Adopsi Pembayaran Digital Makin Meningkat, Ini Tips Aman Bertransaksi Adopsi Pembayaran Digital Makin Meningkat, Ini Tips Aman Bertransaksi ~ Teknogav.com

Adopsi Pembayaran Digital Makin Meningkat, Ini Tips Aman Bertransaksi


Teknogav.com – Kaspersky berkolaborasi dengan lembaga penelitian YouGov melakukan survei mengenai interaksi pengguna lokal dengan pembayaran online yang tersedia di Asia Pasifik. Hasil survei dituangkan dalam laporan penelitian berjudul ‘Mapping a secure path for the future of digital payments in APAC’. Survei tersebut diikuti 1.618 responden dari Australia, Filipina, India, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Thailand, Tiongkok dan Vietnam. Para responden survei yang digelar bulan Juli 2021 tersebut berada di rentang usia 18-65 tahun.

Penelitian yang diselenggarakan tersebut memeriksa sikap terhadap kepraktisan pembayaran secara digital. Hal ini menjadi kunci dalam memahami faktor-faktor berikutnya, apakah adopsi teknologi ini akan terus berkembang atau menurun. Data penelitian tersebut mengungkap bahwa adopsi dompet digital dan mobile banking terus mengungguli penggunaan uang tunai di kawasan Asia Pasifik.

Baca juga: Terima Pendanaan Seri-C, Xendit Berencana Ekspansi ke Negara-negara Asia Tenggara

Temuan-temuan Hasil Survei

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa 90% responden di Asia telah menggunakan aplikasi pembayaran seluler setidaknya sekali dalam 12 bulan terakhir. Temuan tersebut mengkonfirmasi lonjakan finance technology (fintech) di Asia. Sekitar 15% di antaranya baru mulai memanfaatkan platform tersebut setelah pandemi. Berikut ini adalah peringkat negara-negara yang mengadopsi uang elektronik berdasarkan persentase pengadopsian:

  1. Filipina 37%
  2. India 23%
  3. Australia 15%
  4. Vietnam 14%
  5. Indonesia 13%
  6. Thailand 13%
  7. Singapura 11%
  8. Korea Selatan 9%
  9. Malaysia 9%
  10. Tiongkok 5%

Kendati demikian tak heran jika Tiongkok menempati peringkat terendah dalam pengadopsian pembayaran digital. Hal ini karena negara tersebut telah terdepan dalam hal pembayaran secara digital di Asia Pasifik, bahkan sebelum pandemi. Platform lokal teratas dalam pembayaran digital di Tiongkok adalah Alipay dan WeChat Pay yang memicu adopsi massal.

Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky

“Data dari penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa uang tunai masih menjadi raja, setidaknya untuk saat ini. Di Asia Pasifik, 70% responden masih menggunakan catatan fisik untuk transaksi sehari-hari mereka. Namun, pembayaran mobile dan aplikasi mobile banking tidak jauh tertinggal yaitu sebesar 58%. Dan sejumlah 52% pengguna menggunakan platform ini setidaknya sekali seminggu hingga lebih dari sekali sehari. Penggunaan platform tersebut dilakukan untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan keuangan mereka. Dari statistik tersebut, kami dapat menyimpulkan bahwa pandemi telah memicu lebih banyak orang untuk terjun ke ekonomi digital. Peralihan ekonomi digital tersebut dapat sepenuhnya menurunkan penggunaan uang tunai di kawasan ini dalam tiga hingga lima tahun ke depan,” ucap Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Baca juga: Pembayaran Digital dengan QR Code Kini Bisa Lintas Platform

Temuan Mengenai Sikap Responden terhadap Teknologi Keuangan

Peningkatan pengguna teknologi pembayaran digital di Asia Pasifik ini dipicu oleh keamanan dan kenyamanan. Lebih dari 50% responden mengaku mulai memakai metode pembayaran digital selama pandemi karena lebih aman dan nyaman ketimbang kontak langsung. Berikut ini adalah beberapa temuan mengenai sikap responden terhadap pembayaran digital:

  • 45% responden menyatakan bahwa platform digital memungkinkan pembayaran sambil mematuhi kebijakan physical distancing.
  • 36% mengatakan bahwa pembayaran digital merupakan satu-satunya cara melakukan transaksi keuangan selama masa lockdown
  • 29% responden mengungkap bahwa gateway digital saat ini lebih aman dibandingkan masa sebelum pandemi COVID-19
  • 29% responden mengapresiasi segala bentuk insentif dan hadiah yang ditawarkan penyedia pembayaran digital
  • Sekitar 4 dari 10 responden mengaku tak yakin akan keamanan platform pembayaran online
  • Lebih dari 25% responden merasa teknologi pembayaran digital merepotkan
  • 26% responden merasa bahwa teknologi pembayaran digital membutuhkan banyak kata sandi atau pertanyaan
  • 25% responden mengaku perangkat pribadi mereka tak cukup aman

Penggunaan metode pembayaran digital oleh pengguna baru dipicu oleh teman dan kerabat (23%) dan pemerintah daerah (18%). Saat ditanya mengenai persiapan sebelum menggunakan mobile banking dan aplikasi pembayaran, para pengguna baru mengakui kekhawatiran mereka terhadap hal-hal berikut:

  • Kehilangan uang secara online (48%)
  • Takut menyimpan data keuangan secara online (41%)

Cornell mengeungkapkan bawa Karspersky perlu mengetahui titik kesulitan para pengguna untuk mengidentifikasi celah yang harus segera mereka tangani. Hal ini demi mendorong ekonomi digital yang aman di masa mendatang. Temuan mengenai kesadaran publik terhadap risiko yang menyertai transaksi online cukup baik. Berdasarkan hal tersebut, pengembang dan penyedia aplikasi pembayaran seluler harus melihat celah keamanan siber di setiap tahap proses pembayaran. Mereka harus dapat menerapkan fitur keamanan dan melakukan pendekatan desain yang aman untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari pengguna.

Baca juga: Bank dan Bursa Aset Kripto Merupakan Sasaran Empuk Penjahat Siber

Tips Penerapan Teknologi Pembayaran Digital yang Aman

Para ahli Kaspersky memberikan tips berikut ini untuk membantu pengguna teknologi pembayaran digital di Asia Pasifik melakukan transaksi yang aman.

  • Waspada terhadap komunikasi palsu, dan berhati-hati saat menyerahkan informasi sensitif. Jangan membagikan informasi pribadi atau rahasia secara online, terutama yang berkaitan dengan informasi keuangan dan detail pembayaran.
  • Gunakan komputer dan koneksi internet sendiri saat melakukan pembayaran online. Lakukan pembelian dari toko terpercaya saat berbelanja secara fisik. Tetap berhati-hati saat melakukan pembayaran online karena komputer umum bisa jadi disusupi spyware yang merekam ketikan di keyaboard. Koneksi internet publik pun berisiko telah dicegat pelaku kejahatan siber yang menanti melancarkan serangan.
  • Jangan bagikan kata sandi, nomor PIN dan OTP ke siapa pun, termasuk keluarga dan teman. Data-data tersebut hanya boleh diketahui diri sendirii, dan selalu lindungi informasi pribadi. Berbagi hal-hal tersebut mungkin terasa nyaman dan praktis, sayangnya justru membuka celah bagi pelaku kejahatan siber untuk mengelabui pengguna. Pelaku kejahatan dapat membuat pengguna mengungkapkan informasi pribadi untuk mengumpulkan kredensial bank.
  • Adopsi solusi holistik produk keamanan dan langkah-langkah praktis dan jaga keamanan informasi keuangan. Hal ini perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko menjadi korban ancaman siber. Beberapa solusi yang dapat digunakan untuk melindungi dari ancaman mencakup Kaspersky Internet Security dan Kaspersky Fraud Prevention. Selain itu dapat juga menggunakan Kaspersky Safe Money untuk membantu memeriksa keaslian situs web bank, sistem pembayaran dan toko online. Solusi tersebut juga dapat digunakan untuk membangun koneksi yang aman.

Demikianlah beberapa temuan hasil penelitian Kaspersky bersama YouGov dan beberapa tips agar tetap aman menggunakan pembayaran digital.

Share:

Artikel Terkini