Sukses Tuntaskan Implementasi QRIS, DANA Dukung Pekan QRIS Nasional


Teknogav.com, Jakarta - Pemerintah menghadirkan QRIS sebagai landasan yang kuat dan strategis bagi seluruh ekosistem ekonomi digital Indonesia dalam membangun sinergi. Salah satu Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang turut mendukung penggunaan QRIS ini adalah DANA. Penerapan QRIS oleh dompet digital DANA ini bahkan telah 100% diselesaikan. Prestasi ini merupakan wujud keseriusan DANA dalam mempercepat inklusi dan kompetensi ekonomi digital Indonesia.

Tuntasnya implementasi DANA QRIS memungkinkan masyarakat mebayar transaksi dengan DANA di merchant-merchant dengan kode QR bertanda QRIS dari berbagai PJSP. Pembayaran juga bisa dilakukan di aplikasi-aplikasi pembayaran digital yang sudah menerapkan QRIS.

“Penerapan QRIS merupakan kebijakan dan langkah strategis Bank Indonesia yang mesti didukung semua bagian ekosistem perekonomian nasional. Pemberdayaan ekonomi berbasis ekonomi digital dapat menyentuh lapisan dan segmen masyarakat yang makin luas dengan penerapan dan pemasyarakatan QRIS tersebut. QRIS berperan signifikan dalam mempercepat kelancaran bertransaksi nontunai digital,” ucap Vincent Iswara, CEO dan salah satu founder DANA.

Lebih dari 100 ribu mitra bisnis DANA merasakan peran peran signifikan QRIS dalam mempercepat kelancaran transaksi nontunai digital. Mitra bisnis DANA tersebut berasal dari berbagai skala usaha, mulai dari UMKM sampai perusahaan besar. Penerapan QRIS memudahkan untuk mengedukasi masyarakat mengenal konsep dompet digital secara utuh dengan memakai dompet digital DANA pada transaksi digital.

Penggunaan DANA pun lebih praktis, karena ada banyak sumber dana yang bisa dipilih, baik itu saldo atau binding kartu. Ketika menggunakan metode binding kartu, tak perlu repot top-up lagi dan bisa tetap yakin aman karena ada DANA Protection.

“Kami yakin kepercayaan masyarakat pada pembayaran berbagai transaksi digital dengan QRIS akan meningkat pesat berkat edukasi ke masyarakat luas. DANA akan terus mendukung Bank Indonesia dalam melakukan edukasi betapa efektifnya transaksi nontunai digital dalam mendukung kegiatan ekonomi. Kini semua jadi lebih mudah, produktif, nyaman dan aman,” lanjut Vincent.

Sejak awal QRIS pertama kali diterapkan, tercatat 28% transaksi di merchant-merchant DANA dengan pembayaran memakai PJSP lain. Angka interoperable ratio DANA sendiri adalah 10% untuk ‘Off-us’. Data-data tersebut menunjukan betapa efektifnya penerapan QRIS DANA.

Ketika bertransaksi menggunakan QRIS tak ada perbedaan cara dalam pemakaian aplikasi, cukup memindai kode QRIS di merchant saja. Kemudian pilih sumber dana seperti biasa menggunakan aplikasi DANA. Jika akan melakukan pembayaran dengan PJSP lain, cukup buka aplikasi tersebut, dan memindai kode QRIS yang tersedia di merchant DANA.

Seiring dengan dituntaskannya implementasi QRIS, DANA juga berpartisipasi pada pekan QRIS yang digelar oleh Bank Indonesia. Kampanye ini dilakukan secara besar-besaran di perkantoran yang juga melibatkan bank dan asosiasi pembayaran selama 9 -15 Maret 2020.
Share:

Mafindo Ajak Kolaborasi Semua Pihak Melawan Hoax Digital Mengenai COVID-19

Teknogav.com – Wabah virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19 telah menimbulkan kepanikan global. Sayangnya teknologi digital saat ini justru turut andil memperuncing kepanikan tersebut dengan begitu banyaknya hoaks yang beredar di seluruh dunia. Dampak dari hoaks tersebut adalah kebingungan publik, penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan panic buying. Sampai tanggal 3 Maret 2020, Kominfo melaporkan ada 147 hoaks mengenai COVID-19 di Indonesia. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mencatat ada 103 hoaks yang memiliki viralitas tinggi.

Berdasarkan catatan Mafindo, dari 103 hoaks tersebut, hoaks terbanyak berkaitan dengan pasien yang terinfeksi COVID-19, 22,3% yaitu sejumlah 33%. Kemudian diiikuti dengan hoax mengenai penanganan pasien di Tiongkok sebanyak 22,3% dan mengenai asal dan moda penyebaran virus sebanyak 20,4%. Sementara sejumlah 8,7% terkait pencegahan dan pengobatan COVID-19 dan sisanya mengenai penganganan pasien di Indonesia dan luar negeri. Selain itu ada juga hoaks mengenai sentimen agama.
Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Mafindo
“Sejak Januari 2020, hoaks COVID-19 mendominasi persebaran hoaks di Indonesia. Kemungkinan hal tersebut disebabkan misteri seputar virus yang menimbulkan ketakutan masyarakat yang berlebihan dan rendahnya literasi digital masyarakat Indonesia. Orang langsung menyebarkan  informasi tanpa melakukan verifikasi karena berniat ingin melindungi teman atau keluarganya. Padahal informasi yang salah justru membahayakan atau menimbulkan kepanikan yang tak perlu,” ucap Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Mafindo.

Septiaji juga mengkhawatirkan penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan akibat banyaknya hoaks, sehingga bertindak melakukan penyelamatan sendiri. Tindakan tersebut mencakup penimbunan masker dan obat yang dianggap dapat mencegah atau mengobati COVID-19, bahkan memborong sembako karena takut kehabisan. Tindakan yang dipicu hoaks tersebut tentunya dapat berakibat terganggunya perekonomian negara.

Dampak peredaran hoaks COVID-19 cukup serius, termasuk mengaburkan prosedur pencegahan dan pengobatan. Kepercayaan publik pun rusak terhadap otoritas kesehatan negara, media masa dan para ilmuwan. Sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa pun makin meruncing dan makin menumbuhkan gejala xenophobic yang sudah tertanam. Akibat dari isu SARA tersebut dapat memecah belah persatuan bangsa Indonesia yang multikultural. Padahal masyarakat justru membutuhkan panduan dan informasi terpercaya yang bisa diandalkan.
Eko Juniarto, Presidium Mafindo
“Mengacu pada dampak yang multidimensional tersebut, Mafindo mengusulkan dibentuk upaya kolaboratif melawan hoaks COVID-19 untuk melawan wabah itu sendiri. Perlawanan harus disertai upaya menjernihkan informasi yang berkembang di masyarakat. Upaya ini mesti dilakukan bersama pemerintah, pakar kesehatan, media massa, organisasi masyarakat sipil, tokoh publik dan tokoh agama. Jangan memberi kesempatan hoaks membuat bangsa kalang kabut dan mengganggu kesiapsiagaan menghadapi wabah COVID-19,” ucap Eko Juniarto, Presidium Mafindo.

Eko juga menjelaskan tahapan-tahapan dalam melawan hoaks COVID-19 tersebut, yaitu:
  1. Otoritas kesehatan harus menjamin arus informasi terpercaya dengan transparan, tetapi tetap menjaga privasi penderita. Pembentukan COVID-19 Media Center diharapkan dapat mengatasi ketidakpastian informasi dan meningkatkan kepercayaan publik kepada otoritas kesehatan.
  2. Media massa berperan sebagai agen penjernih yang menyajikan informasi terkait COVID-19 dengan berimbang dan tetap menjaga semangat optimisme. Jauhi praktik klik-bait atau berburu trafik dengan mengabaikan akurasi.
  3. Melakukan penyuluhan mengenai pencegahan dan penangan wabah COVID-19 secara masif dengan melibatkan pemangku kepentingan sebanyak mungkin.
  4. Berbagai pihak berkolaborasi untuk memeriksa fakta demi menanggapi kekalutan informasi dengan tanggap dan cepat.
  5. Sanksi hukum bagi aktor intelektual yang membuat dan menyebarkan hoaks COVID-19 sebagai pemicu kepanikan dan perpecahan bangsa.
Share:

Kaspersky Beri Tips Menghindari Stalkerware

Teknogav.com - Stalkerware adalah jenis malware yang sifatnya menguntit. Orang yang menginstal stalkerware pada perangkat seseorang dapat mengakses informasi pada perangkat tersebut, termasuk pesan teks, foto, percakapan media sosial dan data geolokasi. Beberapa kasus bahkan bisa mentransfer rekaman audio dan kamera secara realtime. Tentu saja hal ini mengganggu privasi pengguna yang juga merupakan pelanggaran hak. Padahal seringkali penginstal stalkerware justru dilakukan orang terdekat yang kurang percaya pada pasangannya.

Share:

Artikel Terkini