The Furious, Bongkar Gembong Perdagangan Anak dengan Mode Survival The Furious, Bongkar Gembong Perdagangan Anak dengan Mode Survival ~ Teknogav.com

The Furious, Bongkar Gembong Perdagangan Anak dengan Mode Survival



Teknogav.com – The Furious merupakan film laga dengan penuh aksi bela diri dengan intensitas emosional khas Asia Tenggara arahan sutradara Kenji Tanigaki. Bukan sekadar aksi, setiap pukulan dan tendangan terasa nyata, sehingga dapat mengekspresikan karakter masing-masing. Gerakan kamera pada film ini mengikuti tubuh aktor dengan cepat, tajam dan penuh ritme. Audio dalam film ini sangat mendukung suasana mencekam dalam film, gemuruh suara petir bagai menjadi simbol kemarahan menuju pertarungan habis-habisan.

Film The Furious mengangkat isu sosial mengenai perdagangan anak dan kebobrokan dalam instansi kepolisian melalui narasi yang menggugah empati. Betapa kekerasan sistemik dapat tumbuh dari diamnya masyarakat ditampilkan dalam film ini. Hal ini membuat seorang ayah dari putri korban penculikan harus bertindak sendiri untuk menyelamatkan anak dengan mengandalkan naluri. Penonton seolah dapat merasakan penderitaan dan perjuangan Wang Wei (Miao Xie) saat putrinya diculik dan berusaha menyelamatkannya.

photo credit: Norachai Kajchapanont/Courtesy of Lionsgate

Baca juga: The Shadow’s Edge, Ketika Pengintaian Jackie Chan Kalahkan Teknologi AI  

Misi penyelamatan yang dilakukan Wang Wei tidak mudah, karena dia sendiri memiliki keterbatasan sebagai seorang tuna wicara. Banyak tindakan dilakukan secara gegabah tanpa rencana yang matang karena takut terlambat menyelamatkan anaknya. Pertarungan di awal penculikan sangat seru, penonton bagai merasakan sendiri dari suara napas dan langkah kaki saat berlari mengejar kendaraan. Perihnya luka di kaki saat melakukan pengejaran tanpa mengenakan alas kaki seperti dapat dirasakan langsung oleh penonton.

photo credit: Norachai Kajchapanont/Courtesy of Lionsgate

Berbeda dengan Wang Wei yang gegabah, Navin (Joe Taslim) memiliki perencanaan yang matang dalam misi mencari istrinya yang hilang. Matia (JeeJa Yanin), istri Navin adalah seorang jurnalis yang sedang menyelidiki kasus perdagangan anak. Keberadaan Matia tidak diketahui setelah nekat berusaha memecahkan kasus tersebut sendirian. Navin yang mencari Matia perlu waktu dua bulan sampai berhasil melakukan infiltrasi ke dalam gembong perdagangan anak tersebut.

Baca juga: Panda Plan: The Magical Tribe, Petualangan Jackie Chan dan HuHu Menghadapi Suku Terasing  

Kekacauan yang dilakukan Wang Wei saat mengobrak-abrik gembong perdagangan anak pun membuatnya bertemu dengan Navin. Setelah itu, mereka pun berkolaborasi untuk bertarung habis-habisan dalam mode survival. Koreografi bela diri yang ditampilkan terlihat artistik sekaligus brutal. Adegan duel pun menampilkan koreografi yang seperti simfoni, memadukan berbagai seni bela diri yang berbeda.

photo credit: Norachai Kajchapanont/Courtesy of Lionsgate

Kehadiran Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam film The Furious ini juga cukup dinantikan yang ingin menyaksikan duel ulang mereka. Pada film ini, Yayan Ruhian berperan sebagai Tak yang merupakan bagian dari gembong penjahat. Tak memadukan bela diri dengan penggunaan senjata panah untuk pertarungan jarak dekat. Penampilan Joe Taslim dan Yayan Ruhian dengan karakter yang kuat begitu mengesankan, membuktikan talenta Indonesia dapat bersinar di panggung internasional. 

“The Furious digarap oleh studio luar, Edko Films dari Hongkong dan Lionsgate dari Amerika yang ingin kita rematch. Kami berdua juga merupakan penggemar Kenji Tanigaki, ketika tahu Kenji yang mengarahkan, kami tahu Kenji akan membuat ultimate action movie. Tujuannya untuk mengangkat genre action ke tingkat yang lebih tinggi. Masuk ke dunia action Hongkong cukup susah, kami bangga dapat membawa nama Indonesia. The Furious memiliki koreografi yang kompleks, bahkan menantang genre action itu sendiri,” ucap Joe Taslim, pemeran Navin.

Joe juga mengungkapkan bahwa Kenji berusaha memperkenalkan lebih banyak mengenai seni bela diri judo. Selama berkarir sekitar 20 tahun, Joe memainkan bela diri lain walau merupakan seorang atlet judo. Menurut Joe, judo bukan olahraga yang indah dilihat. Mulai dari mendekatkan diri, dan menguasai lawan tidak mudah, sehingga jarang yang bertarung dengan bela diri judo. Kenji dapat mendesain karakter Navin sebagai seorang jurnalis yang harus berjuang mati-matian dari awal sampai akhir. Gaya bertarung Navin lebih ke emosional, bukan seorang jagoan tangguh yang dapat menaklukkan lawan dengan mudah.

Baca juga: Film “Ikatan Darah” Penuh Koreografi Bela Diri dan Slasher Brutal  

Briliannya Kenji dalam menggarap The Furious juga disampaikan oleh Yayan Ruhian yang merasa diberi kebebasan dalam menampilkan aksinya.

“Senjata yang saya gunakan benar-benar unik. Panah dijadikan senjata jarak pendek untuk berantem. Saat melihat video board begitu luar biasa. Kita tahu Joe merupakan seorang pejudo kelas dunia, jadi tidak perlu diragukan lagi. Miao Xie juga seorang master wushu, juga ada Brian Le yang serba bisa menguasai segala gerakan bela diri. Jadi saat melakukan latihan koreo yang mereka buat tidak ada latihan menendang dan mukul, benar-benar latihan koreo fighting yang luar biasa,” ucap Yayan.

The Furious mengusung seruan moral yang menyampaikan pesan sosial relevan dan menggugah kesadaran. Bela diri dalam film ini tak sekadar teknik bertarung, tetapi juga bahasa tubuh yang mengekspresikan moralitas dan amarah. Gerakan tajam dan penuh kontrol membuat setiap pukulan terasa memiliki makna emosional yang mengandung perlawanan terhadap ketidak adilan. Kebisuan Wang Wei justru memperkuat akting Miao Xie dengan ekspresi diam dan tatapan mengandung dendam.

Pertarungan tidak hanya menampilkan pukulan demi pukulan, tetapi juga menggunakan benda-benda di sekitar. Palu, martil, tangga, lemari, sepeda, busur panah, dan banyak lagi benda lainnya. Setiap karakter yang bertarung dapat saling bereaksi, berganti gerakan secara mulus di setiap adegan tanpa ada yang ditutupi. The Furious terasa sangat luar biasa, bukan karena ceritanya baru, tetapi karena dapat menyampaikan tanpa harus banyak menjelaskan.

Kenji Tanigaki berhasil membuat setiap aktor bermain dengan tubuhnya sebagai alat naratif. Bela diri bukan sekadar aksi, tapi cara karakter berbicara tanpa kata. Ketika petir menyambar dan suara hujan menutup dialog, ekspresi wajah dan gerak tubuh menjadi bahasa yang tersisa. Secara keseluruhan, The Furious memadukan akting dan bela diri menjadi puisi kekerasan dan keadilan, menjadikan setiap gerakan sebagai kalimat. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia mulai 17 Juni 2026.

Share:

Artikel Terkini