
Teknogav.com – Film The Death of Robin Hood menampilkan sosok Robin Hood yang berbeda dengan kisah klasik yang Robin Hood. Sosok Robin Hood dalam film yang disutradarai Michael Sarnoski lebih menggambarkan sosok pria tua yang menghadapi konsekuensi hidupnya. Berbeda dengan film-film Robin Hood yang fokus pada petualangan, aksi, dan kepahlawanan, film ini menyajikan kisah yang tenang dan reflektif. Sosok Robin Hood dalam film ini bahkan menyangkal mengenai cerita kepahlawanan yang beredar mengenai dirinya yang membela rakyat miskin.

Sosok Robin Hood dalam film ini banyak bergulat dengan masa lalu yang penuh kejahatan dan pembunuhan. Saat dirinya terluka parah akibat pertempuran, dia berhasil diselamatkan dan dibawa ke biara. Di biara tersebut, Robin Hood dirawat oleh seorang biarawati, Suster Brigid (Jodie Comer) yang mendedikasikan hidupnya untuk biara tersebut. Banyak dialog mendalam antara Robin Hood dengan Suster Brigid yang juga memiliki masa lalu tragis. Saat merawat Robin Hood, Suster Brigid tidak mengenal siapa Robin Hood dan perilaku masa lalunya.
Baca juga: Film “Mother Mary” Angkat Trauma Emosional dengan Penuh Dialog Mendalam
Masa lalu Robin Hood cukup brutal, banyak kesadisan telah dilakukanya tanpa mengingat siapa saja korbannya. Namun di biara tersebut, masa lalu seseorang tidak terlalu dipertanyakan. Di biara tersebut, Robin Hood mendapatkan seorang teman pengidap lepra (Murray Bartlett) yang terlihat banyak mengetahui latar semua orang. Dia bahkan mengenal Robin Hood dan juga kisah Suster Brigid yang ternyata memiliki masa lalu yang bersimpangan dengan Robin Hood.
Dialog memang merupakan kekuatan film ini, percakapan mengenai iman, keseimbangan, penyesalan dan penebusan memberi kedalaman cerita. Film ini tidak terlalu fokus pada aksi dan kepahlawanan, tetapi lebih tertarik mengeksplorasi sosok di balik seorang Robin Hood. Lambatnya tempo dalam film ini juga turut memperkuat suasana dan refleksi.
Kendati film ini cukup suram, dengan banyak perenungan dan penyesalan dari sosok seorang Robin Hood, tetap ada selipan lelucon. Film ini tetap menampilkan sosok salah satu sahabat Robin Hood, yaitu Little John (Bill Skarsgård). Di film ini Little John mengubah namanya dan sudah berkeluarga dengan satu orang putri. Putri Little John dinamai sama dengan nama istrinya, Margaret. Trauma yang dialami Margaret dipadukan dengan kepolosannya menambah unsur emosional dalam film ini. Penampilan Robin Hood dan Little John saat menjadi penjahat brutal begitu epik.
Baca juga: Film We Bury The Dead: Alur Lambat, Penuh Simbolis Makna
Musik latar dengan suara bagpipe yang melankolis turut memperkuat emosi dan ketegangan dalam film ini. Suara-suara alami di hutan juga memperkuat keindahan alam di sekitar biara tempat Robin Hood dirawat saat luka parah. Biara tempatnya tinggal banyak menampung orang-orang yang memulai kehidupan baru tanpa mempedulikan masa lalu mereka.
Sinematografi dalam film ini banyak menampilkan keindahan latar lokasi dan memanfaatkan cahaya alami yang menyajikan atmosfer mengesankan. Pemandangan, kastil, hutan, dan latar abad pertengahan menciptakan dunia yang terasa nyata, imersif, dan autentik.

Akting para pemeran dalam film ini penuh intensitas dan kedalaman, membuat kontemplasi diri terasa nyata. Hugh Jackman dapat menampilkan seorang pria yang penuh kekurangan dan lelah yang mencari kedamaian. Interaksi manusia yang tenang menjadi momen berkesan dalam film ini ketimbang adegan dramatis yang besar. Secara keseluruhan, penampilan Hugh Jackman, Jodie Comer, Bill Skarsgård dan Murray Bartlett dalam film ini cukup mengesankan.
Baca juga: Film The Carpenter’s Son Gambarkan Pergumulan Yesus Berdasarkan Injil Thomas
Film ini memperlihatkan betapa penyesalan akan perbuatan masa lalu pasti akan dirasakan saat seseorang menjelang ajalnya. Proporsi dialog dalam film ini lebih mendominasi ketimbang adegan laga, sehingga film ini cocok bagi orang yang menyukai kontemplasi. Film ini banyak menampilkan momen-momen yang sangat emosional. The Death of Robin Hood akan tayang di bioskop Indonesia mulai Juli 2026.






