
Teknogav.com – Ajang Sustainable District Outlook 2025 (SDO 2025) menampilkan inovasi lokal sebagai solusi nyata bagi pembangunan ekonomi hijau dan berketahanan iklim. Ini adalah hasil kolaborasi Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), dan berbagai mitra strategis. LTKL adalah asosiasi pemerintah kabupaten yang dibentuk dan dikelola pemerintah kabupaten, karena kabupaten merupakan motor utama pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Tujuan LTKL ini adalah mewujudkan pembangunan lestari yang menjaga lingkungan dan menyejahterakan masyarakat lewat gotong royong.
Makin beragamnya inovasi kabupaten disampaikan oleh Mohammad Rizal, Bupati Sigi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum LTKL periode 2025-2028. Keragaman tersebut mulai dari sentra inkubasi produk lokal, forum investasi berbasis alam, sampai ruang publik kreatif.
![]() |
| Mohammad Rizal, Bupati Sigi merangkap Ketua Umum LTKL periode 2025-2028. |
“Harapan saya untuk Kabupaten Sigi adalah bagaimana kabupaten ini bisa terus bergerak dan tumbuh. Sebagai Ketua Umum terpilih, saya memiliki visi untuk mendorong sektor pertanian dan pariwisata sebagai kekuatan utama dari Sigi. Sigi memiliki Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu yang menjadi bagian dari cagar biosfer dunia dan salah satu penyumbang oksigen terbesar di dunia. Dari sisi pertanian, Sigi sudah memiliki produk unggulan daerah seperti kopiyang memiliki potensi tinggi. Dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi melalui program kedaulatan pangan juga semakin memperkuat langkah kami. Ini menunjukkan bahwa Sigi sudah mulai bergerak,” ucap Bupati Rizal.
Baca juga: Film Dokumenter “Berbagi Ruang untuk Bukit Tigapuluh” Bangkitkan Kepedulian pada Alam
Bupati Rizal mengungkapkan bahwa tidak semua kabupaten tumbuh dan kaya dari pertambangan, sehingga perlu yang berkelanjutan. Pertambangan di kawasan Taman Nasional tidak diizinkan, masyarakat lebih diarahkan ke ekonomi hijau. Luas kabupaten Sigi adalah 5916m2 dengan 74% hutan merupakan hutan lindung. Masyarakat Sigi ada yang hidup di tengah hutan, jika ada yang ingin mengambil kayu, maka harus meminta izin pada pemuka adat.
Menurut Bupati Rizal, bergabung ke LTKL memberikan keuntungan dalam bentuk investasi bagi Sigi karena LTKL memiliki jaringan investor dan mitra. Salah satu investasi di Sigi berasal dari sektor pertanian dan perkebunan berkelanjutan yang sudah mencapai lebih dari Rp36 miliar. Misi kabupaten Sigi ke depan adalah perdamaian dan pariwisata.
Saat ini, LTKL memiliki 9 kabupaten anggota di 6 provinsi di Indonesia dan bekerja berdampingan dengan 26 jejaring mitra multipihak. Sembilan kabupaten tersebut berhasil melakukan penilaian mandiri. Pencapaian kabupaten anggota LTKL dalam membangun transformasi berkelanjutan ditekankan oleh Ristika Putri Istanti, Kepala Sekretariat LTKL. Setiap kabupaten memiliki masalahnya masing-masing dan memiliki target melindungi 50% hutannya.
Baca juga: Program ExploNation Jelajah Sintang Tingkatkan Kesadaran akan Pentingnya Ekonomi Restoratif
“Selama dua hari kegiatan SDO 2025 (27 - 28 Agustus 2025), kami membangun model untuk pembangunan berkelanjutan. Setiap tahun, kami berkolaborasi dengan Apkasi. Model tersebut bertujuan menampilkan praktik-praktik baik serta cerita yang telah berkembang di kabupaten dengan tujuan mendorong transformasi menuju pembangunan berkelanjutan. Tahun ini, kami mengambil tema Kabupaten Bergerak sebagai tema bersama yang bermakna: bahwa transformasi dapat dimulai dari tingkat lokal, terutama dari kabupaten,” ucap Ristika yang akrab dipanggil Tika.
![]() |
| Ristika Putri Istanti, Kepala Sekretariat LTK |
Tika mengungkapkan bahwa narasi yang sudah dibangun di kabupaten berusaha diekspos seluas mungkin. Upaya ini membutuhkan dukungan dari pemerintah nasional, dan masyarakat sipil. Harapannya, upaya tersebut dapat menjadi milestone awal.
LTKL memiliki lima pilar dalam melakukan pendekatan konsep, yaitu sebagai berikut:
- Integrasi prinsip
- Proses harus multipihak sehingga ada kontribusi swasta, publik dan lain-lain
- Harus ada model. Contohnya kabupaten Sigi yang berkontribusi pada kopi dan vanila serta ada inkubasi. Kabupaten Sigi bekerja sama dengan Java Kirana untuk memastikan produk dari Sigi dapat didistribusikan secara nasional. Selain perkebunan, kabupaten Sigi juga berinovasi pada komunitas
- Tata data yang jelas
- Ampilfikasi narasi dengan menceritakan kompleksitas isu
Krisis yang sedang terjadi saat ini ditekankan Hilman Farid, pendiri Jalin Indonesia sebagai masalah fundamental.
“Laporan Pembangunan Manusia dari UNDP di tahun 2022 menegaskan bahwa kita hidup di era kompleksitas ketidakpastian. Krisis politik, transformasi sosial, dan polarisasi produk saling terkait, menciptakan instabilitas global. Iklim sudah berubah, laut berubah, dan deforestasi makin tinggi. Sudah waktunya kabupaten mampu untuk berdiri sendiri, bukan hanya sebagai pelengkap,” ucap Hilman Farid.
Pentingnya mengatasi krisis ditegaskan oleh Bima Arya Sugiarto, Wakil Menteri Dalam Negeri.
“Istilah saat ini sudah bukan lagi global warming, tetapi global boiling, artinya isu ini sudah semakin mendesak untuk dihadapi. Tahun 2045, Indonesia memiliki target untuk mencapai net zero emission. Sudah banyak narasi lokal yang berjalan secara organik dan ini sangat bagus. Saatnya diperkuat dengan kebijakan formal untuk menjahit ekosistem, dan fokus pada green leadership serta melakukan kaderisasi pada para aktivis muda,” ucap Bima Arya Sugiarto.
Baca juga: Teknologi Cloud Computing AWS Dukung WWF-Indonesia Percepat Pelestarian Orangutan
Sementara itu, pentingnya integrasi investasi dan konservasi ditekankan oleh Fitrian Adriansyah, Dewan Pembina LTKL Beliau juga menjabat sebagai Impact Director - ACLF (Asia Climate-smart Landscape Fund) di ADM Capital. Menurutnya, kepemimpinan Bupati juga krusial dalam hal konsistensi dan tata kelola, karena kepemimpinan daerah berperan besar dalam memastikan keberlanjutan program. Tata kelola dari kabupaten anggota LTKL cukup membanggakan karena sudah menunjukkan arah positif. Praktik Enviromental, Social and Governance (ESG) perlu terus dikaitkan dalam tata kelola. Kini tren pembiayaan secara global makin menekankan penerapan ESG dan prinsip keberlanjutan sebagai syarat masuk ke pasar.
![]() |
| Fitrian Adriansyah, Dewan Pembina LTK yang juga menjabat Impact Director - ACLF (Asia Climate-smart Landscape Fund) di ADM Capital. |
“Sesungguhnya portfolio komoditas unggulan kabupaten memiliki peluang yang menjanjikan. Namun, ada beberapa aspek yang perlu dipertajam. Salah satu tantangan utama adalah konsistensi yang masih menjadi kendala bagi para supplier. Karena itu, penting untuk memperkuat aspek bisnis sekaligus menjaga konsistensi dalam implementasinya,” ucap Fitrian.
Menurut Fitrian, integrasi antara investasi dan konservasi bukan hanya pilihan etis. Hal tersebut merupakan strategi bisnis yang relevan dengan permintaan investor dan konsumen internasional.
SDO 2025 merupakan tahunan yang menjadi ruang temu strategis bagi kabupaten dan para mitra untuk terus memperkuat kolaborasi. Kabupaten bergerak bersama mitra membangun ekosistem pendukung yang solid melalui ajang ini. Upaya ini bertujuan untuk mewujudkan transformasi menuju kabupaten yang lestari, mandiri, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global.









