
Teknogav.com – Film ‘The Smashing Machine’ persembahan A24 Entertainment ini mengangkat kisah nyata Mark Kerr dengan sutradara Benny Safdie. Mark Kerr (Dwayne Johnson) adalah seorang petarung legendaris seni bela diri campuran dan gulat yang memiliki julukan 'The Smashing Machine' karena kebuasannya dalam bertarung. Perjuangan Mark Kerr yang digambarkan dalam film ini tak hanya sebatas untuk meraih prestasi dalam olah raga bela diri. Namun, juga perjuangan melawan ketergantungan terhadap obat-obatan yang membuat kecanduan dan cinta untuk mempertahankan hubungan dengan kekasihnya. Kisah dalam film ini berlatarkan tahun 1997 sampai 2000.
Benny Safdie sang sutradara film ini menggunakan pendekatan observasi. Setiap adegan pertarungan dalam film ini direkam dari luar arena tinju. Penonton pun mendapatkan sudut pandang kamera, bukan terjun langsung dalam aksi mereka. Iringan lagu-lagu nostalgia seperti pop atau rock turut menghiasi film ini. Penampilan Dwayne Johnson pada film ini cukup membuat pangling dengan tata rias yang membuatnya terlihat berbeda.
Nuansa dokumenter yang mentah, sesuai dengan era MMA awal ditampilkan oleh perpaduan film 16 mm dan VHS. Gaya visual ini memperkuat atmosfer kelam dan realisme cerita. Fokus film ini bukan hanya pada pertarungan fisik, tetapi juga pada pergulatan batin Kerr: kecanduan opioid, tekanan mental, dan hubungan toksik dengan pacarnya.
Jika dibandingkan dengan film yang mengangkat kisah atlet olahraga bela diri lain, film ini kurang memberikan gambaran mengenai kekuatan lawan-lawan Mark Kerr secara detail, demikian juga dengan urutan pertandingan. Latihan-latihan yang dilakukan Mark Kerr juga tidak digambarkan secara mendalam untuk membuat penonton mengenali sosok seorang Mark Kerr.
![]() |
| Emily Blunt, Dwayne Johnson, & Benny Safdie (Credit: Eric Zachanowich) |
Baca juga: Film “Glenn Fredly The Movie” Kisahkan Cinta, Musik dan Keluarga
Sayangnya, film ini tidak banyak menggambarkan masa kecil atau hubungan keluarga Kerr. Padahal gambaran tersebut bisa membantu menambah kedalaman emosional dan konteks perjuangannya. Beberapa bagian film ini terasa lambat dan terlalu melankolis sehingga membuat kehilangan momentum emosional.
![]() |
| Dwayne Johnson (Credit: Eric Zachanowich) |
Film ini juga melibatkan beberapa atlet MMA, selain Ryan Bader ada Satoshi Ishii yang memerankan Enson Inoe, dan James Moontasri yang memerankan Akira Shoji, bahkan ada Bas Rutten yang memerankan dirinya sendiri.
Baca juga: Film “Harta5 Tahta Raisa” Kisahkan Kesahajaan Seorang Diva dan Persahabatannya
The Smashing Machine' bukan sekedar biopik mengenai olahraga, tetapi juga mengangkat banyak perjuangan Kerr yang lain, termasuk dalam menghadapi kecanduan dan hubungan yang toksik dalam percintaan. Film ini seolah ingin mengangkat nama besar Kerr sebagai atlet seni bela diri campuran legendaris layaknya, Dwayne Johnson yang bersinar sebagai aktor dan pegulat. Dwayne Johnson terlihat begitu menghayati perannya sebagai Kerr yang lembut tutur katanya di awal film. Namun, karakter Kerr dapat tiba-tiba berubah penuh kekerasaan saat emosi, bahkan sampai meninju pintu sampai remuk. Sifat kekanak-kanakan Kerr juga ditampilkan saat membicarakan perutnya yang sensitif.
![]() |
| Dwayne Johnson & Emily Blunt (Credit:: Eric Zachanowich) |
Baca juga: All Access to Rossa 25 Shining Years” Ungkap Rossa Seutuhnya
Mark Kerr digambarkan sebagai karakter yang tidak siap menerima kekalahan. Jiwanya terlihat terguncang saat ditaklukkan pertama kali, secara perlahan hidupnya pun mengalami kehancuran. Film ini berkisah mengenai manusia yang harus menerima kejayaannya telah pudar. Dia pun harus hidup menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan. Drama psikologis lebih ditonjolkan dalam film ini ketimbang laga brutal pertarungan di atas ring.
Film ini layak ditonton dengan sinematografi dan soundtrack yang enak dinikmati. Adegan-adegan pertarungan di film ini lumayan, tetapi kurang terlihat nyata. Nah, bagi yang penasaran, film ini akan ditayangkan di bioskop Indonesia mulai 10 Oktober 2025.









