Salesforce Paparkan Cara Membangun Agentic Future bagi Perusahaan di Indonesia Salesforce Paparkan Cara Membangun Agentic Future bagi Perusahaan di Indonesia ~ Teknogav.com

Salesforce Paparkan Cara Membangun Agentic Future bagi Perusahaan di Indonesia



Teknogav.com – Salesforce memaparkan hasil penelitian terkininya bersama YouGov yang melibatkan 1.002 profesional di Indonesia pada ajang Agentforce World Tour Jakarta 2026. Penelitian tersebut bertujuan untuk memahami sikap dan persepsi profesional terhadap AI/Agentic AI. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa para profesional yang mengandalkan pengetahuan dan analisis lebih dipengaruhi penggunaan AI ketimbang mandat perusahaan. 

Data penelitian tersebut mengungkapkan bahwa 68% profesional mengaku penggunaan AI dalam kehidupan pribadi meningkatkan kepercayaan dalam menggunakan AI untuk pekerjaan. Sejumlah 70% profesional mengatakan bahwa penggunaan AI secara pribadi meningkatkan percaya diri dalam menggunakan alat AI di tempat kerja. Hampir seluruh pekerja profesional di Indonesia memperkirakan akan menggunakan AI dan agen AI dalam pekerjaan mereka. Mereka juga melihat akan terdapat pergeseran pada peran mereka. Hanya kurang dari 3% yang mengaku tidak berencana menggunakan Agen AI.

Baca juga: Salesforce Hadirkan Agentforce dalam Bahasa Indonesia demi Tingkatkan Pengalaman Pelanggan

Pentingnya Keterampilan Penggunaan AI bagi Pekerja Profesional

Seiring meningkatnya penggunaan AI secara pribadi, penting bagi perusahaan untuk mendorong adopsi AI tingkat perusahaan. Perusahaan-perusahaan di Indonesia juga perlu membangun tenaga kerja yang fasih menggunakan AI demi menciptakan nilai bisnis. Hal ini selaras dengan pesan yang disampaikan Silmy Karim, Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia. Menurutnya, Indonesia harus mempercepat daya saing ekonomi melalui transformasi digital dan meningkatkan kualitas layanan publik dengan mengadopsi AI.

Hasil survei Salesforce mengungkapkan bahwa hanya 33% yang sudah melatih karyawannya menggunakan agen AI. Data ini menunjukkan kesenjangan keterampilan dan pengetahuan yang berpotensi menghambat perusahaan dalam memaksimalkan potensi agentic AI. Sejumlah 37% pekerja profesional Indonesia ingin memahami jenis kecakapan yang perlu dikembangkan di era AI. Namun, sebagian besar hanya menerima pelatihan terbatas terkait agentic AI.

Baca juga: Gelar Ignite, Palo Alto Networks Dukung Pelaku Usaha Aman Berinovasi

Jika perusahaan tidak menyediakan akses ke solusi AI tingkat perusahaan dan pelatihan yang memadai, maka risiko menghadapi Shadow AI meningkat. Shadow AI adalah penggunaan alat AI yang tidak disetujui dan berada di luar pengawasan organisasi, sehingga menimbulkan kerentanan keamanan. Kerentanan keamanan ini akan mengakibatkan kebocoran data sensitif, misalnya ketika karyawan menggunakan alat AI terbuka menggunakan data perusahaan.

“Dalam menggunakan AI harus ada transformasi dari sisi teknologi dan manusia demi mencegah Shadow AI di mana penggunaan AI bukan dari sumber terpercaya,” ucap Andreas Diantoro, Area Vice President & President Director Salesforce Indonesia.

Andreas Diantoro, Area Vice President & President Director Salesforce Indonesia

Risiko tersebut juga diperburuk dengan kesenjangan kecakapan dalam menggunakan alat AI. Informsi yang tidak akurat bisa dihasilkan AI jika karyawan dengan pelatihan terbatas tidak memahami prompt engineering atau memeriksa kebenaran output. Selain itu, terdapat risiko masalah kepatuhan.

“Kepercayaan terhadap AI di Indonesia tumbuh dari bawah ke atas, didorong oleh rasa ingin tahu pribadi yang kini melampaui strategi perusahaan. Seiring percepatan ambisi AI di Indonesia, bisnis memiliki peluang besar untuk mengonversi antusiasme yang tumbuh dari karyawan ini menjadi produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi jangka panjang. Untuk mencapainya, organisasi harus melampaui sekadar menyediakan akses ke alat AI, mereka perlu membangun fondasi yang tepat: tata kelola yang tepercaya, sistem tingkat perusahaan yang aman, serta dukungan keterampilan agar karyawan dapat menggunakan AI dengan percaya diri dan bertanggung jawab,” lanjut Andreas Diantoro.

Andreas juga mengungkapkan bahwa studi Salesforce menunjukkan bahwa pekerja Indonesia siap berkolaborasi dengan AI. Mereka juga kian beharap agen AI dapat mengotomatisasi dan menigkatkan pekerjaan. Langkah berikutnya adalah AI fluency yang memungkinkan individu dan organisasi merancang ulang cara kerja dan bergerak menuju Agentic Enterprise.

"Indonesia memerlukan lompatan besar untuk bersaing secara global, dan teknologi informasi adalah kunci dari proses transformasi tersebut. Dukungan teknologi seperti Salesforce Agentforce dan Slack memungkinkan pemimpin perusahaan mempercepat inovasi dan pengambilan keputusan secara signifikan. Jika dulu proses transformasi membutuhkan waktu bertahun-tahun, kini dengan bantuan data yang akurat dan agen AI, kita bisa mengeksekusi kebijakan jauh lebih cepat, tepat, dan produktif demi kesejahteraan masyarakat," ucap Silmy Karim, Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia.

Kebutuhan Layanan yang Cepat, Efisien dan Akurat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI secara pribadi oleh profesional meningkatkan ekspektasi mereka sebagai pelanggan, sehingga AI merupakan kebutuhan kompetitif. Sejumlah 51% responden mengharapkan layanan yang lebih cepat dan efisien. Sedangkan akurasi yang lebih tinggi dan lebih sedikit kesalahan dari bisnis diharapkan oleh 54% responden. Solusi yang lebih inovatif dan cerdas juga diharapkan 52% responen. Hanya 5% responden yang mengatakan ekspektasi mereka tidak berubah.

Salesforce membantu perusahaan memenuhi ekspektasi pekerja dan pelanggan, sambil mendapatkan nilai bisnis nyata dari agentic AI. Agentforce World Tour Jakarta digelar Salesforce menampilkan Agentforce yang dapat memberikan dukungan tersebut. Platform terpadu ini menyatukan manusia, agen, aplikasi dan data dalam satu sistem terpercaya. Empat lapisan platform Salesforce yang berupa konteks, pekerjaan, agensi dan keterlibatan, menyediakan infrastruktur penting untuk mengubah kecerdasan menjadi pekerjaan nyata. Platform ini mendukung transformasi organisasi dari individual agency menjadi enterprise agency dengan ribuan agen dan manusia. Mereka dapat berkolaborasi menjalankan tugas kompeks lintas tim, fungsi dan perusahaan.

Baca juga: Agentforce 3 Siap Optimalkan Agen AI dengan Solusi Pengamatan Lengkap 

“Data yang bagus menghasilkan AI yang bagus, model AI membutuhkan konteks yang terpercaya. Orang yang lebih lama pengalamannya juga akan memiliki konteks lebih besar. Data 360 memberikan konteks dengan menghubungkan segala data sehingga menyajikan kejelasan dan kualitas data yang dimiliki,” ucap Gavin Barfield, Vice President dan Chief Technology Officer, Solutions ASEAN.

Gavin Barfield, Vice President dan Chief Technology Officer, Solutions ASEAN

Para profesional Indonesia siap berkolaborasi dengan AI selama transparan dan akses ke alat berkualitas. Sejumlah 42% profesional memperkirakan akan menggunakan Agen AI untuk mengotomatisasi sebagian tugas, sekaligus meningkatkan tuga lain. Pentingnya keterampilan kolaborasi manusia-AI juga diyakini oleh 30% responden. Seiring makin umummnya kolaborasi manusia-AI, para profesional menginginkan kejelasan dan alat berkualitas tinggi agar percaya diri menggunakan agen AI.

Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan agen AI di tempat kerja:

  • Kerangka pengamanan yang kuat untuk memastikan keamanan, privasi, dan kepatuhan (43%)
  • Kepastian bahwa keterampilan, penilaian, dan kreativitas manusia tetap menjadi pusat pekerjaan mereka (43%)
  • Tingkat transparansi dan kendali yang tinggi dengan mengetahui tindakan apa yang dilakukan agen AI dan alasannya (42%) 
  • Akses mudah ke alat resmi berkualitas tinggi (39%) 
  • Pemahaman mengenai keterampilan yang perlu atau dapat dikembangkan manusia (37%).
  • Dukungan dari tim IT, teknis dan pakar AI (35%)

Agentforce World Tour Jakarta dihadiri lebih dari 800 pelanggan dan mitra. Agenda mencakup sesi keynote, area campground dengan demo langsung, serta berbagai sesi produk dan industri inovatif. Seluruh kegiatan tersebut dapat membantu organisasi mencapai keberhasilan di era agentic AI. Pelanggan seperti AXA Mandiri, Bank Syariah Indonesia, Indonesia Ooredoo Hutchison, Indo Kompresigma dan Mandiri InHealth juga turut menghadiri ajang tersebut. Mereka berbagi perjalanan transformasi digital mereka bersama Salesforce.

“LLM saja tidak cukup untuk menghadirkan nilai bisnis yang nyata dari AI. Platform terpadu kami menghadirkan komponen-komponen penting seperti sistem konteks, kerja, agen, dan engagement untuk menjembatani kesenjangan antara potensi model AI dan penerapannya di dunia nyata. Dengan menyatukan data, manusia, dan agen otonom dalam satu platform, kami membantu organisasi di Indonesia dan di kawasan lainnya mendorong peningkatan produktivitas yang nyata serta menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih personal dan berdampak,” pungkas Gavin Barfield.

Share:

Artikel Terkini