakan anak perempuan Haji Mansur (Donny Damara), tokoh desa yang dihormati. Ustaz Adam sempat menolak saat dimintai tolong merukiah Fitri, tetapi akhirnya turun tangan juga karena Anwar belum cukup kuat merukiah. Seiring berjalannya waktu, Ustaz Adam menemukan rahasia gelap yang menyebabkan teror gaib di hidup Fitri.
Kisah film ini mengikuti perjuangan batin Ustaz Adam dalam memaknai
proses duka dan kehilangannya sampai sembuh dari trauma yang menerornya.
Film “Munafik: Melawan Iblis” tidak hanya mengenai perjuangan melawan
teror dari entitas iblis yang menyerang psikologis manusia. Namun, film
ini juga mengenai melawan luka dalam diri sendiri.
Penampilan Arya Saloka saat memerankan Ustaz cukup mencuri perhatian, karena terlihat begitu fasih melafalkan ayat suci Al Quran. Arya pun mengakup bahwa film Munafik: Melawan Iblis memberikan ruang bagi dirinya untuk berproses lebih baik sebagai manusia.
![]() |
| Arya Saloka, pemeran Ustaz Adam |
“Saya sangat bersyukur bisa memerankan Ustaz Adam dan bermain di film Munafik: Melawan Iblis, karena dari film ini saya bisa belajar lebih baik lagi, termasuk membenarkan bacaan-bacaan Al Quran saya. Menurut saya hal ini berkah, ketika ada proyek film yang juga bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Apa yang kita omongkan belum tentu sesuai perilaku. Film ini tidak hanya sebatas horor atau jumpscare, tetapi paket lengkap seorang Ustaz Adam yang bisa menerima dan ikhlas,” ucap Arya Saloka.
Arya juga mengungkapkan bahwa ada trauma yang tidak bisa disembuhkan dengan melawan, terkadang hanya perlu belajar menerima dan berserah. Hal senada juga disampaikan Dimas Aditya yang memerankan Anwar.
![]() |
| Dimas Aditya, pemeran Anwar |
"Film ini seperti journey untuk masing-masing aktor. Kita semua pernah merasa kehilangan dan bagaimana kita bisa menjadi releksi cerita dan bisa menjadi pesan positif bagi semua. Arya Saloka lebih serius dalam mendalami karakter," ucap Dimas Aditya.
Sementara itu, Acha Septriasa merasa menghadapi tantangan secara fisik dan mental saaat memerankan Fitri yang mengalami banyak kesurupan.
Baca juga: “Ayah, Aku Mau Cerita”, Film Drama Thriller dengan Plot Twist Mengesankan
“Senang sekali dalam perjalanan dua dekade aku di perfilman mendapatkan karakter yang sangat menantang seperti Fitri di film Munafik: Melawan Iblis. Pada dasarnya, Fitri sedang mengalami proses kedukaan karena kehilangan dan belum ikhlas. Apa yang dialami Fitri sangat manusiawi, dan itu yang membuatnya dekat dengan kita. Kalau secara fisik, tentu saja saat adegan saya harus merayap di dinding, itu sangat-sangat memorable,” ucap Acha Septriasa.
![]() |
| Donny Damara, pemeran Mansyur |
Tantangan juga dihadapi Donny Damara, salah satunya berhubungan dengan teknis seperti memanjangkan emosi saat memerankan Mansyur. Nova Eliza yang memerankan Zulfa, istri kedua Mansyur mengungkapkan bahwa karakternya berjarak dengan Mansyur. Menurutnya, penonton kemungkinkan merasa mengenal Zulfa saat menonfon film ini, tetapi sebenarnya belum sepenuhnya mengenal Zulfa.
![]() |
| Nova Eliza, pemeran Zulfa |
Teror dalam film ini juga disesuaikan dengan kearifan lokal Indonesia, termasuk kehadiran kelabang-kelabang yang menandakan serangan jin tertentu. Penempatan jumpscare dalam film ini juga cukup memadai. Jajaran pemeran lain dalam film ini mencakup Faqih Alaydrus, Annisa Hertani, Elvira Deniamira, Nova Eliza dan Oce Permatasari.
![]() |
| Widi Dwinanda, pemeran Aini; dan Guntur Soeharjanto, sutradara film Munafik: Melawan Iblis |
“Karakternya mempertemukan dengan para cast yang ada di sini dan Alhamdulillah bagus. Satu kunci ketika membuat film adalah percaya dengan para cast. Begitu pula dengan cast saya, percaya dengan saya itu menjadi kunci utama untuk bisa mengarahkan menjadi sesuatu yang bagus dan sesuai dengan apa yang ada di naskah. Tantangan dalam membuat film ini adalah Munafik di Malaysia sangat boom dan viral di Indonesia. Sembilan tahun kemudian dibuat remake, sehingga harus mencoba membuat lebih bagus, lebih keran dan lebih kekinian,” ucap Guntur Soeharjanto.
Guntur juga mengungkapkan bahwa film Munafik: Melawan Iblis tidak lepas dari roh cerita dan karakter Ustaz Adam versi Malaysia. Banyak plot berbeda dengan versi Malaysia, termasuk pengalaman, sinematografi, perjalanannya. Harapannya penonton merasa terhubung dengan karakter dan peristiwa-peristiwa yang ada di film ini. Dalam menggarap film ini, Guntur tak ingin film ini hanya sekadar film horor, tetapi harus ada sesuatu yang menyentuh personal masing-masing.
Baca juga: Sinematografi ‘Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia’ Gunakan Kamera SONY Burano
Unlimited Production juga menggelar roadshow pemutaran film di beberapa kota di Indonesia. Antusiasme terhadap film ini terlihat dari habisnya tiket pada penayangan lebih awal tersebut.











