Startup Lokal Manfaatkan Solusi AWS untuk Lestarikan Bumi Startup Lokal Manfaatkan Solusi AWS untuk Lestarikan Bumi ~ Teknogav.com

Startup Lokal Manfaatkan Solusi AWS untuk Lestarikan Bumi


Teknogav.com – Pelestarian lingkungan hidup dan masalah perubahan iklim telah menjadi perhatian saat ini. Forum G20 yang diselenggarakan di Bali tahun 2022 pun akan membahas perubahan iklim dan transisi terbarukan. Pentingnya masalah tersebut juga mendorong perusahaan rintisan atau startup lokal untuk berperan mewujudkan Indonesia hijau dan netral karbon. Beberapa di antaranya adalah Reskosistem dan Nafas yang memanfaatkan teknologi cloud untuk memberikan solusi pelestarian lingkungan.

Rekosistem merupakan startup yang menyediakan solusi zero waste management atau pengelolaan nol limbah. Sedangkan Nafas merupakan startup yang mengembangkan solusi pemantauan kualitas udara. Kedua pendiri startup tersebut turut hadir dalam diskusi Media Briefing yang diselenggarakan Amazon Web Services (AWS).  Berikut ini adalah para narasumber yang berbagi informasi mengenai pemanfaatan teknologi cloud AWS oleh startup lokal dalam melestarikan lingkungan:

  • Ken Haig, Head of Energy Policy for Asia Pacific & Japan at AWS
  • Ernest Christian Layman, Co-Founder & CEO Rekosistem
  • Nathan Rustandi, Co-Founder & CEO Nafas

Baca juga: Solusi Teknologi Huawei Dukung Indonesia Atasi Masalah Pemanasan Global

Para narasumber tersebut memaparkan mengenai cara pemanfaatan teknologi untuk membuat perubahan yang berarti di masyarakat. Dampak kegiatan manusia terhadap perubahan Iklim juga diharapkan dapat dikurangi. startup yang bergerak di bidang clean-tech dapat menjadi kunci pengembangan inovasi yang turut memajukan taraf hidup, kesehatan dan kesejahteraan umum. Harapannya startup di bidang clean-tech ini dapat memenuhi peningkatan kebutuhan dan kesadaran akan environmental, social, governance (ESG) di masyarakat. 

Ken Haig juga berbagi informasi mengenai kontribusi AWS terhadap keberlanjutan dan ekonomi hijau di Indonesia. Salah satu kontribusi tersebut adalah proyek water.org yang dapat meningkatkan taraf hidup lebih dari 50 ribu penduduk Indonesia

Cara Rekosistem Mengelola Limbah

Rekosistem didirkan tahun 2021, startup ini menyediakan platform untuk mengumpulkan dan mengolah data untuk dimanfaatkan pada proses daur ulang. Data tersebut digunakan Rekosistem untuk menyesuaikan jenis limbah dengan tempat pengelolaan limbah yang ideal secara mudah dan cepat. Proses dengan menggunakan data tersebut dapat meningkatkan efisiensi sampai 20%.

Selama tahun 2021, Rekosistem telah menganalisis lebih dari 2.000 metrik ton limbah dari 11 ribu rumah tangga dan tempat-tempat komersil. Peningkatan pendapatan pun mencapai 30%, sehingga menunjukkan peluang bagi startup clean-tech untuk meraup keuntungan sambil berbuat kebaikan bagi masyarakat.

Ernest Christian Layman, Co-Founder & CEO Rekosistem

“Laju pembangunan ekonomi yang tinggi, membuat daya beli masyarakat semakin tinggi pula. Akibatnya, kami melihat limbah domestik menjadi masalah yang serius, ditambah dengan pandemi COVID-19 yang memaksa masyarakat untuk berdiam di rumah,” ucap Ernest.

Penggunaan teknologi cloud dan machine learning AWS pun memampukan Rekosistem merambah operasional baru dan meningkatkan skala dengan sangat cepat. Solusi AWS yang digunakan Rekosistem mencakup Amazon EC2 untuk komputasi, Amazon RDS untuk database dan Amazon SageMaker untuk machine learning.

Rekosistem pun mengikuti program AWS Activate sehingga tak perlu memikirkan biaya dan dapat berinvestasi pada talenta-talenta dan SDM mumpuni bagi kelangsungan perusahaan. Program AWS Activate merupakan inisiatif AWS yang ditujukan khusus bagi startup. Sejak 2013, ratusan ribu startup di seluruh dunia sudah  menerima berbagai manfaat dari program AWS Activate. Beberapa manfaat tersebut mencakup credit AWS, dukungan teknis dan pelatihan.

Nafas Dukung Peningkatan Kualitas Udara

Nathan terinspirasi membangun startup Nafas setelah jalan-jalan di Tiongkok. Menurutnya kualitas udara sangat mempengaruhi tingkat kesehatan publik, sayangnya kesadaran masyarakat masih rendah akan hal tersebut. Nafas pun memberikan solusi agar orang makin cermat dalam mengatur kegiatan sehari-hari mereka. Solusi tersebut berupa pemantauan kualitas udara dan pengolahan data untuk dapat dianalisis oleh pihak asuransi dan penyedia layanan kesehatan. 

Baca juga: Xiaomi Kembangkan Smart Mask yang Bisa Rekam Kualitas Udara

Nathan Rustandi, Co-Founder & CEO Nafas

“Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Akses terhadap data merupakan kunci terjadinya perubahan kebiasaan yang dapat mendorong kesadaran akan kesehatan preventif. Tujuannya adalah memahami risiko-risiko penyakit terbaru dan korelasi antara kualitas udara dan kesehatan. Tanpa AWS, kami mungkin saja membutuhkan 8-12 bulan tambahan untuk menyelesaikan perangkat keras Nafas, yang proses manufakturnya terdisrupsi akibat pandemi,” ucap Nathan.

Nafas menggunakan Solusi AWS IoT untuk mengumpulkan dan menganalisis lebih dari 5,5 juta datapoints dengan jarak lebih dari 220 km. Datapoints tersebut mencakup jenis gas, partikel di udara dan lain-lain. Solusi Nafas memungkinkan pengguna menghirup lebih dari 2 juta jam udara bersih sesuai standar WHO secara keseluruhan. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 70 ribu hari.

Peran Perusahaan Teknologi dalam Pembangunan Berkelanjutan

Rekosistem dan Nafas mengunakan teknologi cloud yang disediakan AWS. Salah satu pilar AWS adalah menjadikan keberlanjutan, bahkan perusahaan induk AWS, yaitu Amazon.com turut memprakarsai inisiatif The Climate Pledge. Inisiatif tersebut berusaha mendukung terwujudnya netralitas karbon pada tahun 2040. Target tersebut lebih awal 10 tahun dibandingkan target besar Paris Agreement. AWS juga berupaya menggunakan 100% energi terbarukan pada tahun 2025 melalui The Climate Pledge.

Hasil penelitian 451 Research dan AWS tahun 2021 menunjukkan penggunaan infrastruktur cloud dapat menghemat energi sampai hampir lima kali lipat. Penghematan tersebut setara dengan hampir 80% lebih efisien. AWS Asia Pacific (Jakarta) Region) pun menerapkan data center yang ramah lingkungan. data center ini menggunakan material rendah karbon, teknologi pendingin, chip dan pasokan daya yang cerdas dan efisien.

Baca juga: Green Data Center Day Dorong Pembangunan Data Center Ramah Lingkungan

penggunaan data center AWS lima kali lebih hemat energi dibandingkan on-premises

AWS juga merancang chip Graviton3 yang 60% lebih efisien dibandingkan pendahulunya, Graviton2. Catu daya yang digunakan AWS pun sudah menggunakan uninterrupted power supply (UPS) dengan baterai dan sensor untuk membatasi konsumsi energi. UPS tersebut juga mencegah pengurangan kapasitas dalam proses konversi daya. Pelanggan AWS juga dapat memantau jejak karbon melalui dasbor AWS Customer Carbon Footprint Tool. Setiap bulan, AWS memberikan laporan mengenai karbon yang dikeluarkan beban kerja dan penggunaan infrastruktur mereka.

“Kami juga tengah mengerjakan lebih dari 300 proyek di seluruh dunia. Di Indonesia, kami bekerja sama dengan Clean Energy Investment Accelerator untuk menyediakan alternatif sumber energi terbarukan yang kian terjangkau. Energi terbarukan ini tersedia bagi pembeli di kalangan perusahaan dan korporasi,” ucap Ken Haig.

Ken Haig, Head of Energy Policy for Asia Pacific & Japan at AWS

Sistem pendingina data center AWS pun menggunakan air hasil daur ulang. Selain itu AWS bekerja sama dengan water.org untuk meningkatkan akses air bersih di Indonesia. Water.org bermitra dengan PERPAMSI (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia) untuk membantu masyarakat mendapatkan air bersih. Dukungan tersebut diberikan dengan menghubungkan rumah masyarakat langsung dengan infrastruktur PDAM, sehingga tidak perlu berjam-jam mencari dan menimba air.

“Bekerja sama dengan organisasi lokal, kami telah menghadirkan manfaat bagi lebih dari 35 ribu penduduk Indonesia secara langsung, serta 400 ribu orang secara tidak langsung,” ucap Will Heyes, Global Lead for Water Sustainability, AWS.

Share:

Artikel Terkini