Chatbot AI dan Robot Seks Jadi Solusi Pengusir Kesepian? Chatbot AI dan Robot Seks Jadi Solusi Pengusir Kesepian? ~ Teknogav.com

Chatbot AI dan Robot Seks Jadi Solusi Pengusir Kesepian?

Teknogav.com – Pandemi COVID-19 masih melanda, masyarakat di seluruh dunia pun dianjurkan untuk lebih menghabiskan waktu di rumah saja demi mencegah penularan. Berbagai kegiatan sehari-hari pun beralih ke digital, segala interaksi dilakukan secara virtual, baik bekerja maupun belajar. Tentu saja hal ini membuat perayaan Valentine menjadi sedikit berbeda, walau pencarian jodoh secara virtual bukan hal yang baru. Kini ada juga gagasan mengenai peran kecerdasan buatan dalam suatu hubungan. Mungkinkan manusia memiliki hubungan spesial dengan AI layaknya film ‘Her’ dan ‘Ex Machina’?

Forbes pada tahun 2018 telah mendeskripsikan robot seks sebagai teknologi disruptif yang kehadirannya tak diduga. Selain itu diprediksi juga bahwa di masa depan, robot dalam berbagai bentuk dan ukuran akan menjadi teman akrab. Lalu pada tahun 2019 The Atlantic pun menyatakan keprihatinan mengenai potensi hubungan manusia yang tak manusiawi akibat tren tersebut.

Baca juga: Kaspersky Paparkan Dampak Kegiatan Media Sosial pada Ekonomi Asia Pasifik

Ketika pandemi merebak di tahun 2020, pengembangan teknologi robot seks pun dikembangkan lebih lanjut. Alasan penggunaannya pun ditelaah secara psikologis.Chatbot AI pun bermunculan, diantaranya adalah Xipice dan Replika. Hubungan dengan AI yang sebelumnya tak lazim pun menjadi alternatif di masa pandemi. Penggunaan AI, robot dan hubungan virtual benar-benar sedang berada di puncaknya seiring dengan penerapan physical distancing untuk mencegah penularan COVID-19.


Tren Kebangkitan AI

Kaspersky pun memantau momentum kebangkitan AI dalam memenuhi kebutuhan manusia akan hubungan digital. Nilai kebangkitan AI sebagai entitas manusia ditunjukkan laporan “From science fiction to modern reality: Examining Gender in AI’. Laporan tersebut diluncurkan pertama kali pada Oktober 2019 oleh Kaspersky. Pada laporan tersebut Kaspersky nenunjukkan cara AI mewujudkan diri dalam dialog, komunikasi dan interaksi sistem. AI tak lagi sekadar alat pendukung untuk meningkatkan proses dan kinerja manusia dalam industri. 

Baca juga: Tips Kaspersky Amankan Sistem Kendali Industri dari Serangan Siber 


Suara perempuan biasanya digunakan untuk suara navigasi satelit, aplikasi chatbot, speaker pintar dan asisten suara. Pemrograman suara tersebut dilakukan untuk berinteraksi sesuai permintaan dengan penggunanya. Sejumlah bias gender pun terungkap yang biasanya berasal dari preferensi atau prasangka pembuatnya. Kesadaran pun muncul bahwa sistem AI, mesin dan robot bisa mengadopsi gender. AI tak lagi menjadi blok perangkat keras dan algoritma untuk menyediakan solusi. Suara AI yang bisa dikenali, mirip dengan hubungan antarmanusia.

 Baca juga:

Data Kaspersky pada kampanye ‘Love and Loneliness’ menunjukkan bahwa 84% orang di Eropa mengakui lebih kesepian saat pandemi. Kondisi tersebut karena mereka tak bisa melihat keluarga, teman dan kolega. Kontak manusia yang semakin terpisah ini menyebabkan banyak orang menghabiskan sebagian besar waktu menggunakan teknologi. Mereka mencakup 64% orang berusia 18-24 tahun dan 66% orang berusia 25-35 tahun. Teknologi tersebut digunakan untuk panggilan video, kencan online, game online, chatbot, bahkan percakapan dengan asisten virtual seperti Alexa. Semua kegiatan tersebut lazim dilakukan untuk mengurangi rasa sepi.

Pergumulan tersebut paling dialami oleh para generasi Z dan milenial, karena kebiasaan melakukan pertemuan sosial dan kencan harus terhenti. Kelompok tersebut juga paling berpotensi menjajal inovasi dan teknologi baru. Kini kemungkinan mereka mempercepat pergeseran dalam sektor hubungan.


Penerapan AI Sebagai Teman

Saat ini penerapan physical distancing dan membatasi untuk keluar rumah masih diberlakukan. Sejak pandemi berlangsung masyarakat pun lebih akrab, percaya diri, andal dan kreatif dengan teknologi dan aplikasi yang digunakan. Ketika kesepian melanda, wajar dan bisa dipahami untuk menyimpulkan bahwa gagasan kenyamanan, teman atau AI sudah tidak aneh lagi. Peningkatan kualitas hubungan dengan  AI dan robot mungkin saja tak cocok bagi semua orang  Nah, demi mencegah scam, phishing, malware, perlindungan data, VPN atau efektivitas data, maka perlu adanya edukasi mengenai hal tersebut. Edukasi ini dilakukan agar orang tetap aman dalam hubungan baru antara manusia dengan mesin.

Share:

Artikel Terkini

Follow by Email