Manfaat 5G, Mulai dari VR Canggih Sampai IoT Skala Besar Manfaat 5G, Mulai dari VR Canggih Sampai IoT Skala Besar ~ Teknogav.com

Manfaat 5G, Mulai dari VR Canggih Sampai IoT Skala Besar

Teknogav.com – Dalam mewujudkan komitmen dalam mendukung pembangunan ekosistem teknologi jaringan 5G, Huawei menggelar seminar “5G Open Mindset” bagi awak media. Tujuan dari seminar ini untuk membangun kesiapan ekosistem 5G yang mencakup sisi teknis dan non-teknis. Sisi teknis tersebut mencakup manajemen spektrum, ketersediaan perangkat dan model bisnis yang menguntungkan. Sementara  sisi non-teknis mencakup pemahaman dasar terhadap 5G dan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia mendapatkan keuntungan dari teknologi tersebut.

“Huawei berkomitmen untuk membantu mempercepat penerapan teknologi 5G, sehingga Indonesia menjadi fully connected dan fully intelligent. Langkah untuk mewujudkan komitmen tersebut dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan yang mendorong peningkatan kemampuan dan kapasitas terkait tren teknologi. Pelatihan mengenai 5G pun dilakukan bagi seluruh stake holder, di antaranya adalah pemerintah dan media,” ucap Ken Qijian, VP Public Affairs & Communication Huawei Indonesia.

Muhammad Johan Arshad, Malaysia Global Training Centre Huawei menjelaskan penerapan pengelolaan limbah secara pintar dengan aplikasi Smart City
Seminar dibawakan oleh Muhammad Johan Arshad, dari Malaysia Global Training Centre Huawei. Pada seminar tersebut dijelaskan bahwa beberapa layanan dan aplikasi masa depan sudah tak sanggup lagi ditangani teknologi 4G, sehingga dibutuhkan 5G. Layanan dan aplikasi tersebut mencakup VR tingkat lanjutan yang membutuhkan kecepatan 1,4 Gbps, Auto driving car, bedah jarak jauh, dan penerapan Smart City tingkat lanjut.

persyaratan low latency yang dibutuhkan pada Automated Driving Car
Tahapan dari Virtual Reality mencakup Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR) dan Mixed Reality (MR). Pada VR seperti Oculus Rift segala yang dilihat adalah virtual, sedangkan pada AR Hololens ada perpaduan antara dunia nyata dan virtual tetapi masih bisa dibedakan. Teknologi MR memadukan kenyataan dan virtual yang sulit untuk dibedakan batasnya. Hal ini dapat dimungkinkan dengan keberadaan teknologi 5G. Berikut ini adalah standar yang dibutuhkan untuk layanan VR.

persyaratan standar layanan VR
Cloud VR membutuhkan persyaratan jaringan seluler yang lebih tinggi. Jika pada pengalaman awal VR hanya butuh bandwidth 200 Mbps, maka pada pengalaman tingkat tinggi dibutuhkan 9,4 Gbps. Jika sebelumnya tingkat kelambatan atau latency bisa sampai 10 milidetik, maka untuk pengalaman tingkat lanjutan hanya bisa 2 milidetik saja. Nah, persyaratan tersebut hanya bisa dipenuhi oleh jaringan 5G.

Tak hanya sekedar untuk penerapan MR saja, teknologi 5G bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis di Smart City. Hal ini dilakukan dengan menerapkan jaringan Internet of Things (IoT) skala besar. Smart City merupakan daerah yang menggunakan berbagai jenis sensor IoT elektronik untuk mengumpulkan data dan menggunakan seluruh data tersebut untuk mengelola aset dan sumber daya secara efisien.

Data-data tersebut mencakup data yang dikumpulkan dari masyarakat, perangkat dan aset yang diproses dan dianalisa untuk memantau dan mengelola sistem transportasi dan lalu lintas, pembangkit listrik, jaringan pemasok air, pengelolaan limbah, deteksi kejahatan, perpustakaan sekolah, rumah sakit dan layanan masyarakat lainnya.

diskusi mengenai teknologi 5G yang diselenggarakan Huawei
Teknologi 5G memperkaya ekosistem jaringan telekomunikasi dan memungkinkan perluasan cakupan jaringan seluler. Tahapan perluasan mulai dari Enhanced Mobile Broadband (eMBB), Komunikasi Ultra-and –latency rendah (uRLLC), sampai Massive Machine Type Communication (mMTC) yang saling menghubungkan segala perangkat.

Langkah Huawei lain dalam mendukung ekosistem 5G adalah dengan menjalin komunikasi dengan operator dan pemerintah berkenaan dengan penerapan teknologi 5G. Penyelenggaraan uji coba 5G pun dilakukan bagi beberapa operator. Pada Mei 2017, Huawei bersama Telkomsel melakukan uji jaringan 5G pada frekuensi 26 GHz dengan kecepatan sampai 70 Gbps. Saat penyelenggaraan Asian Games 2018 pun dilakukan uji coba 5G.

Operator bisa meraup lebih banyak keuntungan dengan adanya teknologi 5G karena akan meningkatkan rata-rata pendapatan per pelanggan atau Average Revenue Per User (ARPU). Teknologi 5G sangat mengandalkan kecepatan, semakin nyaman dan cepat koneksi, maka penggunaan kuota pun akan meningkat sehingga meningkatkan ARPU. Contohnya berkaitan dengan pengalaman menonton video yang beralih ke 2K dan 4K, yang nantinya juga akan beralih ke 8K. Pengalaman tersebut membutuhkan kecepatan yang tinggi sehingga dibutuhkan paket data lebih besar.

Huawei juga sedang menerapkan uji coba penerapan teknologi 5G pada jaringan 4G. Contoh uji coba tersebut dilakukan dengan teknologi Massive MIMO, yaitu multi-antenna berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sampai akhir September 2019, Huawei telah menyepakati lebih dari 50 kontrak komersial 5G dengan berbagai operator di seluruh dunia. Lebih dari 150 ribu BTS 5G pun telah dikapalkan.

“Kami berharap dapat terus melanjutkan upaya ini, sehingga lebih banyak SDM Indonesia yang mengetahui dan mendapatkan manfaat dari teknologi seperti 5G, AI dan Big Data. Dengan demikian dapat mempercepat usaha mewujudkan Making Indonesia 4.0,” lanjut Ken.

Share:

Artikel Terkini