
Teknogav.com – Ekonomi digital Asia Tenggara diproyeksikan mencapai USD1 triliun pada tahun 2030, perkiraannya Indonesia berkontribusi sebesar 40% dari pertumbuhan tersebut. Salah satu langkah penting pemerintah Indonesia dalam transformasi digital adalah menyelesaikan roadmap nasional AI yang akan diterapkan pada tahun 2026. Jelang tahun 2026, Salesforce memprediksai perubahan besar dalam cara organisasi brsaing dan tumbuh dengan AI sebagai inti strategi.
Sejumlah tren AI yang mengubah berbagai sektor industri AI di Indonesia dipaparkan dalam Media Briefing: Tren AI Indonesia 2026. Salesforce juga mengungkapkan pembaruan terkait solusi AI agentik dari Salesforce yang membantu perusahaan melakukan digitalisasi dan menangkap peluang-peluang baru. Selain itu, diumumkan juga tersedianya Agentforce dalam bahasa Indonesia yang membuka berbagai peluang di Asia Tenggara.
Baca juga: Salesforce Perluas Layanan Hyperforce dan Ketersediaan Agentforce di Indonesia
Teknologi AI berperan penting dalam transformasi digital di Indonesia yang berpotensi menyumbang USD366 miliar pada PDB dalam lima tahun mendatang. Kehadiran Agentforce dalam bahasa Indonesia menandai perkembangan signifikan dalam era AI Agentik di Indonesia. Ketersediaan dalam bahasa Indonesia ini mencakup Agentforce Service dan Employee Agent. Perusahaan bisa mempercepat transformasi digital, menyajikan pengalaman pelanggan yang andal dan meningkatkan efisiensi operasional bisnis dengan Agentforce dalam bahasa Indonesia.
Agentic Enterprise merupakan tempat manusia dan agen AI bekerja berdampingan. Salesforce membantu bisnis untuk menjadi Agentic Enterprise. Agentforce 360 menggabungkan manusia, agen, aplikasi, dan data untuk mendukung setiap karyawan dan mendorong pertumbuhan bisnis. Layanan Customer Service berbagai industri dapat dihadirkan platform lengkap Agentforce Service di semua saluran. Platform ini menghadirkan layanan pelanggan yang tersedia 24 jam sehari tanpa pernah beristirahat sehingga dapat menyelesaikan kasus lebih cepat. Perusahaan pun dapat menekan biaya.
Agentforce Service memberi dukungan proaktif berdasarkan data pelanggan secara real-time menggunakan agen AI sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan. Manusia dan agen AI berkolaborasi penuh melalui platform ini, mulai dari kontak pertama sampai penyelesaian akhir. Employee Agent adalah agen AI yang berperan sebagai asisten digital pribadi bagi karyawan. Kehadiran Employee Agent membantu karyawan mengerjakan tugas rutin dan harian secara lebih cerdas dan efisien. Agen AI ini tak hanya memberi informasi, tetapi juga proaktif bertindak membantu karawan.
Baca juga: Agentforce 3 Siap Optimalkan Agen AI dengan Solusi Pengamatan Lengkap
Employee Agent terintegrasi langsung ke platform yang biasa digunakan, seperti Slack atau perangkat seluler, dan bertindak sebagai "rekan kerja". Berbagai hal dapat dibantu Employee Agent dengan memanfaatkan pengetahuan organisasi. Dukungannya mencakup penjadwalan rapat, pembaruan peluang bisnis, proses onboarding karyawan baru, informasi tunjangan karyawan sampai menyiapkan ringkasan pelanggan sebelum pertemuan. Kemampuan ini menghemat waktu dan meningkatkan produktivitas karyawan karena mereka bisa fokus pada tugas-tugas penting.
“Salesforce memiliki posisi yang strategis untuk membantu mendorong visi ekonomi Indonesia menuju tahap berikutnya, yaitu membantu bisnis menjadi Agentic Enterprise. Ini adalah model kerja baru di mana AI meningkatkan kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Bisnis tidak bisa menggunakan pendekatan ‘wait-and-see’ terhadap AI Agentik. Sebaliknya, ada peluang besar bagi bisnis untuk menciptakan jalan baru dengan memanfaatkan AI, tenaga kerja dinamis Indonesia, dan sumber daya alam yang melimpah,” ucap Andreas Diantoro, Presiden Direktur Salesforce Indonesia.
![]() |
| Andreas Diantoro, Presiden Direktur Salesforce Indonesia |
Menurut Andreas, solusi yang ditawarkan Salesforce sangat terukur dalam membantu bisnis untuk tumbuh dan meningkatkan penjualannya. Solusi utama yang ditawarkan Salesforce terutama untuk penjualan baik B2B maupun B2C, layanan pelanggan dan digital marketing.
Baca juga: AI Dukung Bisnis di Indonesia, Tetapi Sentuhan Manusia Lebih Disukai Pelanggan
Lima Tren dan Peluang AI Agentik
Berikut ini adalah lima tren dan peluang AI Agentik terkini yang bisa dimanfaatkan bisnis di Indonesia pada tahun 2026:
- Bisnis berpeluang untuk dapat langsung menjadi Agentic Enterprise karena tidak terbebani infrastruktur lama sehingga leluasa mengadopsi alur kerja AI Agentik. Model kerja baru dengan agen AI dan manusia yang bekerja berdampingan dapat dihadirkan bisnis tanpa melalui transformasi digital yang lambat. Bisnis visioner yang menggunakan agen AI otonom berbasis data terpercaya dapat membuka pertumbuhan dalam skala yang baru. Mereka pun dapat memanfaatkan agen AI yang mengelola layanan pelanggan, mengatur pemasaran dan mengoptimalkan rantai pasok secara otonom. Survei Salesforce tahun 2024 menunjukkan 82% eksekutif tingkat atas di Indonesia menganggap AI generatif krusial pada keberhasilan bisnis. Persepsi positif ini perlu dimanfaatkan sebagai peluang untuk mempercepat adopsi AI di Indonesia.
- Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berpeluang besar untuk berkembang dengan AI Agentik. Kendala keterbatasan biaya dan sumber daya manusia penyebab lambatnya layanan, inefisiensi dan buruknya interaksi dengan pelanggan bisa diatasi AI Agentik. Solusi tenaga kerja digital ini dirancang khusus, mudah diakses dan memiliki skalabilitas tinggi. Kemampuan tersebut memungkinkan UKM menyamai kapasitas dan kapabilitas perusahaan besar dalam melayani pelanggan. Siapa pun dapat berinovasi dengan AI Agentik, sehingga memudahkan mengembangkan gagasan dan meluncurkan model bisnis baru dengan investasi minimal. Ini memicu transformasi ekonomi dari bawah ke atas, seiring meningkatnya UKM yang mengadopsi teknologi AI canggih untuk kematangan digital.
- AI Agentik membuka jalan pertumbuhan bagi UKM di kota-kota kecil untuk bersaing secara efektif layaknya perusahaan di kota-kota besar. Kondisi ini memicu pertumbuhan di kota kecil, inklusi ekonomi, memperluas akses layanan dan peluang bagi tenaga kerja di daerah. Bisnis di kota kecil dapat melayani pelanggan di kota-kota besar dengan AI Agentik tanpa perlu membangun infrastruktur fisik yang mahal. Hal ini dimungkinkan seiring penguatan infrastruktur digital di Indonesia melalui 5G, Palapa Ring, dan satelit orbit bumi rendah. Konektivitas digital telah menjangkau 79,5% dari 17.504, digitalisasi daerah pun berkembang pesat. Sejumlah 97,4% pemerintah daerah bergabung dalam inisiatif Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD). Serangkaian kebijakan baru juga akan memperluas akses ke layanan keuangan digital sampai tahun 2029.
- Layanan Agentik membuka peluang baru untuk membangun kepercayaan pelanggan dan meningkatkan pendapatan. Seiring adopsi AI Agentik oleh bisnis, agen AI akan menjadi titik kontak pertama konsumen dengan jenama. Ini merupakan peluang bagi bisnis untuk memanfaatkan agen AI dalam membangun hubungan pelanggan yang terpercaya. Studi State of Service Salesforce menunjukkan 91% penyedia layanan profesional di Indonesia mengatakan kini pelanggan berharap sentuhan yang lebih personal. Agen AI otonom memungkinkan bisnis menyediakan dukungan 24 jam sehari yang hiper-personalisasi dan peka terhadap budaya lokal. Model layanan agentic-first memungkinkan hubungan pelanggan lebih dalam dan lebih loyal. Pendapatan upsell diperkirakan meningkat 25% dan kepuasan pelanggan naik sampai 30%.
- Agen AI memperkuat inklusi keuangan dengan meningkatkan akses layanan keuangan dan melayani pelanggan yang belum punya akses ke layanan perbankan. Sekitar 25% populasi dewasa di Indonesia belum terjangkau layanan perbankan. Proses rumit seperti pembukaan rekening dan pengajuan pinjaman dapat disederhanakan agen AI. Hal ini memudahkan masyarakat yang belum terbiasa terbiasa dengan perbankan tradisional untuk mengaksesnya. Agen AI membuat layanan keuangan lebih terjangkau oleh daerah-daerah terpencil dengan automasi tugas rutin dan menekan biaya operasional.
Agen AI juga bisa menata ulang proses rumit seperti penilaian kredit. Transaksi QRIS pada kuartal kedua tahun 2025 mencapai Rp317 triliun dengan 57 juta pengguna. Agen AI dapat menganalsis riwayat untuk membantu analis menilai kelayakan kredit bagi peminjam yang belum dijangkau layanan keuangan formal. Bank Indonesia mengonfirmasi bahwa analisis QRIS yang dibantu AI memudahkan UKM mengakses pinjaman sehingga memperkuat inklusi keuangan secara nasional.







