Film Dokumenter Ashin Jinarakkhita, Perjuangan Membangkitkan Tradisi Buddhisme di Indonesia Film Dokumenter Ashin Jinarakkhita, Perjuangan Membangkitkan Tradisi Buddhisme di Indonesia ~ Teknogav.com

Film Dokumenter Ashin Jinarakkhita, Perjuangan Membangkitkan Tradisi Buddhisme di Indonesia



Teknogav.com – Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) mempersembahkan film dokumenter Ashin Jinarakkhita. Ashin Jinarakkhita adalah biksu Indonesia pertama sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit. Beliau merupakan tokoh penting yang menghidupkan kembali agama Buddha di Indonesia. Perjalanan hidup dan jasa beliau dalam sejarah agama Buddha di Indonesia ditampilkan dalam film dokumenter Ashin Jinarakkhita. Pemutaran film ini biasanya digelar di bioskop pada acara-acara yang diselenggarakan organisasi-organisasi Buddhis.

Film dokumenter berjudul “Y.M. MNS. Ashin Jinarakkhita, Mahasthavira: Jejak Langkah Sang Pelopor di Nusantara” ini merupakan produksi dari Acierto Visuals. Harapannya, film ini dapat menghidupkan kembali semangat Buddhayana dengan menelusuri perjalanan, perjuangan, dan warisan pemikiran tokoh pelopor Buddhayana di Indonesia. Penayangan perdana film ini dilangsungkan pada 18 April 2026 dalam rangka memperingati 67 tahun SAGIN. Belum lama ini, film ini juga diputar pada peringatan ulang tahun ke-71 MBI yang digelar 5 Juli 2026. 

Baca juga: Film ‘The Smashing Machine’, Angkat Kisah Nyata Perjuangan Petarung Legendaris

Ashin Jinarakkhita dilahirkan di Bogor pada tahun 1923 dengan nama Tee Boan An dan wafat pada tahun 2002. Sejak kecil, beliau adalah seorang vegetarian dan memegang teguh prinsip-prinsip luhur untuk tidak melakukan perbuatan buruk seperti mencuri. Semangat pengabdiannya bahkan terlihat saat tidak terima dengan perlakuan ayahnya yang tidak segera membantu mengurus keperluan orang yang ke rumahnya.

Setelah berabad-abad agama Buddha hampir tak terdengar di Nusantara, beliau merupakan biksu pertama yang ditahbiskan di Indonesia. Dokumenter ini menampilkan biografi dan dampak nyata perjuangan beliau dalam membangkitkan kembali tradisi Buddhis di tanah air. Sanghyang Adi Buddha diperkenalkan Ashin Jinarakkhita sebagai konsep Ketuhanan dalam agama Buddha sehingga agama Buddha diakui secara resmi di Republik Indonesia. Konsep yang diperkenalkan tersebut menjadikan Ashin Jinarakkhita sebagai tokoh sentral dalam memperjuangkan pengakuan resmi agama Buddha oleh pemerintah Indonesia.

Ashin Jinarakkhita yang biasa dipanggil Sukong juga membina generasi awal biksu dan umat Buddha di Indonesia. Penyelenggaraan upacara Tri Suci Waisak secara nasional di Candi Borobudur juga merupakan gagasan brilian yang dicetuskan oleh Sukong. Acara tersebut pun digelar pada 22 Mei 1953 dan mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan. Ini merupakan momen penting tanda kebangkitan agama Buddha di Indonesia sehingga masyarakat menyadari keberadaan agama Buddha dan penganutnya di Indonesia.

Baca juga: Film “Glenn Fredly The Movie” Kisahkan Cinta, Musik dan Keluarga

Penggarapan film dokumenter Ashin Jinarakkhita dilakukan oleh para sineas muda yang fokus pada film sejarah dan spiritualistas. Para narasumber dalam film dokumenter ini mencakup murid-murid Ashin Jinarakkhita, sejarawan agama dan budaya, serta keluarga dan kerabat. Pada film ini juga diungkapkan percakapan Sukong dengan Dalai Lama. Ketika Dalai Lama bertanya kepadanya mengenai aliran Buddha apa yang dianutnya, Sukong menjawab “Saya adalah pelayan Buddha.”

Film ini mengajak mengenal kembali jejak sejarah Buddhayana, sekaligus memahami nilai-nilai perjuangan yang diwariskan kepada generasi penerus. Sebelumnya, film ini juga telah ditayangkan pada 9 Mei 2026 dan mendapat antusiasme yang tinggi. Sambutan positif tersebut mendorong keluarga besar Buddhayana untuk menghadirkan nonton bareng secara serentak diberbagai wilayah. Pemutaran tersebut diharapkan menjangkau lebih banyak umat untuk menyaksikan kisah perjuangan tokoh yang berperan besar pada kebangkitan Buddhisme di Indonesia.

Gaya penceritaan dalam film dokumenter ini memadukan adegan reka ulang, animasi, narasi dari para narasumber dan dokumentasi video beliau. Visual dokumenter cukup kuat dengan penggunaan arsip foto, rekaman lama, serta rekaman vihara dan kegiatan umat Buddha. Mungkin akan lebih menarik jika ada lebih banyak adegan reka ulang atau dramatisasi yang menghidupkan kembali suasana masa lalu. Kualitas audio pada film dokumenter ini juga agak kurang konsisten yang mengakibatkan suara narasumber terdengar kurang seimbang dengan musik latar.

Baca juga: Audio Film Ferarri Gunakan Mikrofon Sennheiser untuk Hasilkan Suara Autentik

Film dokumenter Ashin Jinarakkhita ini akan disosialisasikan secara luas dengan penayangan di bioskop-bioskop pada acara yang diprakarsai MBI dan SAGIN. Setelah itu, film dokumenter ini juga akan diputar di vihara-vihara di daerah yang masyarakatnya tidak terjangkau bioskop. Nantinya, film dokumenter Ashin Jinarakkhita juga akan ditayangkan di channel YouTube Buddhayana TV. Penayangan tersebut akan dijadwalkan oleh MBI Pusat. Harapannya, film ini juga dapat diperluas ke plaform digital agar bisa diakses masyarakat luas, bukan hanya komunitas Buddhis.


Pemutaran film dokumenter yang digelar pada 5 Juli 2026 merupakan salah satu rangkaian peringatan HUT ke-71 MBI, HUT ke-53 WBI, dan HUT ke-45 Sekber PMVB. Nonton bareng yang juga diselenggarakan di berbagai daerah diharapkan kian mempererat kebersamaan dan memperkuat sinergi antar-generasi dalam keluarga besar Buddhayana Indonesia.

“Peringatan hari ulang tahun bersama ini menjadi momentum untuk meneladani nilai-nilai perjuangan Y.A. MNS Ashin Jinarakkhita sekaligus memperkuat komitmen dalam melestarikan sejarah dan nilai-nilai luhur Buddhayana. Film ini diharapkan dapat memberikan inspirasi serta nilai-nilai yang berdampak, khususnya bagi generasi muda," ucap Amin Untario, Ketua Umum PP MBI, Amin Untario.


Share:

Artikel Terkini