Indonesiaku AWSome Dukung Mahasiswa Ciptakan Solusi dengan Kolaborasi Lintas Ilmu Indonesiaku AWSome Dukung Mahasiswa Ciptakan Solusi dengan Kolaborasi Lintas Ilmu ~ Teknogav.com

Indonesiaku AWSome Dukung Mahasiswa Ciptakan Solusi dengan Kolaborasi Lintas Ilmu


Teknogav.com – AWS dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) telah banyak melakukan kerja sama teknologi dan pengembangan talenta digital. Hal ini dilakukan demi mempercepat transformasi digital di Indonesia, termasuk di lembaga pemerintahan yang memberikan pelayanan bagi masyarakat. Salah satu program yang mendukung mahasiswa dan mahasiswi untuk dapat berinovasi menciptakan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat adalah Indonesiaku AWSome!

Pemerintah dituntut untuk menempatkan pelatihan kecakapan digital sebagai prioritas, seiring dengan pesatnya transformasi digital. Hal ini karena kecakapan digital merupakan kunci bagi angkatan kerja masa depan untuk memaksimalkan potensi cloud. Kolaborasi yang erat antara sektor publik dan swasta dibutuhkan untuk dapat memenuhi permintaan tenaga kerja terampil digital. 

Baca juga: AWS Asah Keterampilan Digital Siswa-siswi Penyandang Disabilitas dengan C4

Mohammad Ghozie Indra Dalel, Country Manager Worldwide Public Sector Indonesia

"Dalam mencapai visi Indonesia 2045,  untuk mencapai kemampuan ekonomi di dunia, maka penting untuk mengembangkan talenta digital. Berdasarkan riset Bank Dunia terdapat kebutuhan 9 juta talenta digital selama kurun waktu 2015-2030, ini berarti ada kebutuhan rata-rata 600 ribu talenta digital setiap tahun. AWS bekerja sama erat dengan pemerintah untuk mendukung perkembangan sektor publik  yang mencakup Kampus Merdeka, program magang, studi independen bersertifikat dan program Kedaireka," ucap Mohammad Ghozie Indra Dalel, Country Manager Worldwide Public Sector Indonesia.

Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbud Ristek Republik Indonesia mengungkapkan bahwa transformasi digital di Indonesia merupakan salah satu yang tercepat di dunia. Saat ini pengguna internet di Indonesia sudah mencapai lebih dari 200 juta pengguna. Suatu data mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia menggunakan internet lebih dari 8 jam sehari. Penggunaan teknologi digital untuk bisnis di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia penetrasinya. Startup digital Indonesia juga menempati peringkat kelima tertinggi di dunia. 

Baca juga: AWS Asia Pacific (Jakarta) Region Dukung Pemberdayaan Developer Lokal

Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbud Ristek Republik Indonesia

“Ini menunjukkan bahwa teknologi digital menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan lompatan-lompatan besar, sehingga penting bagi kita untuk memastikan anak-anak kita memiliki literasi terhadap teknologi digital, tidak hanya sebagai pengguna juga sebagai bagian dari kreator. Maka dari itu kita bergandengan tangan dengan seluruh mitra pemain teknologi global seperti AWS agar mereka berada di garis depan dalam perkembangan teknologi yang mencakup AI, IoT, analitik big data, cloud computing, cloud service dan sebagainya," ucap Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D.

Menurut Prof. Ir. Nizam, kreativitas anak-anak zaman sekarang sangat luar biasa. Jika kreativitas tersebut dipadukan dengan teknologi akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat di masa depan. Peluang tersebut tidak dapat dilewatkan begitu saja, sehingga perlu menyiapkan para mahasiswa untuk menjadi bagian dari kreator, tidak hanya sebagai pengguna tetapi juga yang mendapat manfaat secara ekonomi dari teknologi ini.

Sebagai bagian dari transformasi di Kemendikbud Ristek adalah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan layanan  bagi semua pemangku kepentingan. Dirjen Dikti menyelenggarakan layanan bagi 4.500an perguruan tinggi di tanah air, bagi 9 juta mahasiswa, 300 ribu dosen. Ini merupakan angka yang sangat banyak, sehingga harus mengandalkan teknologi informasi.  Saat ini perlu untuk memastikan layanan itu tersedia 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 365 hari per tahun tanpa interupsi. Solusinya adalah dengan menggunakan cloud untuk memastikan layanan aman, tersedia di semua titik bagi mahasiswa, dosen, perguruan tinggi dan masyarakat. 

Baca juga: Orbit Future Academy Sediakan Pelatihan Cloud Computing “AWS re/Start” Gratis

Dirjen Diktiristek mengelola data cukup besar secara nasional dengan 9 juta mahasiswa dan setiap transaksional kerja dosen pun terekam.  Data yang sangat besar dapat diolah menjadi informasi untuk manajemen perguruan tinggi, manajemen talenta, perencanaan maupun pengelolaan sistem secara nasional. Semuanya didasarkan pada basis data Dirjen riset dan teknologi melalui pengelolaan data Dikti. 

Antarmuka dengan penggunanya ada berbagai macam, salah satunya SIAGA (Sistem Informasi Kelembagaan) yang merupakan layanan kelembagaan bagi perguruan-perguruan tinggi. Layanan ini dapat digunakan untuk membuka program studi, memantau kejenuhan program studi dan sebagainya. Selain itu ada SINTA untuk melihat kinerja akademik dosen, dan ada juga ARJUNA. Dirjen Diktiriset banyak mengembangkan penyediaan layanan  ke masyarakat dengan berbasis sistem cloud sehingga bisa memastikan ketersediaan akses dan mengurangi downtime. Teknologi informasi juga memperluas kesempatan untuk berbagi dengan menyediakan platform SPADA sebagai repositori nasional perkuliahan. Platform ini telah menyediakan ribuan materi kuliah yang bisa diakses seluruh mahasiswa dan dosen.

Pemerintah Indonesia mendukung inisiatif pengembangan bisnis strategis Social Economic Accelerator Lab (SEAL) untuk mempercepat digitalisasi di berbagai sektor. AWS bermitra dengan SEAL meluncurkan program lima bulan Indonesiaku AWSome pada Februari 2022. Program Indonesiaku AWSome ini memberikan pendidikan menyeluruh mengenai teknologi cloud. Teknologi-teknologi tersebut mencakup analisis data, serta Kecerdasan Buatan (AI) dan Pembelajaran Mesin (ML).

Salah satu peserta program Indonesiaku AWSome adalah Isda Magfirah, seorang mahasiswi Universitas Brawijaya yang mengambil jurusan Ilmu Politik. Ketertarikan Isda pada program Indonesiaku AWSome karena menggambarkan kolaborasi dari ilmu politik dan ilmu teknologi. Menurutnya ini merupakan peluang untuk mengembangkan potensi.  

Isda Magfirah, seorang mahasiswi Universitas Brawijaya yang mengambil jurusan Ilmu Politik

“Awalnya saya pusing menerima mata kuliah teknologi karena biasanya mereview buku-buku bertema politik. Ketika bergabung di Indonesiaku AWSome ternyata banyak belajar dan saling berbagi dengan teman-teman dari berbagai kampus dan jurusan di Indonesia untuk berkolaborasi. Hal yang diperoleh simpel tapi dalam. Saya mempelajari cara berpikir kreatif, bagaimana memandang masalah dengan empati, mendefinisikan dengan mengeksplorasi masalah sehingga dapat membuat solusi yang benar-benar memecahkan masalah publik,” ucap Isda.

Isda mengungkapkan bahwa dalam program Indonesiaku AWSome, peserta akan mendapatkan ilmu yang mencakup berbagai bidang, baik teknologi, maupun politik. Dalam program tersebut, suatu kelompok dibagi dalam tim bisnis dan tim teknis. Isda masuk dalam tim bisnis yang duduk bersama dengan dinas pemerintahan untuk mendefinisikan dan mengeksplorasi permasalahan yang ada. Menurutnya, transformasi digital bukanlah sekadar analog jadi digital, tapi bagaimana digitalisasi dapat menjawab permasalahan-permasalahan publik sehingga memberikan kepuasan masyarakat.

Dalam kelompok yang berjumlah 10 orang, Isda ditempatkan di Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang. Malang sendiri terkenal dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup masif yang juga ditopang dengan UMKM. Sayangnya Diskopindag yang menaungi perekonomian di kota Malang ini masih ada kendala di pendataan UMKM. Adanya pendataan UMKM secara manual oleh surveyor yang masih menggunakan kertas terkadang mengakibatkan data tidak update, ganda, atau bahkan hilang. 

Diskopindag sudah memiliki website yang bisa diakses masyarakat, sehingga Isda dan kelompoknya menambahkan fitur pada pendataan UMKM pada website tersebut. Tim teknis mengimplementasikan solusi AWS untuk menambah fitur tersebut, yaitu menggunakan Amazon EC2 untuk database relational yang dihubungkan dengan server yang prosesnya menggunakan MySQL.

"Saya ke depannya ingin sekali berkontribusi dalam bidang pendidikan Indonesia di mana dalam pengembangan diri saya itu saya banyak mengalami perkembangan mindset. Menurut saya permasalahan dalam pendidikan Indonesia sangat krusial mulai dari tataran inputnya, prosesnya sampai outputnya, mulai dari pemerataan pendidikan, mutu pendidikan dan relevansi pendidikan. Jadi dengan adanya kolaborasi sebagai bagian yang pasti di bawah naungan kampus Merdeka Kemendikbud dan program Indonesiaku AWSome menurut saya dapat menjawab permasalahan pendidikan di Indonesia. Saya juga mengutip Nelson Mandela 'Pendidikan adalah Senjata Paling Mematikan'," pungkas Isda.

Prof. Nizam mengatakan bahwa kerja sama antara Kemendikbud Ristek dengan AWS perlu dikembangkan lebih intensif. Upaya ini penting agar berdampak tak hanya sekadar pengetahuan tetapi juga sampai kompetensi sehingga dapat menggunakan teknologi sebagai solusi.  Agar hal tersebut dapat memberikan dampak, maka harus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, yang mencakup mahasiswa, dosen, dunia usaha, dunia industri, pemerintah daerah, masyarakat secara luas. 

“Program Indonesiaku AWSome penting karena bisa betul-betul bisa melatih mahasiswa untuk melakukan pemecahan masalah menggunakan teknologi secara kolaboratif lintas keilmuan. Hal ini memungkinkan mahasiwa dengan latar belakang ilmu sosial politik, ekonomi dan teknologi dapat berkolaborasi sehingga dapat memberikan solusi. Misalnya bagi pembangunan di daerah, memberikan layanan di daerah dengan teknologi, membangun smart village, smart kecamatan, sehingga tak hanya menjadi pengguna atau konsumen teknologi tetapi juga menggunakan teknolgi untuk memberikan solusi bagi masyarakat,” ucap Prof. Nizam.

Indonesiaku AWSome diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, dosen dan juga masyarakat. Saat ini, AWSome sudah memfokuskan pada smart government, tentu baik untuk berkolaborasi dengan semua pemerintah daerah. Hal tersebut memungkinkan setiap daerah dapat membangun smart city yang sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, ekonomi baru dan wiraswasta baru. 

"Nantinya para mahasiswa yang telah mengikuti Indonesiaku AWSome bisa menjadi pendiri startup atau bekerja di pemerintah daerah, BUMD dan sebagainya. Pengganda inilah yang diharapkan akan tercipta. Jadi kita harus membangun ekosistem agar dapat menghasilkan talenta yang bermakna bagi masyarakat, dirinya dan kemajuan bangsa," tutup Prof. Nizam.

Share:

Artikel Terkini