Gelar “The Future of Influence”, Vero dan Magnifique Bahas Masa Depan Pengaruh Gelar “The Future of Influence”, Vero dan Magnifique Bahas Masa Depan Pengaruh ~ Teknogav.com

Gelar “The Future of Influence”, Vero dan Magnifique Bahas Masa Depan Pengaruh



Teknogav.com
– Agensi komunikasi Vero dan Magnifique menyelenggarakan forum strategis “The Future of Influence” pada Kamis, 23 April 2026 di Plaza Indonesia. Forum ini mempertemukan para pemimpin lintas Public Relations (PR), media, pemasaran, teknologi sampai akademisi. Kehadiran forum ini menjadi wadah untuk membahas masa depan pengaruh, reputasi dan pertumbuhan bisnis di Indonesia, serta strategi membentuknya.

Pesatnya perkembangan teknologi Akal Imitasi (AI) telah mengubah cara memproduksi dan mengonsumsi konten secara fundamental. Hal ini membangkitkan pertanyaan mendasar bagi brand mengenai siapa dan apa yang masih layak dipercaya. Forum ini digelar di momentum krusial, saat konsumsi media tradisional menurun dan beralih ke platform digital, ekosistem video dan distribusi berbasis algoritma. Kehadiran AI juga bisa menurunkan biaya produksi konten, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran atas kredibilitas, disinformasi dan integritas budaya.

Baca juga: SAMA Indonesia Gunakan Strategi Pemasaran Hiper-Lokal Didukung Data dan AI

“Platform digital berperan tak hanya sebagai kanal distribusi, tetapi juga sebagai ekosistem pembentuk pengambilan keputusan, bukan saja untuk komunikasi tapi membangun reputasi. Kita memasuki fase di mana pengaruh kian mudah diciptakan, tetapi semakin sulit dipercaya. Peran PR kian krusial, bukan untuk berkomunikasi, tetapi juga membangun kredibilitas, mengelola reputasi dan menciptakan dampak bisnis yang nyata” ucap Brian Griffin, CEO Vero.

Jangkauan dan interaksi selama ini menjadi tolok ukur pengaruh, tetapi kini metrik tersebut tak lagi memadai. Seiring makin banyaknya informasi, bahkan kian sintetis, maka pembeda utamanya adalah kredibilitas. Terpusatnya penyebaran informasi pada segelintir platform dan dominasi algoritma juga menimbulkan pertanyaan mengenai kekuasaan, akuntabilitas dan pembentuk persepsi publik sebenarnya.

“Brand tidak lagi sekadar bersaing untuk mendapatkan perhatian, tetapi juga kepercayaan, di saat kepercayaan itu sendiri semakin tertekan. Di sinilah peran komunikasi dan kreativitas menjadi lebih strategis, bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi membangun validasi dan makna yang bertahan,” ucap Arifaldi Dasril, Founder dan Managing Partner Magnifique Indonesia yang merupakan agensi yang menggunakan strategi komunikasi 360.

Arifaldi Dasril, Founder dan Managing Partner Magnifique Indonesia

Arifaldi juga mengungkapkan bahwa peran media belum tergantikan, hanya keistimewaan distribusi informasinya yang berkurang. Hal ini karena kehadiran media sosial yang juga memiliki distribusi informasi yang luas. Tiktok bisa membangun orang untuk terkenal hanya dalam 15 detaik, tetapi media bisa membangun kepercayaan. Media sosial bisa membangun reputasi dalam hitungan hari, tetapi juga dapat menghancurkannya dalam hitungan jam. Saat ini media memiliki fungsi yang membuat publik percaya.

Baca juga: Salesforce Paparkan Cara Membangun Agentic Future bagi Perusahaan di Indonesia

Forum “The Future of Influence” tak lagi menempatkan pengaruh sebagai taktik pemasaran, melainkan sebagai sistem dinamis yang saling terhubung. Narasi dan persepsi publik dibentuk bersama oleh media, kreator, platform dan brand. Sistem tersebut kian kompleks seiring makin efisiennya kreator beroperasi, serta dukungan AI yang mempercepat produksi dan penyebaran konten. Disinformasi juga berkembang menjadi risiko yang makin luas bagi masyarakat. Organisasi tidak lagi hanya mempengaruhi persepsi, tetapi juga mendorong dampak nyata, mulai dari keberlanjutan sampai inklusi keuangan.

“Pengaruh hari ini bukan lagi soal siapa yang memiliki audiens terbesar, tetapi siapa yang mampu membangun koneksi paling kuat. Audiens makin selektif, dan storytelling harus terasa autentik, bukan dibuat-buat, terutama di era ketika AI bisa menghasilkan hampir apa saja, “ ucap Ryan Adriandhy, kreator Na Willa. 

Baca juga: Film “Na Willa” Sajikan Kepolosan Sudut Pandang Anak-anak yang Jujur

Perubahan tersebut juga menggeser pola kolaborasi antara kreator, brand dan platform. Pendekatan kampanya jangka pendek pun beralih ke ekosistem yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

“Ekonomi kreator di Asia Tenggara berkembang pesat, dari sekadar visibilitas menuju penciptaan nilai jangka panjang. Kepercayaan, konsistensi, dan kesamaan tujuan kini menjadi fondasi utama dalam kolaborasi antara brand dan kreator,” ucap Jehian Sijabat, CEO Mantappu dan Co-Founder Creators Association Southeast Asia (CASA). 

Dinamika ini menuntut pendekatan yang lebih strategis terhadap pengaruh bagi brand, melebihi sebatas jangkauan dan kinerja.

“Pengaruh harus mampu diterjemahkan menjadi dampak bisnis yang nyata. Bukan hanya soal terlihat, tetapi soal relevansi dan kredibilitas di momen yang paling berarti bagi konsumen,” ucap Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.

Pengaruh bisa dibuat dalam sekejap dalam lanskap saat ini, tetapi tidak demikian dengan kredibilitas. Keandalan organisasi tidak terletak pada kelantangan bersuara, tetapi yang bisa membangun kepercayaan secara konsisten dan menavigasi kompleksitas. Organisasi juga harus bisa tetap relevan di tengah pesatnya perubahan. Kemampuan menjawab tantangan tak hanya menentukan keberhasilan brand, tetapi juga masa depan komunikasi, reputasi dan kepemimpinan di Asia Tenggara.

Share:

Artikel Terkini