
Teknogav.com – Konektivitas dengan internet cepat merupakan landasan menuju Indonesia Digital. Pemerataan akses broadboand di Indonesia, merupakan peran yang akan terus dilakukan FiberStar sebagai penyedia infrastruktur netral. Pelanggan yang dilayani FiberStar mecakup operator, Internet Service Provider (ISP), pelaku bisnis, sampai ekosistem digital lintas sektor. Jaringan FiberStar merupakan tulang punggung operasional digital para mitra Internet ISP dan pelaku usaha di berbagai area strategis.
Baca juga: FiberStar Dukung Logistik dan Konektivitas di Wilayah Terdampak Banjir Sumatera
Ekspansi jaringan yang dilakukan FiberStar pun tak sebatas pada penambahan cakupan, tetapi pemanfaatan yang kian meningkat. Peningkatan penetrasi layanan para mitra ISP dan pelaku usaha yang memanfaatkan jaringan FiberStar tersebut menunjukkan utilisasi infrastruktur yang kian sehat. Hal ini dapat dilihat dari rasio pemanfaatan jaringan atau take rate (home connected dibanding homepass yang meningkat. Angka pertumbuhan tersebut meningkat menjadi sekitar 14,6% pada tahun 2025, dari sekitar 14,0% pada tahun 2024.
Jumlah homepass FiberStar selama tahun 2025 tumbuh 45,9% menjadi 3.360.119 titik, dari 2.303.553 pada tahun 2024. Jumlah home connected selama tahun 2025 juga tumbuh 51,9% menjadi 489.211 pelanggan tersambung, dari 322.150 pelanggan tersambung pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan pertumbuhan jumlah home connected lebih cepat dibandingkan pertumbuhan homepass.
“Kami menjaga bukan hanya seberapa luas jaringan bertambah, tetapi seberapa efektif jaringan tersebut dipakai. Pertumbuhan home connected pada tahun 2025 lebih cepat dibanding pertumbuhan homepass. Ini menunjukkan utilisasi kian solid dan jaringan yang dibangun benar-benar dimanfaatkan,” ucap Yudo Satrio, Network Planning Department Head FiberStar.
Baca juga: Jalur Telekomunikasi Palapa Ring Barat Kembali Pulih Setelah Sempat Terputus
Kini panjang jaringan serat optik FiberStar telah mencapai 64.497.562 meter atau setara sekitar 64.498 km. Pengembangan dilakukan melalui trase baru dan penguatan berlapis dari backbone, jaringan metro, hingga last-mile bersama mitra strategis. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat konektivitas antarwilayah dan menjaga konsistensi kualitas layanan di area dengan pertumbuhan permintaan yang tinggi.
“Utilisasi yang sehat harus ditopang desain jaringan yang siap dari hulu ke hilir. Karena itu kami memperkuat backbone, metro, sampai last-mile agar kapasitas lebih merata dan kualitas tetap konsisten ketika trafik tumbuh,” lanjut Yudo.
Rencana penguatan infrastruktur juga terus dilakukan FiberStar dengan target pembangunan sekitar 750.000 homepass baru selama tahun 2026. Pembangunan ini merupakan langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memperluas akses konektivitas di wilayah-wilayah prioritas. Target peningkatan penetrasi layanan dan utilisasi infrastruktur juga dilakukan FiberStar melalui penguatan kolaborasi dengan mitra ISP dan pelaku usaha. Demi meningkatkan efektivitas perluasan dan memenuhi lonjakan permintaan layanan digital, dilakukan juga penyelarasan ekspansi dengan kapasitas backbone dan jaringan metro.
Baca juga: Huawei RuralStar Dukung Konektivitas Sampai Pelosok Indonesia
“Di 2026, fokus kami bukan hanya menambah cakupan, tapi juga mendorong penetrasi dan utilisasi jaringan, supaya investasi infrastruktur yang dibangun makin produktif bagi mitra dan makin relevan bagi kebutuhan digital masyarakat. Sebagai neutral carrier, kami ingin mitra bisa lebih cepat memperluas layanan, sementara kami memastikan fondasinya siap dan andal,” papar Yudo.
![]() |
| Yudo Satrio, Network Planning Department Head FiberStar |
FiberStar juga melakukan mitigasi untuk mengatasi tantangan agar pembangunan berjalan tepat waktu dan berkelanjutan. Beberapa tantangan yang dihadapi mencakup persaingan dengan kompetitor, proses perizinan, kondisi konstruksi lapangan, sampai ketidakseimbangan permintaan antarwilayah. Ada banyak variabel saat eksekusi di lapangan, sehingga perlu mitigasi sejak perencanaan. Krisis Timur Tengah juga memiliki dampak pada bisnis FiberStar karena menipisnya stok serat optik akibat penggunaan oleh sektor militer.







