
Teknogav.com – Pelanggaran atau pelecehan melalui teknologi dapat berdampak psikologis dan sosial pada korban, mulai dari rasa trauma, sampai menutup diri. Bahaya psikologis merupakan dampak potensial terbanyak yang diakui. Terlepas dari besarnya dampak tersebut, laporan global Kaspersky mengungkapkan bahwa lebih dari 13% korban tidak mengambil tindakan sama sekali. Penyebabnya bukan ketidakpedulian, tetapi karena tidak tahu harus mencari bantuan ke mana.
Baca juga: Hampir 50% Korban Pelecehan Online Mengenal Pelakunya dalam Lingkaran Sosial
Dampak psikologis dan sosial dari pelanggaran melalui teknologi di Asia Pasifik, juga diakui 80% responden di Asia Pasifik. Namun, hanya sekitar 59% responden dari Asia Pasifik yang mengaitkannya dengan kerugian ekonomi. Jumlah responden yang menyadari risiko eskalasi fisik bahkan hanya 53%. Angka-angka tersebut menunjukkan kesenjangan dalam memahami cakupan penuh dampaknya. Kekerasan di dunia nyata dan ancaman langsung terhadap keselamatan pribadi dapat disebabkan oleh pelanggaran yang difasilitasi teknologi. Pelanggaran tersebut juga bisa menyebabkan konsekuensi kesehatan jangka panjang akibat hidup di bawah tekanan dan ketakutan berkelanjutan, Hal ini kerap diabaikan ketika pelanggaran dimulai di layar.
![]() |
| Pengaruh pelanggaran yang didukung teknologi mempengruhi korban berdasarkan studi global yang dilakukan Kaspersky tahun 2026 terhadap 772 responden dari Tiongkok, India, Malaysia dan Indonesia |
Konsekuensi pelanggaran yang difasilitasi teknologi pada kehidupan digital dan offline diakui para responden dengan persentase berikut ini:
- 55% korban di Asia Pasifik mengaku lebih berhati-hati saat online.
- 25% mengurangi kehadiran digital
- 18% membatasi komunikasi dengan teman atau keluarga
- 12% mengakhiri hubungan
- 4% melaporkan kehilangan atau meninggalkan pekerjaan
- 3% putus sekolah
Temuan dalam studi Kaspersky menunjukkan bahwa korban jarang mencari dukungan formal. Sejumlah 13% korban di Asia Pasifik yang mengalami pelanggaran tersebut tidak mengambil tindakan sama sekali. Mereka yang menyaksikan pelecehan terjadi seseorang yang mereka kenal juga cenderung tidak bertindak, 9% dari mereka tidak melakukan apa pun. Tidak proaktifnya mereka disebabkan ketidakpastian ketimbang ketidakpedulian. Secara global, 32% mengatakan tidak tahu cara membantu, dan 23% tidak yakin apakah keterlibatan mereka tepat.
Baca juga: Hati-hati, 23% Pengguna Internet Dikuntit secara Digital setelah Berkencan
“Data menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan. Orang-orang menyadari rasa sakit emosional akibat pelecehan digital tetapi masih meremehkan seberapa jauh konsekuensinya dapat menjangkau karier, pendidikan, dan hubungan di dunia nyata. Kekhawatiran yang sama adalah keheningan yang mengelilinginya. Ketika korban tidak bertindak, seringkali bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tidak tahu ke mana harus berpaling,” ucap Tatyana Shishkova, Peneliti Keamanan Utama, Pejabat Kepala Pusat Penelitian Amerika & Eropa di Tim Penelitian dan Analisis Global Kaspersky (GReAT).
Kesenjangan antara dampak emosional dan tindakan meminta bantuan tersebut berusaha diatasi Kaspersky. Hal ini diserukan dan diupayakan Kaspersky melalui kesadaran, alat yang mudah diakses dan panduan yang jelas.
“Temuan ini mencerminkan tantangan yang lebih luas yang kami lihat di seluruh penyalahgunaan yang difasilitasi teknologi: pengakuan tidak selalu diterjemahkan menjadi tindakan. Dalam penelitian terbaru kami tentang penguntitan siber, kami menemukan bahwa bentuk penguntitan daring sering dianggap tidak lebih kriminal daripada penguntitan luring, meskipun dampaknya serius. Demikian pula, penelitian persona penyalahgunaan teknologi kami menunjukkan bahwa banyak korban yang selamat belum mencari dukungan sebelum mencapai layanan spesialis, seringkali karena penyalahgunaan teknologi sulit dikenali, dinormalisasi di ruang digital, atau sulit dibuktikan. Secara keseluruhan, ini menunjukkan kesenjangan akuntabilitas yang kritis,” ucap Dr. Leonie Maria Tanczer, Profesor Associate di UCL Computer Science dan Kepala Laboratorium Penelitian Departemen Gender dan Teknologi.
Dr. Leonie Maria Tanczer juga mengungkapkan bahwa pemerintah, platform dan masyarakat luas semuanya memegang peranan penting. Namun, perubahan yang bermakna bergantung pada individu yang mengenali perilaku berbahaya, menanggapi dengan serius dan bertindak sebelum penyalahgunaan menjadi dinormalisasi atau meningkat.
Baca juga: Hati-hati, Lebih dari 31 Ribu Pengguna Smartphone Jadi Sasaran Stalkerware
“Di era digital saat ini, ruang siber telah menjadi rumah kedua – tempat kita terhubung dan berkreasi. Namun, bagi terlalu banyak orang, ruang-ruang ini juga telah berubah menjadi medan pertempuran permusuhan. Meningkatnya ancaman yang didukung teknologi adalah realitas mendesak yang harus disadari dan dihadapi. Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat pertahanan siber kita, dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif, kita dapat bekerja untuk memastikan lingkungan digital yang lebih aman bagi kita semua,” ucap Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.
Kaspersky merupakan salah satu pendiri Coalition Against Stalkerware, kelompok kerja internasional melawan stalkerware dan kekerasan dalam rumah tangga. Kelompok ini menyatukan perusahaan IT swasta, LSM, lembaga penelitian, dan lembaga penegak hukum. Mereka berkolaborasi demi memerangi penguntitan siber dan membantu korban pelecehan daring.
Tips Menghindari Pelanggaran yang Didukung Teknologi
Kaspersky memberikan beberapa tips berikut ini agar senantiasa terhindar dari pelanggaran yang didukung teknologi.
- Kenali tanda-tanda, percaya insting jika merasa ada sesuatu yang salah. Pelanggaran yang difasilitasi teknologi dapat mengambil banyak bentuk, mulai dari perilaku mengontrol dan pemantauan terus-menerus hingga pelecehan, pengucilan, atau ancaman.
- Ambil tindakan sejak dini, jangan abaikan jika mencurigai perilaku pelecehan. Dokumentasikan insiden jika memungkinkan dan minta bimbingan sebelum situasi memburuk.
- Lindungi ruang digital. Gunakan kata sandi yang kuat dan unik, aktifkan autentikasi dua faktor, dan tinjau akun dan pengaturan privasi secara rutin.
- Berhati-hatilah dengan akses. Hindari berbagi perangkat, akun, atau informasi sensitif kecuali jika diperlukan, dan perhatikan aplikasi atau izin yang memungkinkan pemantauan.
- Gunakan alat yang tepercaya. Solusi keamanan dapat membantu mengidentifikasi aktivitas mencurigakan, termasuk stalkerware, akses tidak sah, atau perangkat pelacak yang tidak dikenal.
- Cari dukungan, tidak perlu menghadapi hal ini sendirian. Hubungi individu tepercaya atau organisasi profesional jika Anda membutuhkan bantuan.
- Ketahui cara membantu orang lain, jangan berasumsi orang lain akan bertindak jika menyaksikan pelecehan. Bahkan langkah-langkah kecil seperti menanyakan kabar, menawarkan dukungan, atau mengarahkan seseorang ke sumber daya dapat membuat perbedaan
- Tetap terinformasi, kesadaran merupakan salah satu bentuk perlindungan yang paling efektif. Risiko berkembang, seiring berkembangnya lingkungan digital.
Demikianlah beberapa tips dari Kaspersky agar dapat senantiasa aman dan terhindar dari pelanggaran yang didukung oleh teknologi.







